Pilwali Surabaya 2020, Whisnu ‘Dikepung’ dari 4 Penjuru

(Dari kiri) Bayu Airlangga, Fandi Utomo, Whisnu S Buana, Bambang DH dan Risma. | Foto: Barometerjatim.com/Ist

Sandang kandidat terkuat di Pilwali Surabaya 2020. Andai maju, Whisnu bakal ‘dikepung’ dari empat penjuru.

PETA politik menuju Pilwali Surabaya 2020 mulai terang pasca rilis hasil survei Surabaya Survey Center (SSC). Terutama menyangkut posisi para kandidat.

Dari hasil survei SSC periode 20-31 Desember 2018, Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana mencatat elektabilitas tertinggi: 15,4 persen. Disusul mantan Cawagub Jatim, Puti Guntur Soekarno (15,1 persen).

Tapi dari hasil survei SSC pula terpapar, andai Whisnu declare maju, maka politikus yang juga ketua DPC PDIP Surabaya itu bakal ‘dikepung’ sedikitnya dari empat penjuru, baik internal maupun eksternal PDIP.

Mengapa demikian? Sebelumnya, pengamat politik Airlangga Pribadi Kusman menyebut, proses politik pencalonan wali kota 2020 pasca Tri Rismaharini (Risma) di internal PDIP bakal sangat dinamis.

Airlangga memprediksi, masukan dari tiga faksi kuat akan menjadi pertimbangan Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri dalam membuat keputusan final dan mengikat, terkait siapa bakal calon yang akan diusung.

Tiga faksi yang dimaksud Angga — sapaan Airlangga Pribadi Kusman — yakni faksi Whisnu, Bambang DH (ketua Badan Pemenangan Pemilu/Bappilu DPP PDIP), serta Risma (wali kota Surabaya saat ini).

Bambang DH dinilai strategis karena posisinya sebagai ketua Bappilu. Begitu pula Risma, dinilai tetap menjadi faktor di Pilwali 2020. Temuan survei SSC: 9 persen responden masih berpikir pilihan Risma itulah yang akan dipilih atau dianggap terbaik.

Selain dua penjuru di internal, Whisnu juga bakal mendapat perlawanan dari dua penjuru lain di eksternal PDIP. Temuan SSC, tokoh-tokoh politik tradisional, di antaranya Fandi Utomo dan Adies Kadir, masih membayangi Whisnu.

Soal elektabilitas, memang, keduanya masih jauh di bawah Whisnu. Tapi pengalaman dan jejaring para tokoh tradisional ini berpotensi menggerus dukungan suara calon lawannya. Apalagi Pilwali masih dua tahun lagi. Khusus Fandi, politikus PKB itu disebut-sebut paling siap soal logistik.

Sedangkan penjuru kedua, yakni barisan sosok muda dan milenial. Di penjuru ini, Bayu Airlangga, politikus muda Partai Demokrat yang notabene menantu Gubernur Jatim, Soekarwo tercatat sebagai sosok muda dan milenial terpopuler (26,6 persen).

Di susul M Habibur Rahman alias Gus Habib/putra KH Asep Saifuddin Chalim (14,8 persen), M Abid Umar alias Gus Abid/ketua PW Ansor Jatim (13,4 persen), dan M Nur Arifin/Wabup Trenggalek (13,4 persen).

Direktur Utama SSC, Mochtar W Oetomo mengakui kalau tren kandidat muda hampir selalu muncul di semua Pilkada. Di Jatim diawali di Trenggalek lewat pasangan Emil Dardak-M Nur Arifin.

“Ketika keluar (maju sebagai pasangan calon) masih sangat muda. Bahkan dalam bahasa Trenggalek itu masih sangat bocah untuk konteks politik. Tapi sangat mengejutkan karena bisa memenangkan kontestasi,” katanya usai rilis SSC di Hotel Yello, Surabaya, Rabu (9/1).

Mochtar menambahkan, “Harus kita akui, banyak tokoh muda di berbagai tempat itu sukses malahan. Emil sukses di Trenggalek, Anas (Abdullah Azwar Anas) di Banyuwangi, artinya anak muda mampu menjadi icon.”

Sehingga wajar, kata Mochtar, semakin ke depan harapan publik terhadap anak-anak muda juga semakin besar. “Sebab tuntutan zaman yang serba dinamis, cepat, futuristik dan sebagainya, ini kan sesuai dengan karakter anak-anak muda, milenial,” paparnya.

Solidkan Tiga Faksi

Whisnu Sakti Buana (kanan), masih enggan bicara Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Barometerjatim.com/natha lintang
Whisnu Sakti Buana (kanan), masih enggan bicara Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Barometerjatim.com/natha lintang

Menilik situasi ini, Angga menyarankan Whisnu — jika benar declare maju di Pilwali Surabaya — agar terlebih dahulu menyolidkan tiga faksi untuk mendapatkan tiket dari DPP PDIP.

“Tantangannya kan menyolidkan tiga faksi ini untuk sampai mengerucut pada satu pilihan politik,” ujarnya usai bedah buku Menuju Cahaya: Jokowi Perjalanan Karya bagi Bangsa karya Alberthiene Endah di Hotel Mercure, Surabaya, Jumat (11/1).

Apalagi angka 15,4 persen terbilang kecil untuk petahana. “Untuk petahana mestinya lebih tinggi lagi. Saya pikir harus didorong lagi, karena kelihatannya masih belum optimal,” katanya.

Tapi, tandas Angga, masih ada waktu bagi Whisnu untuk semakin mengerek elektabilitasnya. “Masih sekitar dua tahun lagi. Masih banyak waktu untuk menaikkan elektabilitas,” katanya.

Ditanya berapa idialnya persentase aman bagi petahana dari kaca mata lembaga survei, Angga menjelaskan, “Begini, kalau aman kan biasanya, setidaknya kita melihat satu tahun atau delapan bulan menjelang pemilihan, itu di angka 50 persen.”

Kalau dua tahun menjelang running masih 15,4 persen? “Itu juga masih kecil. Tapi masih banyak waktu untuk meng-upgrade dukungan politik,” tandas pengajar di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut.

Satu hal lagi, lanjutnya, jika PDIP ingin tetap mempertahankan basis dan kemenangan di Surabaya, maka perlu mempertimbangkan tampilnya politik yang sangat kuat untuk diajak komunikasi.

“Yaitu Bu Gubernur (terpilih), Bu Khofifah dengan basis sosialnya, Muslimat NU. Sebab itu akan memberikan pengaruh politik yang luar biasa dalam Pilwali nanti,” ucapnya.

Whisnu sendiri masih enggan berkomentar banyak soal Pilwali Surabaya pasca Risma. Sebaliknya, dia lebih memilih konsentrasi di Pileg serta Pilpres 2019.

“Kalau urusan Pilwali masih panjang dan aturannya juga belum ada. Nanti (sistem) Pilkadanya pakai apa, kan belum tahu,” katanya.•

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya