Pengamat: Muslimat NU Hanya Tegak Lurus pada Khofifah!

PILBUP SIDOARJO: Mochtar W Oetomo, Muslimat NU hanya tegak lurus pada Ketumnya, Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILBUP SIDOARJO: Mochtar W Oetomo, Muslimat NU hanya tegak lurus pada Ketumnya, Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Keputusan Kelana Aprilianto menggandeng kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Dwi Astutik di Pilbup Sidoarjo 2020 dipandang sebagai pilihan yang bagus.

Terlebih selama ini Sidoarjo menjadi basis politik Nahdliyin dan PKB, sebagaimana PDIP di Blitar atau Demokrat di Pacitan, maka PKB dan Nahdliyin mengakar kuat di Kota Delta — julukan Sidoarjo.

“Ketika Kelana mengambil Dwi Astutik sebagai wakil, itu memang pilihan yang strategis,” nilai Pengamat Politik yang juga Dirut Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar W Oetomo, Minggu (4/10/2020).

“Dengan harapan bisa mengambil ceruk dari PKB, bisa mengambil ceruk dari Nahdlyin, dan khususnya bisa mengambil ceruk dari Muslimat NU,” sambungnya.

Namun, tandas Mochtar, ada yang unik di Muslimat NU dan mungkin luput dari perhatian. Apa itu? “Sesungguhnya Muslimat NU itu hanya tegak lurus pada sosok ketua umumnya, yaitu Bu Khofifah,” katanya.

“Walupun itu Muslimat NU di daerah, tegak lurusnya pada Bu Khofifah, bukan pada tokoh-tokoh yang ada di daerah. Sehingga kalau analisisnya Muslimat NU sebatas punya ceruk itu terlalu sempit.”

Apakah Mochtar melihat Khofifah mendukung dan mau turun mengkampanyekan pasangan calon ini, walaupun Astutik adalah kader Muslimat NU dan salah satu orang dekatnya?

Pengamat yang juga pengajar S2 di Universtas dr Soetomo (Unitomo) itu melihat, sejauh ini dalam berbagai peristiwa politik di Jatim, Khofifah tidak terlihat bersikap aktif demi menjaga posisinya sebagai gubernur Jatim.

“Sehingga tetap saja, menurut saya, menjadi tantangan yang berat bagi paslon ini untuk bisa mengalahkan calon dari PKB, dalam hal ini Gus Muhdlor,” katanya.

Bagaimana dengan kehadiran Haji Masnuh, yang juga mantan ketua tim pemenangan Khofifah saat Pilgub Jatim 2018 untuk wilayah Sidoarjo?

“Kalau bicara peluang pasti ada ceruk suara yang bisa diambil. Apalagi Haji Masnuh relatif berpengalaman dalam politik lokal Sidoarjo,” katanya.

Tapi sekali lagi, secara kultural, Sidoarjo ini basis NU, basis PKB. Ini yang tidak mudah bagi kandidat lain untuk mengambil kekuasan, perlu treatment-treatment yang luar biasa.

“Apalagi dengan terkendala kondisi objektif pandemi Covid-19, waktu kampanye yang singkat, ini pekerjaan berat, bukan sesuatu yang ringan,” ucapnya.

Diakui Mochtar, turunnya Haji Masnuh dan eks ralawan Khofifah di Pilgub Jatim 2018 tetap membuka peluang, minimal sudah ada jejaring.

“Tapi dalam politik lokal kan tidak sesederhana itu. Jaringannya lebih kompleks, karena mereka saling kenal, saling tahu, saling mengerti lagi ngapain, mau kemana, dan sebagainya. Jadi kompleksitasnya lebih tinggi,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo