Bambang DH: Pimpin Surabaya Tak Perlu dengan Marah-marah!

PILWALI SURABAYA: Bambang DH, pimpin Surabaya tak perlu marah-marah, teriak-teriak. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
PILWALI SURABAYA: Bambang DH, pimpin Surabaya tak perlu marah-marah, teriak-teriak. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Para kandidat wali kota Surabaya di Pilwali 2020 — lewat sosialisasi yang dilakukan —  merasa paling bisa memimpin Kota Pahlawan dan warganya pasca kepemimpinan Tri Rismaharini alias Risma.

Lantas, sosok wali kota bagaimana sebenarnya yang dibutuhkan untuk lebih memajukan Surabaya sekaligus bisa memimpin warganya?

Menurut Bambang Dwi Hartono, mantan wali kota Surabaya dua periode, sepanjang yang dialami sebetulnya karakteristik warganya cukup enak, walaupun mungkin suka spontan merespons.

“Spontan yang saya maksud, kadang-kadang kita datang ke sebuah wilayah, mereka dengar A, ngrespons, padahal dia belum paham betul,” kata pria yang akrab disapa Bambang DH tersebut, Minggu (2/8/2020).

Meski demikian, lanjut suami anggota DPRD Surabaya, Dyah Katarina tersebut, semuanya harus ditampung dan diberi eksplanasi. Setelah dijelaskan, biasanya warga Surabaya bisa menerima dengan enak.

“Enggak perlu dimarah-marahi, apalagi diumpat, dicaci-maki, enggak perlu-lah. Enak karakteristik masyarakatnya. Kalau mimpin orang Surabaya harus marah-marah, saya pikir salah itu,” paparnya.

“Jadi (memimpin) Surabaya, saya pikir ndak perlu-lah teriak-teriak, marah-arah, sampai nggebrak-ngebrak,” tandas Bambang DH yang juga politikus PDI Perjuangan tersebut.

Termasuk dengan anak buah di Pemkot Surabaya. Sebab, ucap Bambang DH, namanya birokrasi pasti taat, tunduk pada pimpinan. “Paling enak itu memimpin pegawai negeri, dia pasti takut,” katanya.

“Enggak perlu dibentak-bentak, ngapain buang-buang energi saja. Tahu dia kita yang tanda tangan SK,” imbuhnya sambil tertawa.

Entah bermaksud menyindir Risma atau tidak, yang jelas selama memimpin Surabaya perempuan yang juga kader PDIP itu kerap mempertontonkan aksi marah-marah. Tak terkecuali di masa pendemi Covid-19.

Termasuk saat berseteru soal bantuan mobil PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan Pemprov Jatim, hingga aksi sujud di hadapan dokter saat audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya