Lewat Sepak Bola, Uni Papua Usung Perdamaian ke Surabaya

FOOTBALL FOR PEACE: Gus Hans (berkopiah) menyalami para pemain Uni Papua sebelum kick-off laga perdamaian. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
FOOTBALL FOR PEACE: Gus Hans (berkopiah) menyalami para pemain Uni Papua sebelum laga. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Uni Papua FC (Football Community), sebuah perkumpulan sepak bola sosial, terus berkeliling Indonesia untuk menyuarakan perdamaian lewat Football for Peace Festival.

Setelah tiga kali di Jakarta, tahun ini event serupa untuk kali pertama digelar di Surabaya. Festival yang diisi dengan coaching clinic serta laga perdamaian tersebut, digelar di Lapangan Sepak Bola Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Lidah Wetan, Sabtu (28/9/2019) sore.

Acara dibuka Presiden Football for Peace Interfaith Indonesia, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. Dihadiri CEO Uni Papua FC, Harry Widjaja; anggota DPRD Surabaya dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tjutjuk Supariono; serta sejumlah tokoh sepak bola dan tokoh masyarakat.

Sedangkan tim yang berpartisipasi dalam laga perdamaian, di antaranya perwakilan dosen Unesa, Satpol PP Surabaya, BNNK Surabaya, Unipa, Coach Uni Papua, serta Surabaya Exptas Football Club.

Tim Satpol PP Surabaya tampil sebagai juara untuk kelompok senior, setelah di final mengalahkan tim Unesa 4-1. Di kelompok junior, Jeneva FC keluar sebagai juara usai menang 3-1 atas Unipa Putih.

Harry menuturkan, Football for Peace Festival digelar untuk menyambut Hari Perdamaian Internasional yang diadakan setiap 21 September.

“Nah, Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, terlebih lagi anggota Dewan Keamanan PBB, jadi kita berpartisipasi sebagaimana masyarakat yang sadar bahwa perdamaian itu harus kita jaga bersama,” katanya.

Mimpinya, tandas Harry, Football for Peace Festival menjadi gerakan dari Indonesia untuk menyemai, merawat perdamaian, dan menjaga persatuan Indonesia melalui sepak bola.

“Jadi targetnya bukan seberapa banyak penonton atau suporter yang ada, tapi seberapa banyak keterwakilan dari setiap golongan, kelompok, agama, suku dan semua yang menjadi perwakilan negara ini ada di dalam gerakan sepak bola untuk perdamaian,” paparnya.

Sedangkan Gus Hans berharap, secara khusus Surabaya juga bisa menjadi Football Friendly City atau kota yang ramah terhadap sepak bola.

“Melalui sepak bola kita membangun anak-anak Surabaya. Kita punya Bonek, punya klub yang legendaris, dan itu adalah potensi yag baik,” katanya.

“Sehingga kita bisa arahkan ini menjadi sebuah tempat, kawah candradimuka, karakter bagi masyarakat Surabaya,” sambung Gus Hans.

Surabaya-Papua Bersaudara

Hal serupa disampaikan Tjutjuk. Kebetulan PSI juga konsen di segmen pemuda, milenial, jadi sangat mendukung Football for Peace. Terlebih kegiatan ini juga untuk menyalurkan bibit-bibit muda yang berkarakter.

“Uni Papua ini unik ya, beda dengan sekolah sepak bola biasa. Jadi di sini benar-benar dididik menjadi orang yang kompeten, tidak hanya di sepak bola, tapi juga secara sosio-emosional. Keren sekali,” ujarnya.

Sementara Kasatpol PP Kota Surabaya, Irvan Widiyanto mengaku senang timnya bisa mengikuti festival ini — terlebih timnya meraih juara. Dia juga ingin membuktikan kalau Kota Pahlawan antirasis dan cinta damai.

Hal itu diperlihatkan dengan desain kostum timnya yang bertuliskan: Surabaya Papua Bersaudara. “Kita ini cinta damai dan senang dengan kebersamaan. Kita buktikan bahwa Surabaya Papua bersaudara,” ucapnya.

» Baca Berita Terkait Football for Peace, Gus Hans