Gus Hans Tembus 4 Besar Bacawali Potensial Versi IPOL

4 CAWALI POTENSIAL: (Dari kiri) Whisnu Sakti Buana, Eri Cahyadi, Armuji, Gus Hans. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
EMPAT CAWALI POTENSIAL: (Dari kiri) Whisnu Sakti Buana, Eri Cahyadi, Armuji, Gus Hans. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Zahrul Azhar Asumta patut diperhitungkan di Pilwali Surabaya 2020. Meski namanya muncul belakangan, kiai milenial yang akrab disapa Gus Hans itu menembus empat besar Bacawali potensial.

Hal itu berdasarkan temuan Lembaga Riset IT Research Politic Consultant (IPOL) Indonesia, yang mengukur elektabilitas indikatif bakal calon wali kota penerus Tri Rismaharini alias Risma selama empat bulan terakhir.

“Calon wali kota secara indikatif sudah kita lihat bersama, bahwa sementara Whisnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya) cukup unggul,” kata CEO IPOL Indonesia, Petrus Haryanto saat memamparkan temuan lembaganya di Hotel Aria Centra Surabaya, Kamis (14/11/2019).

“Berikutnya ada nama Eri Cahyadi (kepala Bappeko Pemkot Surabaya), kemudian Armuji (anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDIP), lalu ada Gus Hans (wakil ketua DPD Partai Golkar Jatim) dan seterusnya,” imbuhnya.

Elektabilitas indikatif para kandidat tersebut, lanjut Petrus, bukanlah hasil survei tapi temuan yang didasarkan pada mix method untuk mengukur pemenangan Pilkada berbasis big data, teknologi politik, dan pemanfaatan aplikasi.

Mix method merupakan metode yang menggabungkan sejumlah elemen pengolahan data dan analisa terkini. Terdapat lima elemen dari metode ini, yakni big data dari media online, big data dari media sosial, teknologi politik dan microtargeting, real time field report by android, serta survei multistage random sampling (MRS).

“Berdasarkan kelima elemen mix method, IPOL memiliki alat ukur yang hasil prediksinya bisa mendekati kebenaran, karena IPOL memiliki cara pengolahan data dan analisa yang berlapis. Sehingga, antara satu elemen dengan elemen yang lain dapat saling diakurasikan,” papar Petrus.

Secara detail, Elektabilitas Indikatif Bakal Calon Pilkada Surabaya 2020 temuan IPOL yakni Whisnu Sakti Buana (1.766 ekspos), Eri Cahyadi (877), Armuji (488), Gus Hans (331) dan Dyah Katarina (196).

Lalu Samuel Teguh Santoso (148), Lia Isthifama (145), Ahmad Nawardi (123), Chrismanhadi (47), Hariyanto (32), M Sholeh (28), Sutjipto Joe Angga (21) serta Sri Setyo Pratiwi (4).

Namun angka temuan IPOL tersebut belum aman, sekalipun Whisnu menebus 1.766 ekspos. Di level Pilkada sekelas Surabaya, seharusnya angka ekspos bisa menembus 100 ribu.

“Kalau 100 ribu, artinya yang terkonsolidasi orang ngomong pasti sulit berubah karena sudah terbangun di bawah. Mereka yang bergerak bukan satu orang tapi combe-nya juga,” katanya.

Tapi mengapa dalam waktu empat bulan belum ada bakal calon yang bisa menembus 100 ribu ekspos? “Masih konvensional, belum berani masif. Padahal kalau konten yang dibuat atau berita terkait calon viral, berpotensi mengubah orang,” katanya.

Bukti di Bawah Kerja

PILWALI SURABAYA: Petrus Haryanto, membeberkan hasil temuan IPOL Indonesia. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Petrus Haryanto, membeberkan hasil temuan IPOL Indonesia. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Munculnya nama-nama tersebut, papar Petrus, menjadi indikator terhadap kerja di bawah mulai ada. Tidak sekadar ekspose IPOL yang berdasarkan kemunculan di berbagai platform media sosial, serta keberadaan tim calon di lapangan.

Masih adakah waktu bagi Bacawali dan timnya untuk mengubah? “Sangat ada waktu. Sampai dengan akhir tahun ini, ketika sistem kerja pemenangan masing-masing kandidat berubah, kontestasi akan semakin menarik,” katanya.

Baca: Whisnu: Lihat Survei, Masyarakat Surabaya Masih ke WS!

“Artinya ada ‘belanja’ di situ. Entah belanja media, belanja dalam konteks perang di lapangan sampai cyber troops (pengerahan pasukan dunia maya) sama-sama jalan,” ucapnya.

Petrus yakin, pemanasan sebelum survei berbasis big data dan microtargeting ini akan menajdi tren, setelah selama ini publik hanya disuguhi survei semata yang diukur selama dua minggu terakhir, misalnya.

PELUANG PENERUS RISMA: Elektabilitas indikatif bakal calon wali Surabaya versi IPOL Indonesia. | Foto: Capture IPOL
PELUANG PENERUS RISMA: Elektabilitas indikatif bakal calon wali Surabaya versi IPOL Indonesia. | Foto: Capture IPOL

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya