Ada Kesamaan Konsep, Peluang Whisnu-Gus Hans Berpasangan?

SEPANGGUNG: Gus Hans dan Whisnu Sakti Buana sepanggung di acara LKKNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
SEPANGGUNG: Gus Hans dan Whisnu Sakti Buana sepanggung di acara LKKNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Whisnu Sakti Buana dan Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans). Dua kandidat wali kota Surabaya berlatar belakang berbeda: Nasional dan religus. Tapi soal tawaran konsep membangun Surabaya pasca kepemimpinan Tri Rismaharini, rupanya memiliki sejumlah kesamaan.

Misalnya, Whisnu berharap Surabaya menjadi “kota bola” dengan mengambil momen lewat Piala Dunia U-20 tahun 2021 — jika Gelora Bung Tomo (GBT) disetujui FIFA menjadi salah satu venue.

Dia mencontohkan Rio De Janeiro di Brasil, atau sejumlah kota di Afrika Selatan semisal Johannesburg yang namanya melejit dan berlabel “kota bola” setelah menjadi tuan rumah Piala Dunia. “Seharusnya Surabaya bisa seperti itu,” katanya, Selasa (5/11/2019).

Nah, tujuh bulan sebelum Whisnu melontarkan gagasannya, Gus Hans di sela menghadiri World Football Summit (WFS) di Kuala Lumpur, Malaysia, 29-30 Maret 2019, juga menyuarakan gagasan serupa: Berharap Kota Pahlawan bisa menjadi kota football friendly.

Terbaru, dalam konsep besarnya membangun Surabaya, Whisnu menggagas perbanyak spot kepahlawanan untuk mempertegas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Pun dengan gagasan membangun pusat budaya teknologi dan demokrasi.

Hal serupa sebelumnya dilontarkan Gus Hans. Setelah Risma membangun raganya Surabaya, maka tugas wali kota selanjutnya adalah membangun jiwanya. Terbangunnya jiwa ketika bisa menghargai pahlawan, budaya, dan seterusnya.

Repot juga, menurut Gus Hans, Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan tapi situs-situs kepahlawanan minim sekali, atau bahkan tidak ada.

Selain kesamaan sejumlah gagasan, Whisnu juga kerap hadir di acara Nahdlatul Ulama (NU). Termasuk satu panggung dengan Gus Hans saat cara LKKNU (Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama) Jatim di Gang Dolly, Rabu (9/10/2019) malam.

Harapan Belum Kesampaian

Ditanya soal sejumlah gagasannya yang memiliki kesamaan dengan Whisnu, Gus Hans menyebut kalau hal tersebut bisa jadi karena memang dirindukan masyarakat Surabaya sehingga bisa sejalan.

“Dalam hal itu, soal situs-situs kepahlawanan dan seterusnya, mungkin kita inline dengan yang disampaikan Mas Whisnu,” katanya kepada Barometerjatim.com, Senin (11/11/219).

Apakah ini pertanda ada kecocokan dalam membangun Surabaya? Gus Hans menyebut bisa jadi hal tersebut adalah harapan-harapan yang belum kesampaian dalam kepemimpinan di Surabaya sekarang ini.

“Artinya, bisa jadi Mas Whisnu punya pikiran-pikiran seperti yang kita harapkan, tapi tidak memiliki akses yang kuat. Berarti kan ada sesuatu nih di Pemkot,” nilainya.

Sebab, yang disampaikan Whisnu value-nya kebanyakan berisi tentang kebudayaan, nilai-nilai dan sebagainya. Sementara yang dlakukan Risma lebih ke arah pembangunan fisik.

“Sehingga apakah komunikasi ini bisa terbangun dengan baik, antara Mas Whisnu dan Bu Risma?” tandas Gus Hans yang juga wakil ketua DPD Partai Golkar Jatim.

Politik Itu Dinamis

Kalau sudah ada kesamaan, mungkinkah Gus Hans bergandengan dengan Whisnu di Pilwali Surabaya 2020?

“Dalam dunia politik itu dinamis. Kita tidak boleh ngegeh mongso, dengan siapapun kalau memang memiliki pikiran yang sama untuk Surabaya ya kita jalan,” katanya.

Karena kalau misalnya di awal sudah mental blok, denial dengan orang lantaran permasalahan person, kata Gus Hans, jangan-jangan ada agenda atau nafsu yang melebihi dari yang harus dipikirkan untuk membangun Surabaya.

Apakah itu artinya mungkin bergandengan dengan Whisnu? “Saya tidak mengatakan mungkin, tapi saya mengatakan tidak ada yang tidak mungkin di dalam politik,” tegasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya