Risma Gagal Bangun Trem, WS Siap Wujudkan Monorail-Subway

MONORAIL-SUBWAY: Desain konsep monorail (atas) dan subway yang disiapkan Whisnu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
MONORAIL DAN SUBWAY: Desain konsep monorail (atas) dan subway yang disiapkan Whisnu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – 10 tahun memimpin, Tri Rismaharini (Risma) gagal mewujudkan trem di Surabaya. Sebagai ‘gantinya’, Whisnu Sakti Buana akan melanjutkan rencana pembangunan transportasi publik dengan menghadirkan subway dan monorail.

Tentu saja jika Whisnu yang saat ini berupaya mendapatkan rekomendasi dari partainya, PDI Perjuangan untuk maju di Pilwali Surabaya 2020, terpilih menjadi wali kota meneruskan kepemimpinan Risma.

“Problem kemarin trem yang ditolak Prognas (program nasional), tapi kalau monorail tidak,” kata wakil wali kota Surabaya yang akrab disapa WS tersebut, saat memaparkan konsep besarnya membangun Surabaya masa depan di Ruang Trowulan Hotel Bumi Surabaya, Minggu (10/11/2019).

“Karena memang secara nasional,  transportasi publik itu akan dibuat kalau tidak subway ataupun monorail, dan itu kita sesuaikan dengan program nasional,” tandasnya.

Dalam konsep program besarnya terkait transportasi publik, Whisnu menuturkan akan membangun subway untuk menghubungkan koridor utara-selatan, serta monorail untuk koridor timur-barat.

Wakil ketua bidang organisasi DPD PDIP Jatim itu tak ingin Surabaya seperti Jakarta, membangun MRT (Moda Raya Terpadu Jakarta/Jakarta Mass Rapid Transit) tapi tidak membawa perubahan signifikan.

“Karena Jakarta sudah terlambat 20 tahun untuk membangun MRT. Surabaya jangan terlambat! Sekarang harus kita mulai sebelum Surabaya terlambat agar kebiasaan publik ini bisa berubah,” jelasnya.

Bagi Whisnu, mengubah kebiasaan warga soal pilihan menggunakan transportasi tidaklah mudah. Butuh kerja keras semua pihak, baik pemerintah maupun seluruh warga Surabaya.

“Jadi kita siapkan transportasi publik yang nyaman, yang bagus, kita siapkan feeder-feeder itu juga dengan standar yang lebih bersih dan tidak telat. Bisa lewat setiap 10 atau 5 menit sekali ke kampung-kampung, dan itu membuat jadi pilihan bagi warga Surabaya,” paparnya.

Nah, jika subway dan monorail terwujud, maka nanti ada perubahan kebiasaan warga Surabaya yang biasanya lebih senang naik sepeda motor, kendaraan pribadi, akan beralih karena sudah disiapkan transportasi publik dengan tempat yang bagus.

Selain itu, ke depan tidak ada lagi cerita di Surabaya ada tabrakan kereta api dengan mobil, karena seluru rel ditanam atau dinaikkan ke atas.

“Yang namanya kota maju tidak ada lagi rel kereta api satu level dengan jalan lain, tidak ada crossing di sana,” ucapnya.

Desember, Risma Menyerah

Ya, kehadiran transportasi publik sebenarnya sudah ditunggu di era 10 tahun kepemimpinan Risma ini. Namun dalam wawancara dengan wartawan, 10 Desember 2018, wali kota perempuan pertama di Surabaya itu memilih ‘angkat tangan’.

“Ndak! Ndak ada (proyek trem), karena aku sudah ndak bisa kan! Aku tinggal dua tahun (sisa masa jabatan sebagai wali kota),” katanya waktu itu di Balai Kota Surabaya.

“Karena kalau transportasi, kalau massal, itu konstruksinya di atas dua tahun. Dua tahun-lah paling cepat, jadi nggak mungkin aku,” sambungnya.

Selain terbentur masa jabatan sebagai wali kota, kendala utama dari proyek ini soal anggaran. “Jadi aku nggak mungkin tanda tangani (proyek), sudah (lupakan), tapi aku sudah melakukan upaya kan?” ucap Risma.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya