Cegah Stunting! FOI Ajak Bunda di Surabaya Sajikan Menu Ikan

IKAN UNTUK ANAK: Aksi "Ikan untuk Anak" di LPMK Jalan Kalijudan, Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
IKAN UNTUK ANAK: Aksi “Ikan untuk Anak” di LPMK Jalan Kalijudan, Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Foodbank of Indonesia (FOI) meluncurkan program “Ikan untuk Anak” lewat kegiatan masak bersama bunda di LPMK Jalan Kalijudan, Surabaya, Senin (23/11/2020).

Aksi Ikan untuk Anak #IUAK ini merupakan kolaborasi FOI bersama Fakultas Teknologi Pertanian UGM (FTP-UGM) didukung oleh BeeJay Bakau Resort (BJBR).

Founder FOI, Muhammad Hendro Utomo menuturkan, program ini adalah bagian dari rangkaian Aksi 1.000 Bunda. Yaitu gerakan dari ibu dan bunda PAUD di seluruh kota dan kabupaten untuk memberikan tambahan makanan anak usia dini.

“Yang digelar di 3 titik yaitu DKI Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dengan melibatkan 12 ribu balita dan 800 bunda. Jadi anak-anak usia dini benar-benar terjamin masa depannya,” terang Hendro.

Program tersebut, lanjutnya, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bunda terkait pentingnya pangan lokal dan gizi bagi tumbuh kembang anak dan upaya pencegahannya demi mewujudkan impian Indonesia.

“Persoalannya kita masih mengalami stunting dan gizi kurang yang sangat tinggi,” tambah Hendro.

Berdasarkan penelitian FOI, satu dari tiga anak usia dini berkegiatan siang dengan perut yang kosong. Di daerah kantong yang padat di perkotaan, angkanya bahkan mencapai 40-50 persen.

“Kita bayangkan, kita yang dewasa saja berkegiatan dengan perut kosong suka marah-marah. Apalagi anak-anak usia dini,” katanya.

Selain itu aksi ketahanan pangan lokal ini juga merupakan upaya menghadapi ancaman kemiskinan di tengah pandemi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat lima juta orang miskin baru di Indonesia yang kemungkinan juga memiliki keluarga.

Anak-anak adalah kelompok yang rentan dalam keluarga dalam pembagian makanan. Karena mereka tidak bisa membela dirinya sendiri. Sebab, semua keputusannya tergantung orang dewasa di sekelilingnya.

“Kalau kita nggak melakukan suatu secara keroyokan, kita akan mengalami lost generation yang juga pernah terjadi pada 1998 saat krisis moneter,” ujar Hendro.

“Angka kemiskinan bertambah, stunting bertambah sehingga melahirkan anak-anak kurang berkualitas. Kalau kita kehilangan satu generasi lagi, kita enggak bisa bersaing,” sambungnya.

Karena itu, FOI melakukan kampanye untuk kembali ke makanan lokal yaitu makanan yang mudah ditemukan di sekeliling. Apalagi Indonesia memiliki kekayaan alam berupa tanah subur dan hasil laut melimpah.

“Maka, harusnya gampang dapat makanan. Tapi kesadarannya yang kurang. Kita mengimbau untuk ayo kembali ke makanan lokal itu yang paling gampang. Dan itu kualitasnya bagus, salah satunya ikan dari laut kita ini,” jelasnya.

1,2 Ton Ikan Segar

PROBLEM STUNTING: Hendro Utomo, stunting dan kurang gizi di Indonesia masih sangat tinggi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PROBLEM STUNTING: Hendro Utomo, stunting dan kurang gizi di Indonesia masih sangat tinggi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Hendro menambahkan, FOI membantu anak-anak usia dini atau balita agar tidak mengalami kelaparan sehingga tumbuh dengan lebih baik.

Dalam aksi Ikan untuk Anak tersebut, FOI bersama stakeholders membagikan 1,2 ton ikan segar olahan di lima provinsi. Sementara di Surabaya, FOI membagikan 200 kilogram ikan dengan target 5.000 anak.

“Ini tahap satu, target kita adalah 50 ribu anak-anak terbuka akses pangannya di 25 kota/kabupaten,” ujarnya.

DKI, Yogyakarta dan Surabaya menjadi tiga kota utama sasaran Aksi FOI dalam rangka menyambut Hari Pahlawan. Pada 9 November 2020 yang lalu, telah dilaksanakan peluncuran secara nasional di DKI Jakarta.

Selanjutnya, dilangsungkan pula aksi lapangan di dua titik berikutnya yaitu Yogyakarta dan Surabaya. Kegiatan ini juga ditayangkan melalui live via zoom meeting dan streaming di channel Youtube Foodbank of Indonesia.

» Baca Berita Terkait Stunting