Atasi Kemiskinan Perdesaan, Khofifah Siapkan Klinik BUMDes

SEMINAR DI UNEJ JEMBER: Khofifah saat menjadi pembicara di acara Inspiring Lecture Series Studium General di Universitas Jember (Unej), Selasa (4/8). | Foto: Barometerjatim.com/MARJAN AP
SEMINAR DI UNEJ JEMBER: Khofifah saat menjadi pembicara di acara Inspiring Lecture Series Studium General di Universitas Jember (Unej), Selasa (4/8). | Foto: Barometerjatim.com/MARJAN AP

JEMBER, Barometerjatim.com – Salah satu fokus Khofifah Indar Parawansa setelah dilantik menjadi gubernur Jawa Timur, yakni penurunan kemiskinan di perdesaan. Terlebih saat ini angkanya masih tinggi, 15,13 persen.

Sedangkan untuk kemiskinan di perkotaan sudah jauh di bawah rata-rata nasional. Jika saat ini kemiskinan nasional di angka 9,82 persen, Jatim 7,7 persen.

“Jadi memang harus di-zoom desa-desa yang masih harus mendapatkan intervensi secara lebih signifikan, dikombinasi dengan penguatan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa),” kata Khofifah usai menjadi pembicara di acara Inspiring Lecture Series Studium General di Universitas Jember (Unej), Selasa (4/8).

• Baca: Temui Jusuf Kalla, Khofifah Bahas Kemiskinan di Jatim

Menurut Khofifah, penanganan kemiskinan harus dikerjakan dari banyak sektor, karena tidak bisa semua program mengadalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sehingga Triple P (Public, Private dan Partnership) menjadi penting. Begitu pula dengan penguatan BUMDes.

Terkait anggaran dari non APBD, Khofifah sedang mengkomunikasikan dengan salah satu lembaga yang memiliki kemampuan untuk bisa menjadi semacam klinik atau bengkel BUMDes.

“Saya ingin mendedikasikan lembaga itu, untuk CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan itu, sebagai bagian dari penguatan tidak sekadar managerial skill tapi menjadi bengkel sekaligus klinik BUMDes,” terangnya.

• Baca: Di Lamongan, Khofifah Ajak Sarjana Berantas Kemiskinan

Namun mantan Menteri Sosial itu masih enggan menyebut nama perusahaan yang dimaksud. “Insyaallah itu di Pasuruan milik lembaga itu cukup besar, kemampuan manajemennya cukup bagus, ini punya institusi bisnis yang cukup besar juga di Jatim,” katanya.

Khofifah juga mengaskan, CSR tersebut dari salah satu perusahaan, bukan seluruh perusahaan yang ada di Jatim. Sebab, CSR untuk pendidikan, layanan sosial maupun lingkungan juga sangat penting.

“Ini bukan satu-satunya. Saya cerita ini non APBD, karena tidak bisa semua program kita bisa mengadalkan APBD,” jelasnya.

Zooming hingga RT/RW

EFEKTIFITAS BUMDES: Khofifah, siapkan desain efektifitas dari penguatan pertumbuhan ekonomi berbasis desa lewat BUMDes. | Foto: IST
EFEKTIFITAS BUMDES: Khofifah, siapkan desain efektifitas dari penguatan pertumbuhan ekonomi berbasis desa lewat BUMDes. | Foto: IST

Bengkel atau klinik BUMDes ini diperlukan, jelas Khofifah, karena ada BUMDes yang cepat berkembang, tapi ada pula yang jalannya pelan-pelan bahkan mandek.

Apalagi anggaran dana desa bertambah setiap tahun. Tahun ini, secara nasional, sekitar Rp 40 triliun dan tahun depan bertambah menjadi sekitar Rp 75 triliun.

“Pasti harus berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi baru di desa-desa. Dari 5.674 desa di Jatim, kemiskinannya untuk perdesaan masih tertinggi di Indonesia,” tandasnya.

• Baca: Sambut Industri 4.0, Khofifah: Jatim Punya 2 Modal Besar

Selain menyiapkan bengel BUMDes, Khofifah juga sudah mengkomunikasikan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) agar melajukan zooming titik kemiskinan di Jatim.

“Tidak sekadar desa, tapi dibesarkan hingga tingkat RT/RW supaya intervensinya bisa lebih signifikan. Ini akan, misalnya, menjadi pilot project pengentasan kemiskinan yang kira-kira bisa lebih komprehensif. Itu sedang kita komunikasikan dengan TNP2K,” terangnya.

• Baca: Khofifah: Asian Games Sukses Angkat Martabat Indonesia

Dengan zooming hingga RT/RW, lanjut Khofifah, maka akan terlihat apa apa yang menjadi faktor pemberat dari pengentasan kemiskinan perdesaan di Jatim. Sebab, angka kemiskinan tersebut ada yang berseiring dengan tingginya angka pernikahan usia dini hingga drop out SMP.

“Kemudian kalau untuk klinik atau bengkel BUMDes, kita sedang mendesain kira-kira seperi apa yang memiliki efektifitas dari penguatan pertumbuhan ekonomi berbasis desa lewat BUMDes,” tuntas perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu.