344 Desa Tertinggal di Jatim, Khofifah Sebut Tahun Ini Tuntas!

FATAYAT NU JATIM: Khofifah pada acara Fatayat NU Jatim Award 2020 di Hotel Grand Mercure, Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
FATAYAT NU JATIM: Khofifah pada acara Fatayat NU Jatim Award 2020 di Hotel Grand Mercure, Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tahun lalu, masih terdapat 344 desa tertinggal di Jatim. Namun Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebut dalam setahun ini sudah tuntas semuanya.

Hal itu dikatakan Khofifah saat berpidato pada Malam Inagurasi Fatayat NU Jatim Award 2020 di Hotel Grand Mercure, Surabaya, Senin (28/12/2020).

“Saya ingin sampaikan Bu Anik Maslachah dan Pak Anwar Sadad (keduanya wakil ketua DPRD Jatim), bahwa ada 344 desa tertinggal di Jatim yang setahun ini sudah tuntas semua, alhamdulillah,” katanya.

Salain Anik dan Sadad, hadir dalam acara tersebut yakni Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Halim Iskandar; Bupati Jombang, Mundjidah Wahab; serta Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH Marzuki Mustamar.

Penuntasan desa tertinggal tersebut, lanjut Khofifah, menjadi penting karena kalau ada yang ndeso di Jatim rata-rata penduduknya warga NU.

“Kalau ada ramaja putri di perdesaan maka rata-rata Fatayat NU, dan hari ini tidak ada Fatayat NU yang tertinggal di desa-desa di Jatim,” katanya.

“Artinya, ini adalah starting point yang bagus untuk terus menumbuhkembangkan seluruh energi dari Fatayat NU,” tandas Khofifah.

Gubernur yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Mendes PDTT, karena telah memberikan banyak penguatan pada lembaga keuangan desa di Jatim, meski masih sangat minim kehadiran perempuan di lembaga keuangan desa.

“Oleh karena itu malam hari ini, saya rasa, Pak Mendes jadi kalau Fatayat NU sudah membangun penguatan pada posisi kesehatan secara lahir dan batin, maka ditambah kesehatan dompetnya,” kata Khofifah yang disambut Halim dengan senyum dan aplaus hadirin.

Sinergi Atasi Stunting

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengapresiasi kinerja Fatayat NU yang andil membangun penguatan kesehatan, di antaranya lewat program Gafantara (Gerakan Sehat Fatayat Santri Nusantara).

Agar Gafantara bisa berjalan lebih maksimal, Khofifah juga meminta ada persambungan program dengan pemerintah daerah, baik dengan Pemprov Jatim maupun Pemkab/Pemkot.

Sebab, jika secara nasional ada revisi RPJMN, maka yang diuatamakan yakni terkait sistem kesehatan nasional. Revisi RPJMN, membuat seluruh provinsi dan kabupaten/kota akan menginduk untuk merevisi RPJMD dengan menempatkan reformasi sitem kesehatan nasional menjadi prioritas program.

“Maksud saya nyambung sangat dengan Gafantara,” katanya Khofifah yang pernah menjabat Menteri Sosial di era Kabinet Jokowi-Jusuf Kalla sejak 27 Oktober 2014 hingga 17 Januari 2018, sebelum akhirnya mundur karena maju di Pilgub Jatim 2018.

Karena itu, Khofifah meminta Fatayat NU Jatim untuk menyinergikan program yang berkaitan dengan sunting dengan program Pemprov dan Pemkab/Pemkot sebagai akselerasi dari seluruh proses percepatan penurunan stunting di Jatim.

“Ini Gafantara akan menjadi modul yang sangat penting karena stunting itu bukan karena pendek orangnya, tapi kemampuan otaknya yang mengalami keterbatasan,” katanya.

Selain itu, terkait pula dengan  persiapan Generasi Emas di 2045 yang harus disiapkan dari ibu-ibu hamil.

» Baca Berita Terkait Fatayat NU