Usung #IkiSuroboyo, Gus Hans Tampil Lebih Milenial dan Wani!

MILENIAL DAN WANI: Gus Hans tampil lebih milenial dan wani dengan hastag #IkiSuroboyo. | Foto: Barometerjatim.com/IST
MILENIAL DAN WANI: Gus Hans tampil lebih milenial dan wani dengan hastag #IkiSuroboyo. | Foto: Barometerjatim.com/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Politikus Partai Golkar, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans makin gencar melakukan sosialisasi maju di Pilwali Surabaya 2020 baik lewat darat maupun udara (media sosial).

Terbaru, tim kreatifnya melontarkan hastag #IkiSuroboyo dengan kalimat penyemangat khas Suroboyoan. Di antaranya Jare Sopo Gak Iso! Iki Suroboyo!, Nek Gak Eroh, Ojo Kemeroh! yang dilengkapi dengan foto Gus Hans.

Menariknya, foto dikreatifkan sedemikian rupa sehingga Jubir Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak Elestianto di Pilgub Jatim 2028 itu terlihat lebih milenial dan wani!

Lantas, pesan apa yang ingin disampaikan Gus Hans dengan pola sosialisasi seperti itu?

“Begini, misalnya tagline Jare Sopo Gak Iso! Iki Suroboyo! Artinya, Surabaya ini sudah settle (mapan), infrastukturnya kan sudah jangkep (lengkap). Sehingga siapa pun yang memimpin Surabaya, kota ini tetap baik,” katanya.

“Tinggal kita detailkan lebih rapi lagi, kalau misalnya memang kita inginkan lebih baik daripada yang sekarang,” sambungnya.

Artinya, peranan wali kota lebih kepada mengisi nuansa yang berbeda. Tri Rismaharini, kata Gus Hans, bisa jadi karena background-nya pertamanan, maka fokusnya selama ini di taman kota.

“Itu saja nuansanya, tapi kalau dari sisi infrastruktur kan kita sudah mapan. Artinya tidak ada super hero di Surabaya, karena Surabaya akan lebih baik kalau dibangun bersama-sama, dan semuanya bisa serta  memiliki hak dan kesempatan yang sama,” paparnya.

Jadi semua orang bisa ya membangun Surabaya semakin baik? “Jare sopo gak iso, iki Suroboyo. Bukan kabupaten lain yang  bisa jadi APBD-nya sangat terbatas,” tegasnya.

“Surabaya kan sudah cemepak (serba ada). Tingggal mau dibawa kemana warnanya, nah ini tergantung masyarakat mau milih warna yang seperti apa karakternya,” sambungnya.

Gus Hans lantas mengutip parikan khas Suroboyoan. “Jagir Wonokromo, wong pinggir ojo dilalekno. Ini artinya masyarakat Surabaya seluruhnya berhak merasakan kindahan kota,” katanya.

“Masyarakat Surabaya itu bukan hanya di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Basuki Rahmat, atau Diponegoro. Tapi Pakal, Sidotopo, Sambikerep atau Bulak Banteng juga Surabaya.”

Kesamaan dengan ‘Merah’

Ditanya soal tagline-nya mirip dengan pola kandidat lain yang juga Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, Gus Hans menyebut mungkin hanya kebetulan.

“Ini bikinan dari tim kreatif Jakarta, konsultan tim kreatif kita. Ternyata setelah kita edarkan secara test the water ada kemiripan dengan tagline di Pilwali sebelumnya kalau enggak salah,” ujarnya.

Namun Gus Hans meyakinkan tagline yang dibikin tim kreatifnya tidak ada hubungan. “Bisa jadi kita dengan pola pikir teman-teman ‘merah’ ini menuju kesamaan di dalam memandang Surabaya,” katanya.

Apakah Gus Hans juga sedang membangun komunikasi dengan Whisnu? “Oh, kalau masalah itu dengan kakaknya, sudah komunikasi tertutup-lah sama kita, sekadar diskusi sudah,” katanya.

“Tapi kan masih kita lihat nanti. Artinya arahan dari partai saya untuk menjaga komunikasi dengan semua pihak memang harus terbangun,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya