MA Diusik Grup WA, Pengamat: Gerakan Politik Selera Rendahan!

KEKUATAN BESAR?: Machfud Arifin dan istrinya, dinilaikekuatan besar di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KEKUATAN BESAR?: Machfud Arifin bersama istrinya, dinilai kekuatan besar di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Munculnya Grup WhatsApp (WA) berlabel “Pilkada Surabaya tanpa Machfud Arifin” dinilai pengamat politik, Surokim Abdussalam sebagai gerakan politik Pilkada berselera rendahan.

“Gerakan politik Pilkada berselera rendahan nirrespek,” tegas pengamat yang juga peneliti senior di lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC) tersebut kepada Barometerjatim.com, Selasa (25/2/2020).

Pilkada, lanjut Surokim, seharusnya bisa menjadi ajang edukasi politik masyarakat. Syukur-syukur bisa menjadi pesta bermartabat, mengedepannya nalar dan cara sehat yang saling bisa menghargai dan mengembangkan respek.

“Jangan sampai gaduh yang menjadikan polarisasi dan munculnya konflik di masyarakat. Secara lebih khusus Pilkada harus bisa memuliakan semua pihak, agar kompetisi berjalan damai,” paparnya.

“Inti demokrasi sebenarnya ada di situ. Jika pilihannya jalan negatif, maka sebenarnya hanya akan merusak dan merendahkan marwah demokrasi elektoral kita sendiri.”

Karena itu, kata Surokim, pengendalian diri menjadi penting dan tentu saja masih banyak pilihan jalan baik biar pemilih lebih bisa dewasa berpolitik.

“Bukan berpolitik selera rendah yang saling mengadu satu sama lain, kehilangan kepercayaan satu sama lain, karena politik akan mudah terjerumus dalam jalan gaduh dan baper yang membuat kita kehilangan nalar sehat,” ujarnya.

Apalagi grup-grup WA semipublik sulit dijaga tidak keluar ke ruang publik. “Akhirnya hanya akan membuat gaduh ruang publik, karena sulit membedakan antara ruang privat dan publik,” katanya.

“Jadi harus hati-hati memahami ruang publik dan ruang privat di medsos, karena efeknya akan beda,” imbuh dekan FISIP Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut.

Merasa Pesaing Berat

Sementara DT, admin grup WA yang di dalamnya terdapat sejumlah politisi dan kandidat di Pilwali Surabaya 2020 itu menuturkan, grup dibuat untuk menyatukan semua kekuatan di luar kubu Machfud Arifin (MA).

“Agar fokus bergandengan tangan hadapi rival besar ini, sambil menunggu rekom PDIP dan bergabungnya PSI dan atau Golkar,” ucap DT yang mengaku sebagai ketua relawan Bersama Bangun Bangsa dan anggota Patriot Garuda Nusantara.

Ditanya apakah komunikasi yang dibangun sebatas di grup WA, DT menyatakan mungkin saja akan diwujudkan lewat gerakan di lapangan. Tapi saat ini masih sebatas koordinasi dan sinergi antartokoh yang sevisi.

“Kami berusaha meredam singgungan-singgungan antar faksi-faksi partai, menyamakan arah perjuangan, menghilangkan ego partisan, sehingga tercipta sinergi untuk lebih berdaya hadapi pesaing berat di depan mata,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Tim Pemenangan Machfud Arifin, KH Miratul Mukminin atau alias Gus Amik masih belum bisa dimintai komentar. Telepon maupun pesan WA yang dikirim Barometerjatim.com tidak dijawab.

USIK MA: Grup WA Pilkada Surabaya tanpa Machfud Arifin. Gerakan politik berselera rendahan?. | Foto: Capture WA
USIK MA: Grup WA Pilkada Surabaya tanpa Machfud Arifin. Gerakan politik berselera rendahan?. | Foto: Capture WA

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya