Senin, 04 Juli 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Soekarno Lahir di Blitar atau Surabaya? Sejarawan Beber Buku Induk Mahasiswa ITB

Berita Terkait

BUKU INDUK MAHASISWA ITB: Salah satu bukti sejarah Soekarno lahir di Surabaya, bukan Blitar. | Foto: IST
BUKU INDUK MAHASISWA ITB: Salah satu bukti sejarah Soekarno lahir di Surabaya, bukan Blitar. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tempat lahir Presiden pertama RI, Soekarno alias Bung Karno kembali ramai diperbincangkan setelah para tokoh PDI Perjuangan menggaungkan Sang Proklamator lahir di Surabaya, bukan di Blitar.

Lalu, mana yang benar? Sejarawan Bonnie Triyana menuturkan, terdapat bukti dan keterangan yang menyatakan bahwa Putra Sang Fajar bukan lahir di Blitar pada 1902, melainkan di Surabaya pada 1901.

Seorang arsitek dan pemerhati sejarah Bambang Eryudhawan, kata Bonnie, memberikan bukti otentik bahwa Surabaya merupakan tempat kelahiran Soekarno. Saat itu, Bambang menunjukkan buku induk Technische Hogeschool (TH, cikal bakal ITB Bandung) yang tertera data diri Soekarno saat sedang berkuliah di sana.

“Dia menunjukkan buku induk mahasiswa TH yang dibuat sejak tempat itu berdiri pada 1920 hingga Jepang belum menduduki Indonesia. Soekarno menempati nomor urut 55 dan masuk ke TH Bandung pada 1921, yang artinya satu tahun setelah TH berdiri,” terang Bonnie, Kamis (9/6/2022).

Dalam buku induk tersebut, tertera nama Raden Soekarno lahir pada 6 Juni 1902, bukan pada 1901 sebagaimana sejarah yang diketahui khalayak umum.

Bonnie menjelaskan, hal seperti itu lumrah dilakukan mengingat kebiasaan zaman dulu, jika anak mau masuk sekolah maka usianya sengaja dibuat lebih muda atau bahkan lebih tua.

“Mungkin sengaja dibuat muda, serta kemungkinan besar data itu menggunakan data saat Soekarno bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool), yakni sekolah bumi putera yang didirikan pada zaman penjajahan Belanda,” ujarnya.

Tak hanya saja, pada buku induk mahasiswa Soekarno juga tertera nama ayahnya, Raden Sosrodihardjo yang berprofesi sebagai seorang guru (onderwijzer) di Blitar dan tertera nama ibunya, Ida Nyomanaka. Soekarno sendiri tercatat sebagai mahasiswa Teknik Sipil Jurusan Pengairan (waterbouwkunde).

“Penulisan nama ibu Soekarno ada sedikit perbedaan, sebagaimana yang kita ketahui adalah Ayu Nyoman Rai. Tetapi di buku induk tersebut tertulis Ida Nyomanaka,” katanya.

Buku tersebut, lanjutnya, tidak hanya mencatat data diri saja, melainkan semua nama mahasiswa yang lulus maupun yang tidak lulus dari TH. Bahkan, pekerjaan mereka juga tercatat.

“Jadi tidak hanya Soekarno, tapi seluruh mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di sana tercatat lengkap oleh universitas teknik pertama di Indonesia itu,” terangnya.

Nilai Kuliah Soekarno

Buku induk mahasiswa tersebut juga mencatat nilai Soekarno semasa kuliah di TH. Meski sempat cuti selama hampir satu tahun pada 1921, dia kembali melanjutkan pendidikannya pada tahun ajaran 1922/1923.

“Nilai yang diperoleh tahun itu adalah 5,85. Kemudian tahun 1923/1924 adalah 6,75. Tahun ajaran 1925/1925 adalah 6,28 dan pada tahun 1925/1926 adalah 6,55,” ungkapnya.

Melalui buku induk mahasiswa TH, Soekarno ingin memperkuat keterangan bahwa dirinya dilahirkan di Kota Pahlawan.

Selain itu, dalam sebuah buku yang ditulis Cindy Adams mengisahkan otobiografi Soekarno. Buku itu berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, tertulis kisah tentang ayah dan asal usul tempat kelahirannya.

“Soekarno berkisah: Karena merasa tidak disenangi di Bali, bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak dipindahkan ke Surabaya dan di sanalah aku dilahirkan. Demikian kata Soekarno yang memperjelas tempat kelahirannya,” pungkas Bonnie.

» Baca berita terkait Bung Karno. Baca juga tulisan terukur lainnya Moch Andriansyah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -