Sidogiri Kecam Gus Muwafiq, Sadad: Agar Bijak Tuntun Umat!

SIDOGIRI: Anwar Sadad (kanan) bersama Pengasuh Ponpes Sidogiri, KHA Nawawi Abd Djalil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SIDOGIRI: Anwar Sadad (kanan) bersama Pengasuh Ponpes Sidogiri, KHA Nawawi Abd Djalil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Anwar Sadad menilai sikap resmi yang dikeluarkan Majelis Keluarga Ponpes Sidogiri, Pasuruan adalah penegasan posisi Ponpes tersebut dalam menyikapi ceramah Gus Muwafiq yang menjadi atensi publik.

“Sikap resmi itu menjadi penting, karena sudah seharusnya lembaga dengan pengaruh yang luas seperti Sidogiri, juga pesantren-pesantren besar lainnya, seperti Lirboyo, Ploso, Sukorejo dan lainnya mengambil sikap sebagai guidance bagi para santri, alumni dan pengikutnya,” kata Sadad kepada Barometerjatim.com, Senin (9/12/2019).

Soal kemudian sikap Sidogiri berbeda tajam dengan PWNU Jatim, menurut Sadad, hal itu bukan kali pertama terjadi. Bahkan tidak hanya dengan Sidogiri, tapi juga beberapa pesantren di kawasan Tapal kuda, terutama di Madura yang secara kultural memiliki ikatan patron client yang kuat dengan Sidogiri.

“Saya kira perbedaan tersebut lebih disebabkan point of view. Yang dilakukan oleh Sidogiri itu pembelaan pada nilai, value. PWNU, mohon maaf, agak mengabaikan itu. Lalu menarik persoalan ke wilayah sosiologis, bahkan politis!” katanya.

“Yang terjadi adalah seakan tiap ‘serangan’ kepada Gus Muwafiq diimajinasi sebagai serangan kepada NU. Bahkan lebih dari itu, bukan sekadar imajinasi, tapi halusinasi,” sambungnya.

Selain minta maaf ke umat Islam di Tanah Air, apakah Gus Muwafiq perlu tabayyun ke Ponpes atau para kiai yang mengecam isi ceramahnya?

“Untuk masalah ini sebenarnya tidak penting. Kecuali Gus Muwafiq sowan kepada kiai-kiai sepuh sebagai ṣilat al-arḥam, yang lazim dilakukan kiai muda dengan yang lebih sepuh, tradisi yang biasa  dilakukan oleh Nahdiliyin kebanyakan,” jelasnya.

Sadad berharap, peristiwa ini bisa menjadi pelajaran buat para pemimpin umat, agar lebih bijak menuntun umat menuju kesalehan sosial. “Juga perlu menghindari kontroversi yang menyebabkan salah tafsir, bahkan salah paham,” ucapnya.

Jangan Membela Berlebihan

Sadad memandang, Gus Muwafiq juga pasti bisa menerima ‘takdirnya’ sebagai orang yang paling dipergunjingkan di jagat NU saat ini. Sebagai mantan aktivis, dia pasti tahu risiko dari pilihannya.

“Tak perlu membelanya berlebihan. Di kalangan aktivis muda NU dulu biasa bercanda dan berdiskusi bahwa ‘Tuhan tak perlu dibela’. Lah ini ngapain bela Gus Muwafiq,” katanya.

“Juga enggak perlu melakukan mistifikasi, seakan Gus Muwafiq adalah figur yang disebut Hadratussyaikh (KH Hasyim Asy’ari) dalam mimpi Gus Dur,” sambungnya.

Gus Muwafiq, nilai Sadad yang juga wakil ketua DPRD Jatim, justru ingin membuang mistifikasi dalam sejarah kehidupan nabi sebagai manusia biasa. “Masa kemudian dilakukan mistifikasi terhadap dirinya,” tegasnya.

Sebelumnya, Majelis Keluarga Ponpes Sidogiri mengeluarkan empat poin penegasan atas cemarah Gus Muwafiq. Di antaranya menyesalkan dan mengecam pernyataan pendakwah berambut gondrong tersebut, karena tidak menjaga adab dan terkesan merendahkan pribadi Rasulullah Saw.

» Baca Berita Terkait Gus Muwafiq