PSBB Surabaya Raya Gagal? Emil Dardak: Lihat dari Dua Sisi!

PSBB SURABAYA RAYA: Emil Dardak, PSBB Surabaya belum bisa dikatakan gagal atau berhasil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PSBB SURABAYA RAYA: Emil Dardak, PSBB Surabaya belum bisa dikatakan gagal atau berhasil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Memasuki hari ke-10 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya, jumlah kasus positif Corona (Covid-19) — terutama di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo — terus melonjak.

Surabaya tambah 6 kasus dan Sidoarjo 12. Secara keseluruhan, Jatim bertambah 45 kasus. 27 kasus lainnya tersebar di Bangkalan (6), Kota Pasuruan, Kota Malang dan Bojonegoro masing-masing tambah 3 kasus.

Lalu Kota Batu, Lumajang, Gresik, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, Jombang, Kabupaten Madiun, Kabupaten Kediri dan Pacitan masing-masing tambah satu kasus.

Meski jumlah kasus positif Covid-19 masih tinggi, Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak menuturkan belum bisa ditarik kesimpulan kalau penerapan PSBB di Surabaya Raya dikatakan gagal atau berhasil.

“Kita harus melihat apa yang telah dicapai bersama, juga melihat apa yang belum tercapai. Dua hal ini harus dilihat bersamaan,” kata Emil saat konferensi pers di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (7/5/2020) malam.

“Pada saat kita melihat ini dari dua sisi, saya rasa kita tidak bisa kemudian mengatakan bahwa PSBB ini gagal,” tandas suami Arumi Bachsin tersebut.

Sehingga dalam konteks ini, yang menjadi fokus Pemprov Jatim adalah melakukan koordinasi secara maksimal, baik dengan Pemkab dan Pemkot maupun instansi vertikal serta Forkopimda.

Karena itu, kata Emil, segala lini mulai dari Polda, TNI sampai Polres, Kodim hingga Polsek dan Danramil agar semuanya terus bergerak.

“Ibu Gubernur (Khofifah Indar Parawansa) kemarin juga baru meninjau dapur umum yang diadakan di Sidoarajo, sehingga saya tidak bisa mengatakan bahwa ini sudah ada indikator mengenai apa yang dikatakan gagal atau tidak,” ujarnya.

Terlebih dari 10 hari PSBB yang sudah berjalan, tiga hari awal masih tahap toleransi. Selain itu, konsep dari gejala dan bagaimana seseorang pembawa Covid-19 juga ada jeda waktunya.

Sehingga apa yang diinvestasikan saat ini tidak langsung terlihat hasilnya dalam beberapa hari ini, karena pencegahan dari proses penularan ada time lag (jeda waktu) antara upaya untuk melakukan pembatasan fisik dengan dampak epidemiologi.

“Jadi mohon maaf untuk mengatakan gagal, saya rasa paramaternya masih belum bisa kita buktikan secara ilmiah,” ucap Emil.

Namun demikian, Pemprov, Pemkab dan Pemkot senantiasa memaksimalkan seluruh elemen untuk meningkatkan efektifitas dalam melaksanakan PSBB.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona