Sabtu, 02 Juli 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Sosok

Mengenal Buya Mun’im, Calon Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Malang

Berita Terkait

ISTIQOMAH: KH Abdul Mun'im Syadzili, jaga kemandirian, istiqomah, dan totalitas dalam keseharian. | Foto: Barometerjatim.com/IST
ISTIQOMAH: KH Abdul Mun’im Syadzili, jaga kemandirian, istiqomah, dan totalitas dalam keseharian. | Foto: Barometerjatim.com/IST
- Advertisement -

MALANG, Barometerjatim.com – Kemandirian, istiqomah, dan totalitas. Itulah keseharian yang melekat pada sosok KH Abdul Mun’im Syadzili, calon rais syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang.

Kebiasaan memegang amanah dengan kehati-hatian dan istiqomah, serta totalitas menjadi resep sederhana Buya Mun’im — sapaan hangat di kalangan koleganya — dalam membesarkan dan menyukseskan apapun yang diembannya.

Mulai dari menjadi Ketua Forum Silaturahim Qurro’ Hufadz (FSQH) Malang Raya, Ketua LPTQ Kabupaten Malang dan Jatim, Ketua Forum Pekerja Nasional (FPP), hingga Ketua IMAP (Alumni Al Falah Ploso) Malang Raya. Semua amanah tersebut terbilang diemban sukses dan gemilang.

“Harus ikhlas tanpa batas, sebab amanah sekecil apapun harus ikhlas dan tulus untuk dicintai, seperti bagian tubuh yang kita jaga dan rawat dengan hati-hati,” katanya di sela mengisi Majelis Pengajian Tafsir Jalalain, Jumat (26/11/21).

Keikhlasan, lanjut Buya Mun’im, pada nantinya akan memicu seseorang menjadi total mengelola dan membesarkan apapun yang dia terima. Apapun akan dia curahkan untuk membesarkan organisasi ataupun lembaga tersebut.

“Tidak hanya materi yang akan dia persembahkan, namun otomatis pikiran, tenaga, dan doa-doa agar Allah selalu menjaga dalam segala amanah sebab tanggung jawabnya dunia akhirat,” ucapnya.

Buya Mun’im yang merupakan putra dari KH Ahmad Syadzili Muhdlor, dididik dari lingkungan pesantren yang kokoh. Kesederhanaan dan kepedulian membentuk karakternya penuh empati, peduli dan senang berbagi.

Tidak hanya ilmu, Buya Mun’im akan mencurahkan apapun yang dimilikinya untuk kebesaran dan kemaslahatan apa yang sedang diamanahkan padanya. Totalitas dan ikhlas tanpa batas.

Hal itu ditunjukkan dengan kiprahnya yang luar biasa di NU. Sukses sebagai ketua Bahtsul Masail Ex Kawedanan Tumpang, lalu menjadi ketua RMI Kabupaten Malang, Rais Majelis Ilmu JQHNU Kabupaten Malang, hingga didaulat sebagai Wakil Rais Majelis Ilmi JQHNU Jatim dan A’wan PCNU Kabupaten Malang, tidak menyurutkan niatannya untuk selalu berkhidmat dan membesarkan NU di mana pun.

“Berkhidmat di NU adalah bagian dari melestarikan amanah ulama NU dan masyayikh Nusantara. Pantang bagi kita untuk berhenti tidak melayani umat dan warga NU, sebab keberkahan dan ibadah di dalamnya adalah bagian dari doa dan kecintaan kita pada ulama dan nabi tercinta kita Muhammad Saw,” paparnya.

Kiai kharismatik alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Ploso ini juga selalu menghidupkan majelis-majelis yang di dalamnya banyak menghimpun para habaib, masyayikh dan asatidz.

Kedekatannya dengan pada para habaib, masyayikh di mana-mana sejalan kecintaanya pada jamaah. Hal tersebut diwujudkan dengan menghidupkan majelis pengajian dan shalawat.

Walaupun dengan segudang kesibukan, Buya Mun’im selain sebagai ketua dewan pengasuh Ponpes Salafiyah Qur’an (PPSQ) Asy-Syadzili, juga menyempatkan membina, mengajar para pecinta Al Qur’an dalam MTQ lokal, regional, dan nasional.

“Tujuanya hanya satu, getok tular wawasan, pengalaman dan keilmuan di bidang Al Qur’an,” tandas Dewan Hakim MTQ provinsi dan nasional tersebut.

Bikin NU Tetap Berwibawa

MAJELIS: Buya Mun'im, hidupkan majelis yang di dalamnya menghimpun habaib, masyayikh, dan asatidz. | Foto: Barometerjatim.com/IST
MAJELIS: Buya Mun’im, hidupkan majelis yang di dalamnya menghimpun habaib, masyayikh, dan asatidz. | Foto: Barometerjatim.com/IST

Melihat itu semua, Wakil ketua Majelis Dakwan dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin menyebut NU Kabupaten Malang membutuhkan Buya Mun’im untuk menjabat rais syuriyah.

“NU butuh figur kiai yang mandiri dan mau berkorban untuk NU, ngrumati NU, ngurusi NU, layaknya Mbah Kiai Wahab dan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari yang rela mengorbankan jiwa dan raga, apalagi harta,” katanya.

NU Kabupaten Malang, tandas Ainul, butuh figur yang mau berkorban, disungkani, sehingga NU ada marwahnya, ada energi, kekuatan untuk bangkit, agar tetap berwibawa di mata jamaah, kolega, dan warga Nahdliyin.

“Karenanya dibutuhkan sosok rais ayuriyah yang matang dhohiron wa batinan. Yang mau menjaga dan ngrumati NU, gak arepan dan yang gak emanan,” katanya.

Kemandirian NU di tangan para kiainya, lanjut Ainul, akan mencerminkan semangat khitthah dan perjuangan masyayikh dalam menjaga kebangkitan ulama.

Insyaallah, NU Kabupaten Malang akan besar dan berwibawa,” pungkas Ainul yang juga dosen FISIP Universitas Bung Karno tersebut.

JAGA AMANAT: KH Abdul Mun'im Syadzili di acara Muskerda IMAP Malang Raya 2021. | Foto: Barometerjatim.com/IST
JAGA AMANAT: KH Abdul Mun’im Syadzili di acara Muskerda IMAP Malang Raya 2021. | Foto: Barometerjatim.com/IST

» Baca Berita Terkait Nahdlatul Ulama

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -