Keras! Gus Hans Sindir Elite yang Hanya Nikmati Tarian Abu Janda

DIPERIKSA BARESKRIM POLRI: Abu Janda, dilaporkan ke Bareskrim Polri untuk dua kasus yang berbeda. | Foto: Barometerjatim.com /ROY HS
DIPERIKSA BARESKRIM POLRI: Abu Janda, dilaporkan ke Bareskrim Polri untuk dua kasus yang berbeda. | Foto: Barometerjatim.com /ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans menyindir elite yang selama ini menikmati ‘pertarungan’ politik ala Abu Janda, mendadak berubah bahkan berlagak tak kenal di saat pegiat sosial tersebut berurusan dengan polisi.

“Saya hanya prihatin saja dengan perilaku elite yang selama ini menikmati pertarungan ala Abu Janda, sekarang tiba-tiba bersikap tidak kenal dengan segala jerih payahnya,” kata Gus Hans di Surabaya, Senin (1/2/2021).

Padahal, setahu Gus Hans, pihak yang dibela Abu Janda selama ini sangat menikmati ‘tarian-tarian’ sporadis yang dilakukannya, dan seakan minimal membiarkan atau bahkan memberikan perlindungan dari apa saja yang dilakukannya.

Memang, tandas Gus Hans, kini peta politik mulai berubah. Polarisasi sudah tak lagi bergaris jelas, sudah tidak lagi hitam dan putih, karena yang hitam mulai memutih dan yang putih pun mulai menghitam.

“Sekarang hanya tersisa orang-orang yang belum terlatih saja, yang selama ini hanya menjadi pion-pion politik. Ibarat pemabuk amatir yang minumnya hari Senin, tapi mabuknya sampai Sabtu,” katanya.

Sayangnya, gerakan Abu Janda tetap memilih jalur ‘hardcore’, seakan tak melihat bahwa situasi politik sekarang sudah mulai melow dan cepat berubah-ubah.

“Kadang rancak, kadang sedih seperti tik-tok,” ucap kiai muda yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang tersebut yang mengaku kali pertama bertemu Abu Janda di ruang Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, beberapa tahun lalu.

Sementara terkait kontroversi Abu Janda selama ini, Gus Hans berpandangan kalau dia adalah warga Indonesia biasa yang memiliki cita-cita yang sama dengan mayoritas warga lainnya.

“Yaitu Indonesia yang damai, anti-diskriminasi dan lain-lain. Dia, bisa jadi, seperti anak yang haus mencari oase di tengah gurun cadas dan keras yang tidak sesuai dengan apa yang dalam pikiran dan cita-citanya,” nilainya.

“Elite yang selama ini menikmati pertarungan ala Abu Janda, sekarang tiba-tiba bersikap tidak kenal dengan segala jerih payahnya.”

Di tengah kehausan itu, bisa jadi pula, Abu Janda melihat NU sebagai oase yang diharapkan dapat memberikan rasa segar di antara dahaga yang dirasakannya.

“Dia berhasil membuat trademark tersendiri dengan gaya dan pilihan diksi yang berusaha mengimbangi serbuan-serbuan dari pihak yang berseberangan dengandng pikirannya,” katanya.

Abu Janda, lanjut Gus Hans, memilih jalur low context (blak-blakan) yang cenderung satire dan sarkas dalam menyampaikan pesannya, bisa jadi sebagai sindirian dari apa yang dilakukan pihak lawan yang menggunakan teori post truth era.

Dilaporkan untuk Dua Kasus

Seperti diberitakan, Abu Janda yang bernama asli Permadi Arya memenuhi panggilan Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri untuk dimintai keterangan atas dugaan ujaran rasialisme dan SARA atas laporan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pada 28 dan 29 Januari 2021.

Ada dua kasus berbeda yang dilaporkan. Pertama, dugaan ujaran rasialisme terhadap mantan komisioner Komnas Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai. Abu Janda menyebut soal “evolusi” saat mendebat Pigai yang mengkritik eks Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono.

Kedua, ujaran SARA terhadap agama karena Abu Janda menyebut “Islam arogan”. Pernyataan itu terlontar saat dia berdebat dengan Tengku Zulkarnain di Twitter.

Setelah diperiksa hari ini untuk kasus menyebut “Islam arogan”, Abu Janda akan kembali diperiksa untuk dugaan ujaran rasisme kepada Pigai.

» Baca Berita Terkait Gus Hans