Kampanye di Candi, Eh.. Dwi Astutik Disebut Mirip Khofifah!

DUKUNGAN WARGA NU: Dwi Astutik saat kampanye di wilayah Kecamatan Candi, SIdoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
DUKUNGAN WARGA NU: Dwi Astutik saat kampanye di wilayah Kecamatan Candi, SIdoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Seperti biasa, calon wakil bupati (Cawabup) Sidoarjo nomor urut tiga, Dwi Astutik selalu mendapat sambutan hangat dan meriah di setiap acara yang dihadirinya.

Tak terkecuali ketika menghadiri silaturahmi Tim Bintang Sembilan Berkelas bersama kiai kampung, tokoh masyarakat, dan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Candi, Jumat (30/10/2020) sore.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian, saat sejumlah jamaah nyeletuk kalau Astutik mirip dengan Gubernur Jatim yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

Kok? Celetukan jamaah bermula saat Astutik yang juga wakil sekretaris PW Muslimat NU Jatim itu naik podium untuk menyampaikan pidato.

Niki (masker) kulo bukak nggih (saya lepas sebentar) karena enggak bisa ambekan (napas),” kata Astutik seraya tetap menggunakan face shield untuk menjaga protokol kesehatan Covid-19.

Baru saja masker turun di dagu, sejumlah jamaah nyeletuk, “Koyok Bu Khofifah yo? (Mirip Bu Khofifah ya)” kata salah seorang jamaah yang disambut ger-geraan hadirin. “Iyo, opo adike? (Benar, apa adiknya?)” timpal lainnya.

Disebut mirip Khofifah, Astutik hanya tersenyum simpul sembari melanjutkan pidatonya dan meminta izin karena harus berdiri, sedangkan undangan lain duduk lesehan.

Pangapunten, sedoyo pinarak teng ngandhap, dalem dateng mriki, mboten nopo-nopo nggih (Mohon maaf, semua duduk di bawah, saya berdiri di sini tidak apa-apa ya?)” ujar Astutik.

Dalam kesempatan tersebut, Astutik juga menyampaikan salam dari Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar. “Dalem sampun sowan beliau, semangatnya mugi-mugi pendopo tetap NU (semoga pendopo Kabupaten Sidoarjo tetap dipimpin kader NU),” ucapnya.

Pertemuan antara Astutik dan Kiai Marzuki memang baru saja terjadi beberapa hari lalu di Malang, saat menghadiri acara tahlil tujuh hari wafatnya ibunda Kiai Marzuki.

Bangun Kekompakan

IBADAH: Dwi Astutik, ajak niatkan memilih dirinya dan Kelana di Pilbup Sidoarjo karena ibadah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
IBADAH: Dwi Astutik, ajak niatkan memilih dirinya dan Kelana di Pilbup Sidoarjo karena ibadah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Selanjutnya, di hadapan hadirin Astutik menyampaikan empat komponen penting agar tidak salah mengambil sikap. Pertama, ikhtiar bahwa Kelana-Astutik berangkat mengabdikan diri untuk Sidoarjo dalam rangka ibadah.

“Agar tidak salah niat, ditepakno niate, ini sangat penting,” tandasnya. Kedua, semangat membangun tim agar kompak. Ketiga, harus berbahasa positif.

“Keampat, kalau ada berita hoaks, monggo langsung dihapus saja atau di-delete karena tidak penting dan bisa mengotori hati dan pikiran kita. Biarkan saja paslon sebelah ngomong apa,” imbau Astutik.

Hal tersebut, lanjutnya, agar Kelana-Astutik bisa mengantar Kabupaten Sidoarjo menuju perubahan yang lebih baik lagi.

Sementara itu Pengarah Tim Bintang Sembilan Berkelas, KH Ahmad Khoiri menuturkan, pergantian pemimpin dalam Pilkada merupakan biasa sehingga tidak perlu menimbulkan permusuhan.

“Pilkada layaknya kompetisi bola, tak perlu ruwet, tak perlu bermusuhan,” katanya. Apalagi sampai dikaitkan kalau kader NU harus memilih pasangan calon yang disusung PKB.

Sebab, kata Kiai Khoiri, sejauh ini banyak kader NU tidak berangkat dari PKB saat maju di Pemilu. “Kader NU itu banyak, tidak cukup hanya ditampung dalam satu wadah (Parpol),” katanya.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo