Hasil Survei Tinggi, Relawan: Ning Lia Layak Diperjuangkan!

TERMOTIVASI: Yusuf Hidayat, semakin termotivasi tingkatkan elektabilitas Lia Istifhama. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TERMOTIVASI: Yusuf Hidayat, semakin termotivasi tingkatkan elektabilitas Lia Istifhama. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Hasil survei yang tinggi tak membuat relawan Lia Istifhama jumawa. Sebaliknya, mereka semakin terpacu untuk meningkatkan elektabilitas perempuan yang juga keponakan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa tersebut.

“Pertama, ini adalah sebuah pesan dan motivasi kepada relawan, para kiai, yang sudah mulai mendukung dan bergerak bahwa Ning Lia layak terus diperjuangkan,” kata Ketua Benteng (Barisan Penguatan Neng) Lia, Yusub Hidayat di Surabaya, Jumat (20/3/2020).

Kedua, lanjut Yusub, “Kita melihat hasil survei ini bukan terus bergembira, tapi bagaimana kita meningkatkan elektabilitas dan terus menerus, bahwa Ning Lia adalah person yang cukup menarik untuk bisa ikut dalam proses Pilwali.”

Seperti diberitakan, hasil survei lembaga Akurat Survei Terukur Indonesia (ASTI) terkait Pilwali Surabaya 2020 mencatat, Lia Istifhama menjadi ‘primadona’ untuk posisi calon wakil wali kota (Cawawali).

Dalam survei ASTI yang dilakukan 9-15 Maret 2020, Lia mencatat elektabilitas tertinggi untuk kandidat Cawawali (16,95 persen), jauh di atas dua figur PDIP, Armuji (8,47 persen) dan Dyah Katarina (5,08 persen). Bahkan masih di atas Presiden Klub Persebaya, Azrul Ananda (15,25 persen).

Aura primadona Lia semakin bersinar saat disimulasikan secara berpasangan, terutama dengan bakal wali kota Machfud Arifin. Pasangan ini mendongkrak elektabilitas tertinggi (17,78 persen).

Disusul Eri Cahyadi-Armuji (15,56 persen), Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans-Reny Astuti (6,67 persen) dan Moh Yasin-Gunawan (2,22 persen).

Lia Perekat Umat

TAK TERPENGARUH GENDER: Faktor gender tak pengaruhi pilihan pemilih di Pilwali Surabaya 2020. | Grafis: Survei ASTI
TAK TERPENGARUH GENDER: Faktor gender tak pengaruhi pilihan pemilih di Pilwali Surabaya 2020. | Grafis: Survei ASTI

Sementara menanggapi soal preferensi pemilih yang tak terpengaruh dengan faktor gender dan agama, menurut Yusub pihaknya tetap berpandangan positif bahwa gender, keagamaan maupun milenial tetap faktor yang harus diperhatikan.

“Mungkin hari ini belum jadi faktor ya, tapi apapun milenial itu bisa menjadi penentu, termasuk kegamaan,” kata Yusub, sembari mengutip pesan Pengasuh Ponpes At Tauhid Sidosermo, KH Mas Mansyur kalau Lia harus mampu menjadi kekuatan umat Islam.

“Dalam hal ini ada NU (Nahdlatul Ulama), ada Muhammadiyah untuk bisa merekatkan. Ini menjadi pesan moral yang kemarin disampaikan Kiai Mas Mansur. Lha saat ini figur itu yang belum nampak sekali di lingkungan itu (para kandidat),” ucapnya.

Dalam survei ASTI, 89,66 responden menyebut faktor gender tak mempengaruhi alasan untuk memilih calon di Pilwali Surabaya 2020, dan 10,34 persen lainnya menyebut berpengaruh.

Begitu pula dengan faktor agama, 40 persen menyatakan agama tidak mempengaruhi pilihan, 23,33 menyebut berpengaruh, dan 36,67 persen menjawab tidak tahu.

Survei ASTI untuk mengukur peta elektabilitas dan preferensi pemilih ini menggunakan metode stratified multistage random sampling. Jumlah sampel 800 dari populasi warga Surabaya di 31 kecamatan dengan margin of error 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

TAK TERPENGARUH AGAMA: Faktor agama tak pengaruhi pilihan pemilih di Pilwali Surabaya 2020. | Grafis: Survei ASTI
TAK TERPENGARUH AGAMA: Faktor agama tak pengaruhi pilihan pemilih di Pilwali Surabaya 2020. | Grafis: Survei ASTI

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya