Gus Ipul: Pengolah Limbah B3 Bisa Jadi Legacy Khofifah

Gus Ipul, pengolahan limbah B3 bisa menjadi legacy Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/natha lintang

SURABAYA, Barometerjatim.com – 10 tahun dipimpin Soekarwo, Jatim tak kunjung memiliki pabrik pengolahan limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3). Alih-alih sekelas di Ciulengsi yang komprehensif, peletakan batu pertama saja baru dilakukan pada 10 Februari 2019 atau 31 hari sebelum Soekarwo lengser dan hingga kini masih ditolak warga.

Mantan Wagub Jatim, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengakui kalau limbah B3 menjadi masalah besar, tapi tidak ada penanganan serius yang dilakukan Pemprov Jarim di era Pakde Karwo — sapaan Soekarwo. Sementara dirinya tak bisa berbuat banyak, karena policy ada di tangan gubernur.

“Kita pernah dengar ada pembuangan limbah B3 di Pasuruan, Jombang, Mojokerto dan beberapa tempat lain yang sebenarnya itu memerlukan kecepatan dan kerja keras gubernur pada waktu itu tapi tidak ada,” kata Gus Ipul di Surabaya, Selasa (11/3/2019).

Karena itu, Gus Ipul berharap gubernur Jatim yang baru, Khofifah Indar Parawansa bisa mewujudkan Jatim memiliki pabrik pengolah limbah B3. “Nanti sebagai bagian dari legacy-nya yaitu membangun pengolahan limbah B3 sekelas pabrik di Ciulengsi,” katanya.

“Dengan begitu, insyaallah masalah limbah B3 ini akan teratasi. Kalau tidak, orang akan buang di jalan. Ada kosong ya dibuang, ada kosong ya dibuang,” sambung mantan ketua PP GP Ansor dua periode itu.

Soal pemilihan lokasi, entah itu di Desa Tloho Retno, Kecamatan Brondong, Lamongan; atau di Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, menurut Gus Ipul semuanya tergantung policy Khofifah.

“Saya enggak tahu apakah nanti di Mojokerto atau di tempat lain, itu policy Ibu Gubernur. Bisa petimbangkan mana yang terbaik, bisa diteruskan, atau bisa juga dibagi dengan swasta,” ucapnya.

Artinya di dua tempat tersebut tidak masalah? “Menurut saya tinggal didalami saja oleh tim yang lebih serius. Saya tidak berani menyatakan bahwa yang di Mojokerto tidak layak, tapi itu memang masih ada masalah-masalah,” katanya.

Gus Ipul bahkan melihat peletakan batu pertama di Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto terkesan dipaksakan, karena baru dilakukan pada 10 Februari 2019 atau sebulan jelang Pakde Karwo lengser.

“Kenapa baru sekarang diletakkan, sudah dua periode, kenapa enggak dulu-dulu. Situasinya memang mendesak, tetapi pelatakan batu pertama sebulan sebelum lengser itu aneh. Ya nanti Ibu Gubernur akan mengetahui lebih dalam lah tentang apa yang melatarbelakangi di Mojokerto itu,” paparnya.

Kebutuhan Mendesak

Seharusnya, lanjut Gus Ipul, urusan pendirian pabrik pengolahan limbah B3 Mojokerto diserahkan ke gubernur yang baru. “(Bilang) ini kita belum meletakkan batu pertama karena masalahnya begini-begini, di Lamongan begini-begini, jadi gubernur baru bisa mengambil pilihan,” katanya.

“Kalau begini kan sudah dipaksa, ini peletakan batu pertamanya, dan seterusnya. Akhirnya Ibu Gubernur ya semacam di-fait accompli soal pembangunan pengolahan B3 ini,” katanya.

Apalagi di Mojokerto, sambung Gus Ipul, sudah ada geger penolakan warga Desa Lakardowo, Kecamayan Jetis, terkait penimbunan limbah B3 milik PT Putera Restu Ibu Abadi (PRIA). “Sekarang ditaruh di sana lagi, itu bisa memancing emosi warga,” katanya.

Apakah hal itu bisa disebut kegagalan karena dua periode gagal mendirikan pabrik pengolahan limbah B3?

“Ya saya sih nyebutnya enggak dapat perhatian. Saya enggak tahu kenapa, padahal kita juga sudah berusaha. Kalau toh ada niat, lamban! Sampai akhir periode enggak ada progres yang signifikan, Lamban!” katanya.

Namun Gus Ipul percaya, Khofifah bisa mewujudkan pembangunan pengolahan limbah di Jatim yang sekelas Ciulengsi. “Apalagi merupakan kebutuhan mendesak untuk kita segera punya pengelolaan itu,” tuntasnya.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Gus Ipul