4 ‘Serangan’ Gus Ipul untuk Pakde Karwo Usai Pilgub Jatim

Karsa! Hampir dua periode harmonis, kini renggang di ujung jabatan. | Foto: Ist
Karsa! Hampir dua periode harmonis, kini Pakde Karwo-Gus Ipul renggang di ujung jabatan. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Bukan kali ini saja Saifullah Yusuf (Gus Ipul) ‘menyerang’ Soekarwo (Pakde Karwo) lewat statement-statement tajam pasca kalah di Pilgub Jatim 2018.

Hubungan “Karsa” bahkan mulai terbaca renggang sejak running Pilgub Jatim 2018, setelah Pakde Karwo bersama Partai Demokrat lebih memilih mengusung mantan rivalnya di dua periode sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa.

Sebelum ‘serangan’ soal legacy, dalam beberapa kesempatan, Gus Ipul juga membuat pernyataan tajam, mengkritik tandem yang ditemaninya selama dua periode (10 tahun) tersebut. Berikut rangkuman Barometerjatim.com.

1. Ada yang Khianati Kiai

18 September 2018: Gus Ipul mengakui proses Pilgub Jatim 2018 sudah selesai dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Meski demikian, dia tetap memiliki catatan tersendiri yang akan ditulisnya dalam bentuk buku putih.

“Termasuk ada pihak yang tidak komitmen dengan kiai, menyulayani janji, mengingkari janjinya sendiri di depan para ulama, para kiai. Itu proses lain yang menyertai Pilgub,” katanya saat pelantikan PWNU Jatim 2018-2023 di Ponpes Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang.

Meski tak menyebut nama, pihak yang dimaksud Gus Ipul bisa jadi mengarah ke Soekarwo yang disebut-sebut terikat perjanjian yang diteken di Ploso, Kediri untuk mendukung Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018.

Dalam surat perjanjian bermaterei itu terdapat saksi-saksi yang menguatkan. Mereka yakni lima kiai yang turut menandatangani surat: KH Zaiduddin Djazuli, KH Nurul Huda Jazuli, KH Idris Marzuki, KH Anwar Mansur dan KH Anwar Iskandar.

2. Bukan Rekom Gubernur

18 September 2018: Masih di acara yang sama. Gus Ipul yang hadir dan memberi sambutan mewakili Pemprov Jatim, mengaku bukan atas rekomendasi gubernur. Tapi justru diminta sejumlah kiai agar hadir, karena Pakde Karwo yang diagendakan menyampaikan pidato berhalangan.

Sak jan-jane ngoten kulo wis toto-toto kate lengser (Sebenarnya saya sudah berkemas untuk persiapan mengakhiri jabatan sebagai Wagub). Proses Pilgub sudah selesai, toto-toto lengser,” kata Gus Ipul.

Di saat sibuk berkemas di Surabaya, Gus Ipul kemudian mendapat telepon dari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Rais PWNU Jatim KH Anwar Iskandar, serta Ketua DPRD Jatim, Abdul Halim Iskandar.

“Untuk supaya menyusul ke sini, mewakili Pemprov Jatim, karena Pak Gubernur tidak bisa hadir. Jadi yang memberikan rekomendasi saya di sini bukan gubernur, malah ketua umum NU, ketua DPRD, Kiai Anwar Iskandar,” bebernya.

Gus Ipul pun semakin mempertegas, “Rekomendasi dari gubernur tidak ada. Jadi berangkat dewe niki wau (berangkat sendiri tadi). Berangkat karena hormat kepada para ulama, para kiai,” tandasnya.

3. Kritik Mutasi Besar-besaran

30 November 2018: Gus Ipul mengkritik mutasi 1.017 pejabat Pemprov Jatim. Selain dilakukan Soekarwo di ujung jabatan, juga disebut-sebut tak disetujui Khofifah sebagai Gubernur Jatim terpilih.

Gus Ipul menuturkan, sebaiknya mutasi mendapat persetujuan dari gubernur Jatim terpilih. “Memang aturannya enggak ada, tapi etikanya begitu! Ini soal etika saja. Etika (bahwa) Bu Khofifah harus setuju,” katanya.

Kalau Khofifah tidak setuju, menurut Gus Ipul, langkah mutasi tersebut kurang tepat, kurang etis! “Tapi jangan disimpulkan kalau Bu Khofifah enggak setuju berarti (Pakde Karwo) enggak beretika,” selorohnya.

Sebagai Wagub, Gus Ipul bahkan mengaku tidak tahu menahu soal mutasi besar-besaran yang dilakukan Soekarwo. “Saya tidak tahu sama sekali soal mutasi hari ini. Saya cuma diundang saja, itu pun mendadak sekali,” katanya.

4. Soekarwo Tanpa Legacy

31 Desember 2018: Gus Ipul menyebut 10 tahun kepemimpinan Soekarwo tidak menghadirkan legacy (warisan) yang bisa menjadi icon Jatim. Sementara dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, karena posisi Wagub mengharuskan patuh, menuruti semua kemauan gubernur.

Sebenarnya, klaim Gus Ipul, dirinya sudah berupaya dan berusaha agar Jatim punya legacy. Di antaranya mengusulkan kepada Soekarwo agar membangun pusat kajian Islam di Madura, serta pembangunan pusat kebudayaan dan olah raga di Gresik. “Namun hingga saat ini usulan itu tidak pernah terealisasi,” katanya.

Gus Ipul hanya bisa berharp Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa mampu membuat legacy  sebagai tanda keberhasilan sebuah provinsi.

“Saya berharap gubernur terpilih, Bu Khofifah bisa bikin legacy yang bisa dijadikan pertanda keberhasilan. Saya yakin, Bu Khofifah bisa bikin legacy,” tandas Gus Ipul.

‘Dikerjai’ Lewat Baliho

5 Oktober 2018: Tak hanya melakukan serangan, Gus Ipul juga sempat ‘dikerjai’ Pemprov Jatim terkait peringatan HUT ke-73 Provinsi Jatim. Baliho peringatan HUT yang terpasang di halaman kantor gubernur terlihat aneh.

Ukuran gambar Pakde Karwo dan Gus Ipul tidak seperti biasanya yang sama besar. Kali ini, ukuran gambar Gus Ipul terlihat lebih kecil, meski akhirnya dibongkar Biro Administrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Jatim yang memasangnya.

Melihat hal itu, Gus Ipul sempat geram. “Maksudnya apa memasang seperti itu? Maunya apa? Saya diajak apa saja siap kok,” katanya. “Gambar saya tidak dipasang pun tidak apa-apa,” sambungnya.•

» Baca Berita Terkait Pakde Karwo, Khofifah, Gus Ipul