Whisnu: Tersedia 6 Ribu, Reagen PCR di Surabaya Kurang Banget!

SWAB PCR: Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya, Chusnur Ismiati swab PCR saat pembukaan Neo Clinic. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
DRIVE THRU: Ketua Dharma Wanita Persatuan Surabaya, Chusnur Ismiati swab PCR saat pembukaan Neo Clinic. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Reagen PCR (Polymerase Chain Reaction) di Surabaya mulai minim, bahkan bisa dibilang kurang. Bayangkan! saat ini tinggal tersedia 6 ribu, padahal ada 8 ribu orang hasil tracing Covid-19 yang harus di-swab PCR.

Hal itu disampaikan Plt Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana saat meresmikan layanan drive thru tes Covid-19 (swab PCR/antigen/antibody) Noe Clinic di Surabaya, Minggu (17/1/2021). Hadir pula Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya, Chusnur Ismiati Hendro Gunawan.

“Hari-hari ini kan kita memang kekurangan banget untuk masalah testingnya. Tracing kita sudah masif, kita berkoordinasi tiga pilar dengan TNI-Polri juga luar biasa,” katanya.

“Kita lakukan tracing, dan ada 8 ribu yang kena tracing yang harusnya kita lakukan swab PCR. Nah, dukungan reagen kita hanya 6.000 yang tersedia hari ini,” sambungnya.

Pemkot Surabaya, lanjut Whisnu, sebenarnya sudah meminta dukungan Badan Nasional Penanggulangn Bencana (BNPB) untuk mengatasi ketersediaan reagen PCRi. Selain itu, dia berharap lebih banyak lagi perusahaan swasta yang ikut membantu.

Tapi Whisnu juga memahami kondisi perusahaan di tengah pandemi yang tak kunjung melandai. Makanya, apa yang dilakukan Neo Clinic dengan membuka drive thru ini bakal sangat membantu.

“Karena nanti hasl tracing itu misalkan untuk keluarga menengah ke atas yang mampu, kan ini harganya murah, tidak semahal yang biasanya, bisa kita arahkan untuk swab mandiri,” kata Whisnu.

“Kalau bisa kita juga dibantu lah. Misal ada jatah gratisnya, kita dikasih info sehingga nanti keluarga yang tidak mampu bisa kita lempar ke sini untuk lakukan swab PCR,” imbuhnya.

Artinya, tandas pejabat yang kader PDIP tersebut, tracing dan testing sangat perlu karena treatment-nya akan lebih mudah kalau bisa tahu lebih dini bahwa mereka terkonfirmasi positif.

“Jadi tidak sampai rasa sakit muncul gejala, kan kita bisa karantina dulu di Asrama Haji, ndak perlu harus masuk rumah sakit karena konsisinya penuh. 50 persen juga bukan warga Surabaya, tapi bagaimanapun kita harus melawan Covid-19 ini bersama-sama,” tuturnya.

Menurut Whisnu, saat ini BOR-nya (Bed Occupancy Rate) untuk ICU sudah 100 persen, sementara  di luar ICU mencapai 88 persen. Ini sangat riskan, makanya Surabaya termasuk daerah yang diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Ini (PPKM) sebetulnya bukan karena penambahan positif kita yang melonjak, tetapi memang kondisi rumah sakit kita yang sangat kritis. Nah ini yang perlu sama-sama kita bantu,” tuntasnya.

SWAB PCR NEO CLINIC: Whisnu Sakti Buana tinjau layanan swab PCR saat pembukaan Neo Clinic. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SWAB PCR NEO CLINIC: Whisnu Sakti Buana tinjau layanan swab PCR saat pembukaan Neo Clinic. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Pemkot Surabaya