Senin, 23 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Valentine, Anwar Sadad Malah Ajak Peringati Hari Pemberontakan, Lho Kenapa?

Berita Terkait

BERSAMA KELUARGA: Anwar Sadad, kesibukan tak mengurangi waktunya bersama keluarga. | Foto: Barometerjatim.com/IST
BERSAMA KELUARGA: Anwar Sadad, kesibukan tak mengurangi waktunya bersama keluarga. | Foto: Barometerjatim.com/IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – 14 Februari identik dengan Hari Valentine. Padahal, menurut Ketua DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad tanggal ini menyimpan fakta sejarah yang dahsyat. Apa itu?

“Pada 14 Februari, tentara PETA (Pembela Tanah Air) Daidan (Batalyon) Blitar yang dikomandani Shodanco Supriyadi menyerang markas tentara Jepang,” katanya.

Sebenarnya, lanjut Sadad, PETA adalah calon-calon tentara yang disiapkan Jepang untuk memperkuat angkatan bersenjatanya. Mereka terdiri dari anak-anak muda pilihan yang telah mendapatkan pendidikan formal setingkat SMP.

“Mereka dididik di pusat-pusat latihan tempur di beberapa tempat, di antaranya di Daidan Blitar,” ucap politikus yang juga wakil ketua DPRD Jatim tersebut.

Tapi jiwa patriotisme mereka berontak menyaksikan kekejaman tentara Jepang terhadap warga pribumi. Jepang memberlakukan romusha (kerja paksa) tak pandang bulu, warga pribumi laki-laki dan perempuan dipaksa bekerja untuk mereka.

“Warga pribumi dipaksa menjual sebagian besar hasil pertanian, termasuk jagung dan padi, bahkan telur dengan harga murah, dengan hanya menyisakan sedikit tidak cukup untuk dimakan keluarga sendiri,” terang Sadad.

Maka, perlawanan dimulai. Rekan Supriyadi, Shodanco Partiharjono pada 14 Februari 1945 mengibarkan bendera merah putih besar di sebuah lapangan di Blitar. Pemberontakan pecah dan Jepang mengerahkan seluruh pasukannya untuk meredam pemberontakan.

“Hanya karena muslihat Jepang, pemberontakan berhasil diredam. Sebanyak 68 orang ditangkap, 8 orang dihukum mati, 2 orang dilepaskan,” ujar Sadad.

Lalu, ke mana Supriyadi? Raib. Tak ada catatan apakah dia berhasil melarikan diri atau gugur dalam pemberontakan tersebut. Pada saat menghilang, Supriyadi masih belia, berusia 21 tahun.

“Karena itu, pesan saya untuk generasi muda, gali terus sejarah perjuangan pahlawan kita, ambil spiritnya,” kata Sadad yang namanya mulai mencengkeram di bursa Cagub Jatim 2024.

Para pahlawan, jelas Sadad, berjuang untuk kemerdekaan negeri tercinta. Tapi seperti pesan dalam konstitusi, kemerdekaan hanya pintu gerbang. Generasi muda yang bertugas mewujudkan cita-cita kemerdekaan, cita-cita proklamasi kemerdekaan 1945.

“Mari kita memperingati Hari Pemberontakan PETA, 14 Februari, 77 tahun yang lalu,” tuntasnya.

» Baca berita terkait Anwar Sadad. Baca juga tulisan terukur lainnya Roy Hasibuan.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -