Senin, 23 Mei 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

3 Tahun Khofifah-Emil, Anwar Sadad: Makin Banyak Orang Miskin di Jatim!

Berita Terkait

KEMISKINAN TINGGI: Anwar Sadad, penduduk miskin di Jatim makin banyak di tiga tahun kepemimpinan Khofifah-Emil. | Foto: IST
KEMISKINAN TINGGI: Anwar Sadad, penduduk miskin di Jatim makin banyak di tiga tahun kepemimpinan Khofifah-Emil. | Foto: IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Hari ini, Minggu, 13 Februari 2022, genap tiga tahun duet Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak memimpin Jatim. Inilah catatan kritis Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadad.

Legislator yang juga ketua DPD Partai Gerindra Jatim itu menuturkan, kinerja Khofifah-Emil seharusnya lebih substantif, tidak hanya bertumpuh pada angka-angka statistik.

“Ini kan penting, bahwa kerja pembangunan, kinerja keberhasilan itu ya harus ke arah yang lebih substantif, tidak semata angka-angka statistik,” katanya pada Barometerjatim.com.

Sadad mencontohkan, baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan di Jatim turun menjadi 4,25 juta orang (10,59%) pada September 2021 atau berkurang 313,13 ribu orang (0,81%) terhadap Maret 2021 sebanyak 4,57 juta orang (11,40%) dan turun 0,87% terhadap September 2020.

“Penurunan kita apresiasi. Tapi itu kan y-on-y. Artinya, coba bandingkan ketika pertama kali Bu Khofifah dilantik menjadi gubernur dengan sekarang tiga tahun kemudian. Membandingkan jangan q-to-q atau y-on-y, tapi waktu pertama dilantik itu berapa angka kemiskinannya,” paparnya.

Mengingat Khofifah-Emil dilantik pada 13 Februari 2019, menurut Sadad, waktu terdekat untuk mengukur kinerjanya ketika itu yakni September 2019. Ini karena data kemiskinan dirilis BPS pada Maret dan September.

“Di September 2019 angkanya di 4 juta lho,” sindir politikus keluarga Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogori, Pasuruan yang akrab disapa Gus Sadad tersebut.

Dilihat dari data BPS, angka kemiskinan Jatim pada September 2019 yakni 4,056 juta orang (10,20%) atau turun dari Maret 2019 sebanyak 4,11 juta orang (10,37%). Namun di era Soekarwo-Saifullah Yusuf, tren penurunan angka kemiskinan juga sudah terjadi sejak September 2015 dari 4,70 juta orang (12,28%) hingga 4,11 juta orang (10,37%) pada Maret 2019.

“Sekarang di September 2021, angkanya di bawah 4 juta atau di atas 4 juta? Kalau di bawah 4 juta berarti berhasil, tapi kalau angkanya masih di atas 4 juta (4,25 juta/10,59%)? Jadi kalau dibandingkan ketika pertama kali dilantik menjadi gubernur dan setelah tiga tahun, ya makin banyak dong orang miskinnya,” jlentreh Sadad.

Jangan Bertumpu pada Statistik

KEMISKINAN DI JATIM: Perkembangan penduduk miskin di Jawa Timur Maret 2011 hingga September 2019. | Sumber: BPS Jatim
KEMISKINAN DI JATIM: Perkembangan penduduk miskin di Jawa Timur Maret 2011 hingga September 2019. | Sumber: BPS Jatim

Nah, itulah sebabnya ditekankan Sadad agar jangan bertumpu pada angka statistik semata. “Kalau statistik, karena y-on-y maka dibandingkan dengan September 2020 mungkin turun (4,58 juta/11,46%). Ya ketika itu kan puncaknya pandemi Covid-19, sekarang sudah mulai agak reda,” katanya.

Maksud Sadad, angka statistik penting untuk mengukur seberapa jauh kinerja yang didapatkan tapi jangan kemudian berpuas diri. Jangan berpuas diri dengan capaian angka-angka statistik.

“Kalau hanya bertumpu pada statistik, begitu kita buka angkanya oh ternyata sampai tiga tahun menjadi gubernur kemiskinan bukan tambah turun, tapi malah naik!” jelasnya.

Apalagi, meski turun 313,13 ribu jiwa di September 2021, data BPS menyebut secara keseluruhan angka 4,25 juta orang menempatkan Jatim sebagai provinsi dengan penduduk miskin terbanyak di Indonesia secara jumlah. Disusul Jawa Barat (4 juta) dan Jawa Tengah (3,93 juta).

Namun secara persentase, provinsi dengan penduduk miskin tertinggi yakni Papua (27,83%), disusul Papua Barat (21,82%) dan Nusa Tenggara Timur (20,44%). Sedangkan DKI Jakarta memiliki penduduk miskin cukup rendah, 498 ribu (4,67%).

“Jadi ini harus mendorong Bu Khofifah untuk menjelaskan, bahwa butuh kerja sama semua pihak. Bahwa menurunkan angka kemiskinan tidak bisa dilakukan dengan ujug-ujug, butuh proses. Jangan kemudian memainkan angka statistik menjadi politiking, kan akhirnya mempolitisasi statistik,” ujarnya.

Tak hanya mengkritisi, Sadad yang sudah empat periode menjadi wakil rakyat di DPRD Jatim juga mengapresiasi sejumlah keberhasilan duet Khofifah-Emil, terutama dalam menjaga kondusifitas di Jatim.

“Sangat kondusif Jatim, relatif tidak ada guncangan-guncangan di Jatim. Menurut saya itu satu hal yang patut diapresiasi,” tuntasnya.

BERKUTAT DI 4 JUTA: Tiga tahun Jatim dipimpin Khofifah-Emil, jumlah orang miskin berputar-putar di angka 4 juta.
BERKUTAT DI 4 JUTA: Tiga tahun Jatim dipimpin Khofifah-Emil, jumlah orang miskin berputar-putar di angka 4 juta.

» Baca berita terkait Kemiskinan. Baca juga tulisan terukur lainnya Roy Hasibuan.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -