Pasca Risma, Gerindra: Saatnya Wali Kota Surabaya dari NU!

SAATNYA NU: Anwar Sadad, saatnya Surabaya dipimpin wali kota dari NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SAATNYA NU: Anwar Sadad, saatnya Surabaya dipimpin wali kota dari kalangan NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad berharap besar wali kota Surabaya pasca kepemimpinan Tri Rismaharini alias Risma berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

“Ya, ini sudah saatnya, wali kota Surabaya dari NU!” tegas politikus senior yang juga wakil ketua DPRD Jatim tersebut pada Barometerjatim.com, Senin (21/10/2019).

Sadad punya harapan besar, karena Surabaya kota penting bagi NU dan hingga kini belum ada wali kota dari NU. “Kenapa? Karena NU lahir di Surabaya, bukan di Jombang lho,” katanya.

“Memang tokoh-tokoh pentingnya berasal dari Jombang, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, tapi lahirnya itu di Bubutan Gang VI, makanya saya punya harapan besar,” paparnya.

Politikus yang masih keluarga Ponpes Sidogiri, Pasuruan itupun mengajak politisi NU, yang ‘darahnya’ masih hijau, untuk berjuang bersama mewujudkan wali kota Surabaya pasca Risma dari kalangan NU.

Di sisi lain, Sadad juga bergembira, karena banyak kandidat yang memiliki background NU punya cukup keberanian untuk bertarung di Pilwali Surabaya 2020.

“Meskipun dalam berwacana untuk maju, ada banyaklah, tanpa saya harus menyebut satu persatu,” katanya.

Namun dia menegaskan, apakah para figur yang muncul sudah sesuai harapan, yang bisa menerjemahkan bahwa Surabaya kota penting bagi umat Islam dan NU sekaligus menjembataninya dengan kelompok nasionalis, ini yang perlu dilihat lagi.

“Sebab yang tergambar dari pidato Bung Tomo, (pekik) Merdeka! dan Allahu Akbar! itu harus merefleksikan figur yang bisa menjadi jembatan efektif bagi dua kekuatan besar: Kubu nasionalis dan religius,” jelasnya.

Seperti diketahui, sejumlah figur dari kalangan NU meramaikan bursa Pilwali Surabaya 2020. Mereka di antaranya Dwi Astuti, Lia Istifhama dan Ali Azhara. Ketiganya bahkan ikut penjaringan partai.

Lalu Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans (pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang), dan Muhibbin Zuhri (ketua PCNU Surabaya). Keduanya belum declare maju atau bisa jadi tidak maju.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, NU