SSC: Jadi Mensos, Panggung Politik Risma Lebih Luas di 2024!

PANGGUNG RISMA: Mochtar W Otomo, panggung politik Risma di 2024 lebih luas dengan jabat Mensos. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PANGGUNG RISMA: Mochtar W Otomo, panggung politik Risma di 2024 lebih luas dengan jabat Mensos. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma ditunjuk Presiden Jokowi menjabat Menteri Sosial (Mensos) menggantikan Juliari Batubara yang menjadi tersangka KPK terkait dugaan korupsi bantuan sosial Covid-19.

Pengamat Politik Mochtar W Otomo merespons positif penunjukan tersebut. Sebab, dari sisi apapun Risma layak mendapat kepercayaan sebagai menteri setelah dua periode mampu memimpin dan mengangkat Surabaya ke level lebih tinggi dengan segenap kinerja, dedikasi, dan prestasinya selama ini.

“Ini tentu capaian yang pantas mendapatkan apresiasi. Selamat dan semangat atas ditunjuknya Bu Risma sebagai Mensos,” kata pengamat yang juga Dirut Surabaya Survey Center (SSC) tersebut, Selasa (22/12/2020).

Secara politis, lanjut Mochtar, capaian ini bisa diinterprtasikan sebagai capaian strategis Risma untuk mebangun jalan politik berikutnya. Baik dikaitkan dengan konteks Pilgub DKI maupun Pilgub Jatim ke depan, atau bahkan dikaitkan dengan konstalasi politik 2024.

“Karena dengan jabatan baru ini, Risma menjadi memiliki panggung politik yang jauh lebih besar dan lebih luas,” katanya.

Tapi terlepas dari sisi politis, jabatan baru Risma juga amanah yang tidak ringan, mengingat banyak PR dan tantangan yang harus dijawab Risma untuk bisa menjawab ekspektasi publik.

“Pertama, sabagai Mensos Risma akan langsung berhadapan dengan situasi sosial yang pelik. Pandemi Covid-19 yang masih jauh dari kata akhir menyisakan banyak problem sosial yang harus mendapat perhatian dan penyeselesaian,” paparnya.

“Ditambah lagi sekarang ini masuk ke bulan-bulan dengan cuaca dan curah hujan yang tidak menentu, yang memungkinkan menculnya banyak bencana dan musibah alam,” sambung Mochtar.

Kedua, sebagai Mensos baru Risma harus menghadapi berbagai problem internal kementerian yang ditinggalkan Mensos sebelumnya hingga membuatnya terkena OTT KPK.

“Kooordinasi, konsolidasi dan berbagai pembenahan internal kementerian, tentu bukan hal yang gampang dan memerlukan energi tersendiri,” ucapnya.

Ketiga, lanjut Mochtar, sebagai mensos baru Risma mau tidak mau harus berhadapan dengan citra diri lembaga Kemensos yang bisa dibilang ada pada titik nadir dengan berbagai kasus yg menjerat Mensos-Mensos sebelumnya.

“Mengembalikan citra diri Kemensos tentu bukan pekerjaan gampang yang bisa ditempuh dengan cepat. Setidaknya Risma harus membuktikan Kemensos akan lebih bersih dan berintegrasi ke depannya,” ujarnya.

Keempat, selama ini Kemensos selalu dikaitkan dengan kepentingan politik jejaring partai. Dalam hal ini Risma memiliki tantangan besar untuk bisa menunjukkan kepada publik, bahwa kementerian ini bisa independen dari kepentingan politik jejaring partai.

“Dalam konteks ini, Risma telah berhasil menunjukkan keberhasilannya bisa lepas dari kepentingan oligarki politik selama dua periode jadi wali kota surabaya. Setidaknya itu yang dibaca oleh publik. Dan mudah-mudahan kembali bisa Risma buktikan saat menjadi Mensos,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Risma