Polda Jatim Bongkar Narkoba di Ponpes, Simak Reaksi Gus Hans!

MUSNAHKAN NARKOBA: Gus Hans (baju putih), turut saksikan pemusnahan barang bukti narkoba di Polda Jatim. | Foto: IST
MUSNAHKAN NARKOBA: Gus Hans (baju putih), turut saksikan pemusnahan barang bukti narkoba di Polda Jatim. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wah, makin meresahkan saja peredaran narkoba di Jatim. Semua tempat disasar, tak terkecuali lingkungan pondok pesantren (Ponpes), bahkan melibatkan oknum santri dan alumni.

Hal itu terungkap saat pemusnahan barang bukti narkotika dan obat-obatan terlarang menjelang Ramadhan di Markas Polda Jatim, Senin (12/4/2021). Dari 1.800 kasus, 15 di antaranya menyasar pesantren.

Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, KH Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans, mengapresiasi langkah Polda yang bersikap tegas terhadap siapa pun termasuk di kalangan pesantren.

“Justru kami merasa terbantu dengan gerakan ini, karena kalau sampai masuk pesantren dan itu bisa masif gerakannya, bisa sangat berbahaya,” kata Gus Hans yang juga pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang, Sabtu (24/4/2021).

“Walaupun kalau kita lihat dari data, dari 1.800 kasus kan hanya 15 pesantren. Jadi kan nol koma sekian persen (0,8 persen) dari jumlah kasus yang ada,” sambungnya.

Kendati hanya 0,8 persen, bagi Gus Hans, persentase itu sudah terlalu banyak. Sehingga, dia berharap Polda tetap menjalankan tugasnya tanpa pandang bulu.

“Jadi saya kira, ini kita manfaatkan jadi cambuk agar lebih waspada. Tidak menjadikan orang tua takut dengan memondokkan anaknya, karena dari sisi persentasi kita masih jauh lebih kecil daripada komunitas yang lain,” ucapnya.

Mengapa barang haram bisa masuk di lingkungan pesantren? Menurut Gus Hans, tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang aman dari peredaran narkoba dan semuanya berpotensi terkena. Mau anak polisi, jaksa, kiai, pendeta, semuanya.

Lagi pula, tidak semua pesantren secara geografis tertutup dan memiliki spesifikasi yang berbeda-beda. Begitu pula dengan latar belakang santri.

“Ada yang memang orang tua tidak mempu meng-handle anaknya kemudian ditaruh di pesantren. Ada pesantren yang khusus nahwu shorof, ada yang tarekat, dan lain-lain,” jelasnya.

Beragam kategori itu, menurut Gus Hans, bisa mempengaruhi masuk dan tidaknya narkoba ke pesantren. Namun tidak semua masyarakat bisa membedaan klasifikasi pesantren.

“Mana pesatren yang klasifikasi A, B, atau C. Pesantren ya pesantren gitu aja. Nah ini yang harus kita luruskan bersama-sama,” katanya.

Antispisai pesentren? Menurut Gus Hans, kewaspadaan harus ditingkatkan. Terlebih di masa pendemi ini orang-orang sulit mencari uang sehingga menghalalkan segala.

“Maka tingkat kewaspadaan harus lebih ditingkatkan lagi, dengan mengaktifkan kegiatan-kegiatan yang positif kepada para snatri,” ujarnya.

Di sisi lain, Gus Hans juga mengingatkan Polda Jatim soal perkembangan kasus oknum polisi yang menerima setoran dari bandar narkoba, agar sama-sama berjalan baik.

“Jadi kita apresiasi kerja Polda bisa membantu melindungi pesantren, kita juga menunggu langkah tegas dari Polda untuk menindak oknum anak buahnya yang diduga menyalahgunakan wewenang yang dimiliki,” katanya.

» Baca Berita Terkait Narkoba