Pilwali Surabaya, Orang Dekat Jangan Malah Bebani Khofifah!

JANGAN BEBANI KHOFIFAH: Dwi Astuti (kiri) dan Lia Istifhama, disarankan memantaskan diri di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JANGAN BEBANI KHOFIFAH: Dwi Astuti (kiri) dan Lia Istifhama, perlu pantaskan diri di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY

SURABAYA, Barometerjatim.com – Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam mengingatkan orang dekat Khofifah Indar Parawansa yang declare maju di Pilwali Pilwali Surabaya 2020 agar memantaskan diri.

“Siapa saja yang maju dan punya irisan dengan Bu Khofifah, menurut saya wajib memantaskan diri dan mengukur kepantasannya sehingga tidak membebani beliau,” kata Surokim di Surabaya, Jumat (20/9/2019).

Apalagi elektabilitasnya belum signifikan, karena hingga kini belum ada satupun Parpol yang menyatakan siap mengusung orang dekat Khofifah. Karena itu, mereka punya waktu sekitar enam bulan, untuk menembuskan elektabilitasnya minimal mencapai 15 persen.

“Saya pikir beliau (Khofifah) akan prefer terhadap kandidat yang elektabilitasnya paling tinggi dan punya peluang menang lebih besar. Sulit juga membayangkan posisi beliau jika mendukung calon yang tidak berpeluang menang,” papar Surokim.

Seperti diketahui, dua orang dekat Khofifah menyatakan siap maju di Pilwali Surabaya, yakni  Lia Istifhama (keponakan) serta Wakil Sekretaris PW Muslimat NU Jatim, Dwi Astuti. Keduanya juga ikut penjaringan lewat PDIP dan mengikuti fit and proper test, Rabu (18/9/2019) lalu.

Sebenarnya ada satu lagi orang dekat Khofifah yang jauh lebih ‘berisik’ di bursa Pilwali Surabaya, yakni Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. Namun hingga kini mantan Jubir Khofifah-Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018 itu belum menyatakan declare.

Ukur dengan Survei

Surokim menambahkan, tidak mudah bagi Khofifah untuk menentukan dukungannya di Pilwali Surabaya pada salah satu orang dekatnya. Dikhawatirkan memicu resisten di antara sesama pendukung.

Namun cara terbaik untuk mendapat dukungan dari gubernur yang juga ketua umum PP Muslimat NU tersebut, yakni mengukur diri lewat survei untuk melihat tingkat popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas yang terukur.

“Menurut saya itu cara yang paling elegan dan juga berfatsun, sehingga memang pantas maju dan berharap dukungan dari Bu Khofifah,” tandas dekan FISIP Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Khofifah