Pengamat: Sebaiknya Whisnu Legowo dan Fokus Pilwali!

GANTI NAHKODA: Whisnu dan Awi (dua dari kanan) di arena Konfercab PDIP Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
GANTI NAHKODA: Whisnu dan Awi (dua dari kanan) di arena Konfercab PDIP Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat Politik, Surokim Abdussalam menilai ada dua pembacaan politik terkait keputusan DPP PDIP menunjukan Adi Sutarwijono (Awi) sebagai ketua DPC PDIP Surabaya periode 2019-2024, menggantikan Whisnu Sakti Buana.

Pertama, soal regenerasi, mengingat Whisnu sudah tiga periode atau 15 tahun berada di jajaran pimpinan PDIP Surabaya. Whisnu menjadi sekretaris selama lima tahun pada 2005-2010, lalu ketua selama 10 tahun pada 2010-2020.

”Bacaan saya, Mas Whisnu mungkin dianggap sudah tiga kali, untuk regenerasi kepemimpinan,” ujar Surokim pada wartawan di Surabaya, Senin (8/7/2019).

Bacaan politik yang kedua, lanjut Surokim, yakni memberi ruang pada Whisnu agar fokus menghadapi Pilwali Surabaya 2020. Keputusan DPP tersebut dilakukan saat Pilwali kurang 15 bulan lagi atau digelar September 2020.

”Bisa jadi DPP sedang memberikan kesempatan untuk Mas Whisnu biar fokus di persiapan Pilwali,” nilai dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.

Menurut Surokim, Pilwali Surabaya memang membutuhkan fokus khusus dari Whisnu, mengingat peta persaingan lebih kompetitif karena tak ada lagi figur sangat kuat sekelas Tri Rismaharini.

Merujuk hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) yang dirilis Januari 2019, nama Whisnu memang masih cukup kuat. Hanya saja, elektabilitasnya masih jauh dari angka psikologis 50 persen. Masih di angka 15,4 persen.

”Sehingga jalan yang paling elegan saat ini (adalah) menerima (keputusan DPP PDIP) itu dengan legowo, lalu mencoba fokus persiapan Pilwali. Lebih baik jika Mas Whisnu legowo dan fokus pada persiapan Pilwali,” katanya.

Politisi Jangan Baper

Peneliti senior SSC itu menambahkan sifat politik memang selalu dinamis dan tidak harus disertai dengan baper (bawa perasaan) yang berlebihan.

“Politisi harus tangguh, situasi faktualnya harus dibaca dengan jernih. Dan menurut saya, sikap positif yang harus dijadikan respons Mas Whisnu untuk melihat situasi seperti sekarang ini,” terangnya.

”Reaksi Mas Whisnu dan pendukungnya bisa kontrapraduktif. Dengan melawan DPP, peluang Mas Whisnu akan semakin kecil di DPP (untuk pencalonannya di Pilwali 2020),” imbuhnya.

Dalam pembacaan Surokim, PDIP adalah partai dengan komando yang kuat. ”Sejauh yang saya tahu, tipikal DPP semakin dilawan akan semakin susah,” ujarnya.

Tapi dengan tidak menolak keputusan DPP, lanjut Surokim, sekaligus mengurangi tensi politik dan mengeliminasi faksi-faksi di PDIP Surabaya. Sehingga, seluruh kekuatan PDIP bisa fokus menatap Pilwali Surabaya 2020.

Sebelumnya, Konfercab PDIP Surabaya diwarnai kericuhan karena DPP menunjuk Awi. Padahal hasil Rakercab yang diikuti 31 PAC se-Surabaya tetap menginginkan Whisnu Sakti Buana.

» Baca Berita Terkait PDIP, Megawati