Pengamat: Guntur Soekarno Usung Isu Usang di Pilgub Jatim

USUNG ISU USANG: Mochtar W Oetomo (kanan), simbol kekuatan Nasionalis-Islam yang diusung Guntur Soekarno isu usang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN/IST
USUNG ISU USANG: Mochtar W Oetomo (kanan), simbol kekuatan Nasionalis-Islam yang diusung Guntur Soekarno hanya isu usang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN/IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sebagai ayah, semangat berapi-api Guntur Soekarno untuk memenangkan putrinya, Puti Guntur yang berpasangan dengan Cagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Pilgub Jatim 2018 sah-sah saja.

Hanya saja, statemen-nya yang menyebut Gus Ipul-Puti sebagai simbol bersatunya kekuatan Nasionalis-Islam — yang memiliki sejarah kuat dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) — dinilai pengamat sebagai “isu usang”.

“Soal perkawinan ideologi nasionalis dan religius, saya rasa sudah selesai sejak (Pilgub Jatim) 2008. Ini juga sudah selesai dengan bersatunya Gus Ipul-Puti serta Khofifah-Emil,” kata Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Mochtar W Oetomo, Minggu (13/5).

• Baca: 5 Kali Emil Bikin Gus Ipul ‘Mati Gaya’ di Panggung Debat

Pertarungan wacana di Pilgub Jatim 2018, tandas pengamat yang juga Direktur Surabaya Survey Center (SSC) itu, mestinya tidak lagi berputar pada dukung-mendukung di wilayah politik identitas atau ideologi.

“Apalagi setelah dua kali debat publik, mestinya pertarungan wacana sudah mengarah dan menukik pada persoalan ketersediaan program masing-masing paslon dalam upaya mengatasi berbagai problem masyarakat, menjawab berbagai tantangan Jatim ke depan,” paparnya.

Diskursus yang lebih cantik, tandas Mochtar, adalah bagaimana mengejawantahkan perkawinan ideologis ‘Ijo-Abang’ ke dalam visi-misi program kerja dan aplikasi yang taktis dan akseleratif.

• Baca: Rapor Debat, Pengamat: Gus Ipul-Puti Kurang Kuasai Materi

Sebelumnya, Guntur yang berpidato saat  acara temu kangen eksponen Soekarnois dan Marhaenis se-Jatim di Surabaya, Jumat (11/5) sore, menantang siapa saja yang menghalangi ‘kemenangan’ Gus Ipul-Puti.

“Saya menantang siapa saja yang menghalangi kemenangan Gus Ipul-Puti, saya putra sulung Bung Karno,” kata Guntur. Baginya, Gus Ipul-Puti adalah simbol bersatunya kekuatan Nasionalis-Islam yang memiliki sejarah kuat dalam mewujudkan NKRI.

Karena itu, dia menyerukan agar kelompok Marhaenis dan Soekarnois ramai-ramai mencoblos pasangan nomor dua saat pemungutan suara, 27 Juni nanti. Bahkan, yang tidak berusaha memenangkan Gus Ipul-Puti disebutnya sebagai “kambing loncat” yang tidak kuasa menahan godaan harta.

• Baca: Debat Kedua: Puti ‘Tak Bunyi’, Gus Ipul ‘Kelimpungan’ Sendiri

Apakah secara otomatis Soekarnois dan Marhaenis bakal mengikuti seruan Guntur? Menurut Moechtar harus dibedakan. Dalam konteks pendidikan politik, seruan tersebut mungkin relevan.

“Tapi dalam konteks pertarungan politik saya rasa sudah selesai. Puti harus menemukan ide pertarungan yang lebih original dan ekspansif,” tegasnya.

Puti ‘Tak Ofensif’

Lagi pula, saat debat publik kedua Pilgub Jatim, Selasa (8/5) lalu, Puti malah ‘tak berbunyi’ dan Gus Ipul beberapa kali terlihat kelimpungan meladeni pertarungan data dan angka yang ‘diberondongkan’ Khofifah-Emil Dardak.

Alih-alih Puti tampil ofensif seperti nasihat Guntur, hingga tiga segmen debat berlangsung selama 20 menit, keponakan Sukmawati Soekarnoputri itu nyaris ‘tak berbunyi’ dan membiarkan Gus Ipul ‘berkeringat’ sendirian menghadapi aksi kompak paslon nomor satu.

Puti baru buka suara ketika debat memasuki segmen ketiga selama 16 menit 80 detik, itupun karena diminta Gus Ipul untuk menambahi tanggapannya. Puti lantas tampil, tapi hanya sekitar 50 detik sebelum segmen ketiga berakhir.

• Baca: Khofifah ‘Buru’ Gus Ipul soal 750 Ribu Lapangan Kerja Baru

Sampai-sampai Gus Ipul terlihat ‘kelimpungan’ sendiri meladeni serangan Emil di segmen berikutnya, “Iya, sebenarnya sama sih pandangan kita. Tidak ada perbedaan, tetapi intinya mungkin soal skala prioritas,” kata Gus Ipul menjawab pertanyaan Emil soal infrastruktur jalan.

Gus Ipul bahkan memuji paparan Emil soal energi terbarukan. “Nah, untuk itulah apa yang disampaikan oleh Mas Emil tadi sungguh sangat bagus untuk kita teruskan, kita kembangkan di berbagai tempat. Yang bagus ya harus dikatakan bagus dan seterusnya,” katanya.