5 Kali Emil Bikin Gus Ipul ‘Mati Gaya’ di Panggung Debat

AKSI "WOW" EMIL DARDAK: Emil Dadak (kiri) tampil memukau di panggung debat kedua Pilgub Jatim, bahkan beberapa kali Gus Ipul dibuat 'mati gaya'. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
AKSI “WOW” EMIL DARDAK: Emil Dadak (kiri) tampil memukau di panggung debat kedua Pilgub Jatim, bahkan beberapa kali Gus Ipul dibuat ‘mati gaya’. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

Debat publik kedua Pilgub Jatim 2018 menyisakan beragam cerita. Mulai konsep busana paslon nomor satu yang penuh makna, Puti Guntur yang ‘miskin bicara’, hingga lima kali Emil Dardak membuat Gus Ipul ‘mati gaya’.

KHOFIFAH Indar Parawansa memenuhi janji. Suguhan “kejutan” saat debat publik kedua Pilgub Jatim 2018 di Gedung Dyandra Convention Center, Selasa (8/5) malam, terbukti.

Dari sisi konsep busana, perbedaan terlihat tajam. Khofifah, ketua umum PP Muslimat NU itu, biasanya kerap memakai baju warna putih, kali ini tampil mengenakan batik khas Madura. Pun demikian Emil Dardak. Memakai jas lengkap dengan dasi serta potongan rambut rapi, potret profesional muda sekaligus mengesankan representasi generasi milenial.

Tak sekadar beda dalam konsep busana. Penampilan Khofifah-Emil di atas panggung lebih ‘menggila’ dibandingkan debat pertama. Data yang disuguhkan sangat memadai, pilihan kata dan diksi relevan dengan substansi materi, pesan yang disampaikan clarity, serta bahu-membahu meladeni Cagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul) karena Puti lebih banyak diam menanti.

• Baca: Di Panggung Debat, Gus Ipul ‘Doakan’ Khofifah Jadi Gubernur

Sampai-sampai Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo tak kuasa menahan pujiannya. ”Intonasinya juga bagus, gesturenya tampak selalu tersenyum dan terlihat tenang dan siap,” ujarnya.

Khusus Emil, wow! Rupanya dia sengaja merubah strategi. Memang, aksi panggungnya tak ‘seagresif’ debat perdana, namun kali ini lebih jeli, mengincar titik lemah lawan terkait data dan angka. Suami Arumi Bachsin itu sadar betul, kalau tema debat “ekonomi dan pembangunan” merupakan dua bidang yang sangat dikuasainya.

Benar saja! Tercatat lima kali “Orang Infrastruktur” itu — mengutip julukan Emil dari mantan Deputi Bidang Sarpras Bappenas, Dedy Supriadi Priatna — membuat Gus Ipul ‘mati gaya’ di atas panggung debat saat dicecar terkait kesejahteraan petani, infrastuktur dasar, energi terbarukan, geomembran dan infrastruktur jalan.

Gus Ipul pun terkesan pasrah. Bukannya balik mencecar, malah dua kali memuji Emil. Well, ini dia lima hal yang membuat Gus Ipul ‘mati gaya’ di panggung debat publik kedua Pilgub Jatim 2018:

1. Kesejahteraan Petani Tak Cukup Diselesaikan dengan Teknologi

SALING MENGISI: Tampil dengan konsep busana yang berbeda, Khofifah-Emil bahu-membahu meladeni Gus Ipul-Puti di panggung debat kedua Pilgub Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
SALING MENGISI: Tampil dengan konsep busana yang berbeda, Khofifah-Emil bahu-membahu meladeni Gus Ipul-Puti di panggung debat kedua Pilgub Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

Menurut Gus Ipul, setiap tahun lahan subur berkurang karena beralih fungsi menjadi tempat industri dan perumahan. Maka pilihannya adalah menghadirkan teknologi dalam dunia pertanian.

“Jatim kali ini menerapkan agrobisnis hulu-hilir, dimana ada hamparan 200-400 hektar milik kelompok tani atau gabungan kelompok tani, yang kemudian diproses melalui sebuah pertanian modern tanpa lagi mengharap bibit subsidi, maupun pupuk subsidi,” katanya.

Soal pembiayaan, papar Gus Ipul, “Semuanya dari bank dan dikemas ke dalam bentuk kemasan beras premium dengan menghadirkan teknologi terbaru. Ini sudah dimulai dan di atas kertas pendapatan petani akan meningkat sampai 52 persen.”

• Baca: Debat Kedua: Puti ‘Tak Bunyi’, Gus Ipul ‘Kelimpungan’ Sendiri

Apa tanggapan Emil? Suami Arumi Bachsin itu sepakat bahwa teknologi pertanian — termasuk rice milling unit — adalah keniscayaan. Tapi tidak semata-mata teknologi yang dibutuhkan petani. “Pada kenyataanya, penyaluran kredit kepada kelompok petani masih terkendala banyak hal,” katanya.

Masalahanya, lanjut Emil, “Ada pada agunannya, pendataannya, termasuk beberapa petani hutan karena masalah RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Karena itu kita harus bisa menjawab masalah ini secara holistik, bagaimana menyalurkan kredit kepada kelompok tani,” katanya.

Khofifah pun tak tinggal diam, “Penguatan Gapoktan menjadi penting, supaya proses pada saat memproteksi, terutama harga saat panen betul-betul bisa terkawal dan saya bersama Pak Emil berharap bisa mempercepat kesejahteraan petani Jatim.”

2. Infrastuktur Dasar, Gus Ipul Sependapat dengan Emil

KONSEP BUSANA BERBEDA: Khofifah dan Emil Dardak tampil dengan konsep busana yang berbeda saat debat publik kedua Pilgub Jatim 2018. | Foto: Ist
KONSEP BUSANA BERBEDA: Khofifah dan Emil Dardak tampil dengan konsep busana yang berbeda saat debat publik kedua Pilgub Jatim 2018. | Foto: Ist

Emil menuturkan, “Kita memiliki banyak sekali kompleksitas dalam pemenuhan infrastruktur dasar dan ini adalah realitas yang dihadapi hampir di seluruh kabupaten/kota di Jatim.”

Karena itu, tambahnya, dalam menentukan prioritas harus memiliki struktur dan paslon nomor satu mendorong pengembangan infrastuktur berbasis wilayah lewat tujuh koridor. “Yang akan menggambarkan secara hoistik pengembangan kawasan dari mulai selatan, utara, timur dan barat secara afirmatif.”

Dalam kaitannya dengan pemenuhan infrastruktur dasar dan SDG’s (Sustainable Development Goals), jabar Emil, harus digunakan pembiayaan holistik gotong royong alias bukan hanya mengandalkan government budget tapi bisa lewat CSR (Corporate Social Responsibility) serta swadaya masyarakat.

• Baca: Pakar Ekonomi: Khofifah-Emil Unggul Telak di Debat Kedua

“Teknologi semakin berkembang dan semoga ini bisa mendorong capaian-capaian infrastruktur dasar, seperti sanitasi, air minum dan tentu infrastruktur lainnya yang diperlukan untuk kehidupan masyarakat Jatim,” papar Emil.

Apa tanggapan Gus Ipul? “Saya sependapat,” katanya yang disambut gemuruh pendukung paslon nomor satu, sementara Khofifah-Emil terlihat tersenyum tipis. Infrastruktur dasar, lanjut Gus Ipul, “Harus masuk ke rumah-rumah pendukuk yang tidak mampu, sanitasi, air bersih, dan juga rumah tak layak huni.”

3. Energi Terbarukan, Gus Ipul Puji Paparan Emil

SETIA TEMANI SUAMI: Arumi Bachsin selalu setia menemani sang suami, Emil Dardak selama running Pilgub Jatim 2018. | Foto: Ist
SETIA TEMANI SUAMI: Arumi Bachsin selalu setia menemani sang suami, Emil Dardak selama running Pilgub Jatim 2018. | Foto: Ist

Soal energi terbarukan, Emil menjabarkan, masih banyak daerah di Jatim yang belum teraliri listrik karena biaya pokok produksi yang tinggi menyebabkan subsidi berat harus ditanggung PLN. Karena itu potensi penggunaan sumber energi terbarukan, harus digabungkan dengan jaringan mandiri yang bisa diakses di desa-desa.

“Saat ini ada opsi energi surya melalui fotovoltaik (PV), biogas, yang bukan hanya untuk mengaliri listrik ke rumah warga tapi juga untuk memanaskan air. Sehingga, peternak sapi perah bisa meningkatkan produksi susu sapinya,” katanya.

Tentu, tandas Emil, energi potensial di Jatim kalau bicara panas bumi maka capital intensive tidak mungkin dikembangkan berbasis masyarakat. “Tapi kalau kita bicara biogas, fotovoltaik sebenarnya masih ada peluang yang bisa digunakan. Bahkan lampu-lampu penerangan di jalan saja sudah menggunkan solar cell,” katanya.

“Apa yang disampaikan oleh Mas Emil tadi sungguh sangat bagus untuk kita teruskan, kita kembangkan di berbagai tempat. Yang bagus ya harus dikatakan bagus.”

Tanggapan Gus Ipul, memang sudah saatnya untuk mendorong kebupaten berkolaborasi dalam rangka menghadirkan pembangkit listrik tenaga sampah, karena kalau kabupaten menanggung sendiri-sendiri tidak cukup. Surabaya yang sudah memulai bisa dimulai pula di kabupaten/kota lainnya.

“Nah, untuk itulah apa yang disampaikan oleh Mas Emil tadi sungguh sangat bagus untuk kita teruskan, kita kembangkan di berbagai tempat,” katanya, sekali lagi, disambut gemuruh pendukung paslon nomor satu. “Yang bagus ya harus dikatakan bagus dan seterusnya,” tandas Gus Ipul soal alasannya memuji pemaparan Emil.

Emil menambahkan, “Terkait energi terbarukan, betul sudah ada pembangkit listrik tenaga sampah, biogas. Tapi dibandingkan di satu kabupaten bisa ada 30 ribu lebih sapi, apalagi se-Jatim, tujuh ribu biogas itu sama sekali tidak signifikan dengan potensi yang ada. Inilah PR besarnya,” katanya.

4. Maaf Gus Ipul, Geomembran Bukan Policy yang Inovatif

KRITISI PAK KARDIMAN: Khofifah tak kalah heboh dari Emil saat mengkritisi "Pak Kardiman", program yang digagas Gus Ipul-Puti. | Barometerjatim.com/MARIJAN AP
KRITISI PAK KARDIMAN: Khofifah tak kalah heboh dari Emil saat mengkritisi “Pak Kardiman”, program yang digagas Gus Ipul-Puti. | Barometerjatim.com/MARIJAN AP

Paparan Gus Ipul, “Masalah petani garam adalah masalah dukungan sarana dan prasarana dan yang dibutuhkan adalah bantuan seperti geomembran. Itu cukup membantu dan meningkatkan produktivitas mereka.”

Apa tanggapan Emil? “Geomembran bukan hal baru, sudah diberikan, sudah dijadikan bantuan. Jadi kalau kita menyebut itu, tentukan bukan policy yang inovatif. Tapi menjadi inovatif kalau kita memperhatian masalah ketebalannya.”

• Baca: Rapor Debat, Pengamat: Gus Ipul-Puti Kurang Kuasai Materi

Soal mengolah garam, tandas Emil, kemampuan putra Madura sudah luar biasa. Tinggal didorong kemampuan produktivitasnya. Terlebih masuknya garam impor sudah mendapat public pressure luar biasa agar tidak sembarangan mengimpor garam kalau kita produktif.

Memang, kata Emil, sempat ada anomali cuaca yang menyebabkan kelangkaan. Tapi lebih dari itu, mata rantainya, tata niaganya, harus dibuat lebih berkeadilan untuk petani garam. Solusinya? “Kita sudah siapkan Informasi Super Koridor yang akan kita dorong menjadi solusi bagi par petani garam,” tegas Emil.

5. Emil Luruskan Gus Ipul Soal Data Infrastuktur Jalan

SIKAP KESATRIA: Meski membuat Gus Ipul 'mati gaya' di panggung debat, Emil tetap menunjukkan rasa hormat kepada rivalnya. | Barometerjatim.com/MARIJAN AP
SIKAP KESATRIA: Meski membuat Gus Ipul ‘mati gaya’ di panggung debat, Emil tetap menunjukkan rasa hormat kepada rivalnya. | Barometerjatim.com/MARIJAN AP

Terkait infrastuktur jalan, paslon nomor dua menjanjikan pembenahan jalan mencapai kurang lebih 99 persen jalan di provinsi harus dalam kondisi baik. Belum lagi ditambah mengakselerasi jalan naisonal dan kabupaten/kota.

Pertanyaan paslon nomor satu untuk paslon nomor dua, “Bagaimana paslon nomor dua menjelaskan secara rinci untuk pencapaian ini, sumber pembiayaannya, panjang prioritas hingga target capaian waktu, karena ini sangat penting bagi seluruh rakyat Jatim untuk dicerahkan?” tanya Emil.

Jawaban Gus Ipul, “Dari 1.000 kilometer lebih yang menjadi tanggung jawab provinsi ada beberapa yang menjadi prioritas kami. Selain pemeliharaan, ada juga peningkatan jalan, supaya masyarakat memperoleh pelayanan yang baik, dan terakhir penambahan jalan,” katanya.

“Iya, sebenarnya sama sih pandangan kita (dengan Emil). Tidak ada perbedaan, tetapi intinya mungkin soal skala prioritas.”

Nah, tambah Gus Ipul, “Kondisi sekarang 80 persen dalam keadaan baik, maka itu kita punya kemampuan untuk memperbaiki jalan yang sekarang menjadi milik provinsi.”

Apa tanggapan paslon nomor satu? Emil memulai dengan meluruskan data yang disampaikan Gus Ipul. “Tepatnya 1.421 kilometer itu jalan provinsi, jalan nasional 2.300 kilometer, jalan kabupaten/kota 20-an ribu ke atas. Nah, yang kurang tepat, mohon maaf, perawatan tidak meningkatkan grade jalan dari rusak berat menjadi rusak, rusak menjadi sedang, sedang menjadi baik,” katanya.

Emil juga menyebut Gus Ipul tertukar data antara mantap dengan baik. “Data kami dari Data Dinamis (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah/Bappeda Jatim) dari 1.421 kilometer, 690-an kilometer saja yang baik, kemudian ada 490-an kilometer itu yang sedang,” jelasnya.

• Baca: Debat Kedua, Pendukung Paslon Nomor 2 Kembali Berulah

“Nah, di sini sebenarnya jalan provinsi, 840 kilometer belum sesuai standar yang seharusnya menjadi perhatian. Bukan hanya mengejar baik 99 persen, tapi 840 kilometer yang sisanya belum standar tadi harus di-upgrade,” kata Emil merinci.

“Belum lagi perawatan rutin. Maka dengan anggaran hanya sekitar Rp 1 trilun untuk Dinas PU (Pekerjaan Umum), tentu kecermatan menjadi penting untuk dipahami masyarakat agar pemimpinnya dapat menjawab apa yang menjadi kebutuhan,” tambahnya.

Lantas, apa tanggapan Gus Ipul? “Iya, sebenarnya sama sih pandangan kita,” katanya, lagi-lagi disambut gemuruh pendukung paslon nomor satu. “Tidak ada perbedaan, tetapi intinya mungkin soal skala prioritas,” katanya.