Penerus Risma, Bara JP: Siapa Lagi Kalau Bukan Gus Hans!

Giyanto (kiri), sebut Gus Hans (kanan) paling cocok pimpin Surabaya pasca Risma. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Memasuki 2019, dorongan agar KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans maju sebagai calon wali kota di Pilwali Surabaya 2020, mengalir deras dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya Bara JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) Jatim.

Mengapa Gus Hans yang didorong maju, bisakah meneruskan success story Tri Rismaharini alias Risma? “Siapa lagi yang punya pemikiran seperti dia. Sosok muda, punya loncatan-loncatan strategis,” kata Ketua DPD Bara JP Jawa Timur, Gianto Wijaya di Surabaya, Rabu (6/2/2019).

Bagi Giyanto, usai 40-an dan 50-an atau 60-an jelas beda pola pikirnya untuk konteks saat ini. Begitu pula dengan usai 20-an dan 30-an.

“Apa yang tidak terpikirkan olah usia 60-an, itu bisa dilakukan usia 20-an lewat ide-ide kreatif karena teknologi berkembang demikian cepat,” kata Giyanto.

“Di dunia sekarang ini, pemimpin-pemimpin baru banyak sekali. Miliuner baru banyak dari anak-anak muda. Banyak startup yang menjadi miliuner sekarang ini,” sambungnya.

Giyanto juga meyakini, Gus Hans bisa membawa Surabaya lebih baik lagi tanpa berada di bawah bayang-bayang kesuksesan Risma selama dua periode memimpin Kota Pahlawan.

“Saya yakin Gus Hans akan jauh lebih baik dari Risma. Saya yakin bisa itu, saya yakin bisa,” tandas Giyanto yang berandil dalam kemenangan Khofifah Indar Parwansa-Emil Elestianto Dardak di Pilgub Jatim 2018.

Karena itu, tegasnya, Bara JP mendorong Gus Hans maju dan akan mendukung penuh. “100 persen kita mendukung! Tapi bertahaplah, mappingmapping kita lakukan dulu,” ucapnya.

Pilwali Tak Lihat Partai

Saat ditanya, andai maju, bukankah Gus Hans akan berhadapan dengan calon dari PDI Perjuangan dan Surabaya dikenal sebagai ‘Kandang Banteng’, Giyanto menegaskan dalam Pilkada — termasuk Pilwali Surabaya — bukan partai yang dilihat, tapi sosok.

“Apapun partainya, asal sosok itu memiliki integritas, kapasitas dan kapabilitas, harus kita bantu dan kita dorong. Jadi, mohon maaf, kita tidak melihat partai sama sekali,” katanya.

Giyanto mencontohkan saat Pilgub Jatim 2018. “Mohon maaf, kemarin di Pilgub Jatim 2018, bahwa Surabaya walaupun kandang banteng, tetap Bu Khofifah yang menang kan,” katanya.

Artinya PDIP memungkinkan dikalahkan untuk kali kedua di kandangnya? “Kita tidak bicara seperti itu. Kita melihat Pilkada itu beda dengan Pileg, sangat-sangat beda,” ujarnya.

Apalagi, tambah Giyanto, “Masyarakat Surabaya ini demografinya sudah sangat rasional dan realistis, tidak bisa disetir partai. Mapping-nya seperti itu.” •

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Gus Hans