Kisah Kiai Wahab, ‘Raja Tanah’ yang Kuras Hartanya untuk NU

TELADANI MUASSIS NU: Gus Amak, ajak Rijalul Ansor berkhidmat dengan meneladani pengorbanan muassis NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
TELADANI MUASSIS NU: Gus Amak, ajak Rijalul Ansor berkhidmat dengan meneladani pengorbanan muassis NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

MOJOKERTO, Barometerjatim.com – Dahulu, KH Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) adalah kiai yang juga ‘Raja Tanah’. Namun di akhir hayatnya, tak ada satu pun tanah tersisa karena dibelanjakan untuk perjuangan dalam membesarkan NU.

Kisah itu dituturkan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor (RA) Jatim, KH Mohammad Nailur Rochman alias Gus Amak saat menyampaikan pidato pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Trawas, Mojokerto, Minggu (14/3/2021).

Rakerwil dibuka Ketua PW GP Ansor Jatim, Syafiq Syauqi (Gus Syafiq) dan dihadiri Ketua PP MDS Rijalul Ansor KH Raden Machfudz Chamid (Gus Afudz). Turut hadir Mustasyar PCNU Kabupaten Mojokerto KH Ahmad Muslich Abbas, serta Kadis dan Kabid Pariwisata Kabupaten Mojokerto.

Gus Amak, mengawali cerita dengan mengisahkan perjuangan Ibu Nyai Wahab. “Saya punya riwayat cerita dari turunan Mbah Wahab, dari paman saya sendiri,” kata Gus Amak yang juga pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Bayt Al Hikmah, Kota Pasuruan.

Menurut Gus Amak, dahulu Bu Nyai Wahab kalau ada acara NU, bahkan acara Ansor saat itu, sampai rela menjual perhiasannya untuk membelikan seragam pelantikan Ansor. “Ini Bu Nyai Wahab,” tandasnya.

“Dan dahulu Kiai Wahab itu Raja Tanah, mulai Jombang sampai Sidoarjo atau Mojokerto yang saya dengar. Tapi di akhir hayatnya ndak ada semua itu. Ketika ditanya keluarganya ke mana semua tanah-tanahnya, entek gawe (habis dibuat) NU,” sambungnya.

Mendengar kisah Gus Amak, sejenak suasana ruang pembukaan Rakerwil berubah hening. Beberapa peserta yang terdiri dari para kiai muda alias gus dan lora, terlihat menundukkan kepala sambil menutupkan kedua tangan ke muka tanda terharu.

“Nah kita ini seberapanya, yang kita keluarkan itu seberapanya dari pengorbanan beliau-beliau itu. Makanya dalam meneladani muassis, ya memang harus kita teladani rasa berkorbannya itu,” katanya.

Keberanian berkorban untuk NU ini, tandas Gus Amak, menjadi teladan dari muassis yang pertama kali harus ditiru. Kedua, khidmat dari muassis yang pantang mundur dan tidak mudah mengeluh.

“Saya bersyukur sekali di kalangan pengurus PW ini ada banyak orang-orang yang sangat optimistis, menguatkan kami,” katanya.

Pengorbanan Muassis NU

RAKERWIL RIJALUL ANSOR: Pembukaan Rakerwil Rijalul Ansor Jatim di di Trawas, Mojokerto. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
RAKERWIL RIJALUL ANSOR: Pembukaan Rakerwil Rijalul Ansor Jatim di Trawas, Mojokerto. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Ditemui Barometerjatim.com usai pembukaan Rakerwil, Gus Amak yang putra KH Idris Hamid itu menjelaskan lebih detail lagi bahwa meneladani muassis NU banyak segmen dan dimensi.

“Tapi yang paling perlu dan kita butuhkan sekarang, adalah kita meneladani sikap pengorbanan beliau-beliau untuk mengawal NU. Kalau kita mengingat pengorbanan muassis NU, kita ini masih tidak ada apa-apanya. Kita ini belum ada seberapanya,” papar Gus Amak.

“Jadi kalau merasa berat untuk berkhidmat saat ini kita harusnya malu, karena kita ini belum ada apa-apanya kalau dibanding dengan para muassis, para pendiri NU,” sambungnya.

Semangat pengorbanan muassis NU ini digelorakan Gus Amak agar kader NU, khususnya Rijalul Ansor, tidak patah semangat saat sedang mengalami banyak hambatan atau kesulitan dalam berkhidmat.

“Kita tidak boleh patah semangat, karena yang kita tiru adalah para kiai-kiai yang tangguh,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Rijalul Ansor