Khofifah Pasti Cari Kanal Koordinasi dengan PWNU Jatim

KANAL KOORDINASI DENGAN PWNU: Ahmad Zainul Hamdi, wajar bagi Khofifah jika berusaha memiliki kanal komunikasi dan koordinasi dengan PWNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KANAL KOORDINASI DENGAN PWNU: Ahmad Zainul Hamdi, wajar bagi Khofifah jika berusaha memiliki kanal komunikasi dan koordinasi dengan PWNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

PERBEDAAN dukungan di Pilgub Jatim 2018, membuat saluran komunikasi dan koordinasi antara Khofifah Indar Parawansa dengan elite Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim tersumbat.

Realitasnya, sekarang Khofifah adalah gubernur Jatim terpilih, bukan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang didukung elite struktural PWNU. Maka untuk membuka sumbatan saluran komunikasi dan koordinasi, Khofifah dinilai akan mencari kanal dari elite PWNU di Jatim periode berikutnya untuk mendukung pemerintahannya.

Momen itupun di depan mata. Pemilihan rais syuriyah dan ketua tanfidziyah lewat Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jatim di Ponpes Lirboyo Kediri, 28-29 Juli 2018, bisa menjadi ruang strategis bagi Khofifah untuk membongkar sumbatan sekaligus membangun kembali saluran tersebut.

• Baca: Pengamat: Dipimpin Orang Itu-itu Saja, Tak Baik buat PWNU

Akankah perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu berusaha menempatkan orangnya di posisi strategis PWNU Jatim, atau ada kompromi-kompromi lain yang bisa diselesaikan secara ke-NU-an?

Berikut wawancara Barometerjatim.com dengan Ahmad Zainul Hamdi, pengamat sosiologi agama dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya:

Konferwil menjadi momen strategis bagi Khofifah, untuk membangun saluran koordinasi dengan PWNU Jatim yang sempat tersumbat karena perbedaan di Pilgub. Akankah dia berusaha menempatkan orangnya dalam kontestasi rais syuriyah-ketua tanfidziyah?
Begini. Adalah hal yang wajar bagi gubernur Jatim, siapapun gubernur itu, apalagi dari NU, apabila berusaha sedemikian rupa agar memiliki kanal komunikasi dan bahkan koordinasi dengan PWNU Jatim. Itu sangat wajar, apalagi gubernurnya dari NU.

Nah, dalam konteks Bu Khofifah, publik tahu kalau dia tidak mendapatkan dukungan dari elite PWNU, karena waktu itu PWNU secara terbuka memberi dukungan ke Gus Ipul yang kalah. Sekalipun, realitasnya, di dalam PWNU juga terpecah. Sebagian elitenya ada yang mendukung Gus Ipul, sebagian ke Khofifah.

• Baca: Gus Ipul-Puti Kalah, Pengamat: PDIP ‘Menangis’, PKB Tidak!

Cuma yang mendukung Gus Ipul itu men-declare sebagai representatif dari PWNU. Padahal realitas di dalamnya, sebagian ada yang mendukung Khofifah, sebagian lagi ke Gus Ipul.

Mengapa dukungan ke Gus Ipul tampak lebih nyata, karena Kiai Mutawakkil sendiri sebagai ketua PWNU mendukung Gus Ipul. Nah, ketika Bu Khofifah terpilih sebagai gubernur, sangat wajar kalau kemudian mencari kanal komunikasi dan koordinasi dengan PWNU.

Dan kekuatan awal Khofifah pasca terpilih sebagai gubernur sudah ditunjukkan saat pemilihan ketua ISNU Jatim?
Ya, itu bisa kita lihat kekuatan Bu Khofifah ketika Konferwillub ISNU Jatim kemarin. Nah, apakah Bu Khofifah juga akan ‘bermain’ ketika Konferwil PWNU Jatim di Lirboyo Kediri? Saya tidak tahu persis!

Saya tidak mau membuat statement apapun, hanya statement saya yang digarisbawahi: Khofifah pasti ingin mencari kanal komunikasi dan koordinasi dengan PWNU Jatim. Apakah dia akan memasang orangnya untuk maju di Konferwil, ataukah mendukung incumbent itu soal lain.

Apakah tidak cukup dengan silaturahim ke struktural PWNU Jatim pasca Pilgub lalu?
Tergantung analisis Bu Khofifah. Kalau merasa bahwa dia tidak mendapat jaminan dukungan dari incumbent, wajar bagi dia untuk kemudian mendukung orang lain yang memberi jaminan dukungan.

Tapi kalau pertemuan kemarin itu sudah menemukan satu kesepakatan, serta jaminan dukungan dari PWNU kepada kepemimpinan Bu Khofifah sebagai gubernur, maka dia bisa mendukung incumbent. Jadi ini tergantung analisis kebutuhan saja.

Anda melihat pertemuan kemarin bagian dari upaya Khofifah untuk memastikan dukungan itu?
Saya kira pertemuan kemarin juga menjadi bagian dari upaya untuk memastikan dukungan itu ya. Saya tidak ikut dalam pertemuan, tapi perlu dibaca, yang pertama tentu saja silaturahim sesama orang NU. Kedua, menyangkut komunikasi dan koordinasi antara Bu Khofifah sebagai gubernur terpilih dengan PWNU.

Sekarang Khofifah gubernur terpilih. Tidakkah elite PWNU melihat realitas itu?
Saya kira dengan Gus Ipul tidak mengajukan gugatan, orang harus membaca bahwa itu kedewasaan NU. Setiap orang kalah itu pasti kecewa, tidak puas, merasa dicurangi, dimana-mana begitu. Tapi sejak awal Gus Ipul mengatakan, atas saran kiai-kiai, menerima hasilnya dan tak akan melakukan gugatan.

Dan sejauh yang saya tahu, di dalam tubuh NU Jatim sekarang orang kemudian mengonsolidasikan diri untuk tidak lagi terlalu larut dalam perseteruan di Pilgub. Sekarang semuanya menerima.

• Baca: ‘Debu’ Rivalitas Pilgub Jatim Bisa Berdesir di Konferwil PWNU

Bahwa ada kekecawaan itu pasti dan wajar, tapi tidak akan membelah NU dan tidak ada pembelahan. Itu bisa dilihat di dalam ISNU kemarin, kelihatan sekali ada yang mendukung Khofifah, ada yang ke Gus Ipul. Di PWNU juga begitu, tapi begitu selesai Pilgub, tidak ada ketegangan, nyantai saja semuanya.

Bukankah pembelahan dua kubu kiai NU yang mendukung Khofifah dan elite PWNU rentetan panjang mulai Muktamar 2015 di Jombang, bahkan sejak di Makassar 2010?
Pembelahan itu nyaris dirasakan, bagi orang-orang itu diketahuilah. Tapi selama ini lihat saja apa ada gejolak yang signifikan di antara mereka, enggak juga.

Dulu Gus Dur dengan Abu Hasan pembelahannya malah luar biasa. Tapi sekali lagi, di antara kiai-kiai NU itu punya etika yang luar biasa, untuk tidak mengumbar rasa tidak enak di antara mereka menjadi permusuhan yang terbuka dan membelah.

Itu juga kita rasakan sekarang. Mulai dari kepengurusan PWNU sampai bawah tidak kita rasakan ada pembelahan di NU. Kalau orang kecewa itu wajar.

Jadi apa yang harus dilakukan elite PWNU, setelah melihat kenyataan yang menjadi gubernur Khofifah dan bukan Gus Ipul yang mereka usung?
PWNU harus menerima, apalagi NU bukan Parpol. Pertama, preferensi politik masing-masing kiai ketika ngomong NU harus tunduk pada statuta NU, bahwa NU bukan Parpol. Kedua, selesai Pilgub, siapapun orang NU harus menerima kenyataan bahwa yang menjadi gubernur adalah Khofifah.

Ketiga, sekalipun kemarin menganggap Khofifah bukan representatif NU untuk maju Pilgub Jatim, tapi tidak ada satu pun orang yang menolak bahwa faktanya Khofifah itu kader NU.

Saya rasa sekarang para kiai harus menjadi bapak kembali yang merangkul siapa saja, anak-anaknya, dengan baik dan menerima kenyataan dan itu akan menjadi dewasa.