Khofifah, Gubernur Jatim Pertama Peduli Petani Porang!

Mobil yang ditumpangi Khofifah menuju kawasan desa hutan di Desa Bendoasri, Nganjuk. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Mobil yang ditumpangi Khofifah menuju kawasan desa hutan di Nganjuk. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

15 kilometer menyusuri jalan hutan yang rusak parah. Khofifah, gubernur Jatim pertama yang peduli dengan petani tanaman porang.

MINGGU sore, 10 Maret 2019. Mobil Toyota Fortuner warna hitam bernopol L1 yang ditumpangi Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa berjalan lambat. Jalanan yang sempit, rusak parah dan becek di sejumlah ruas, membuat mobil beberapa kali sempat oleng.

Sesekali juga harus terhenti dan menepi, saat berpapasan dengan pick-up pengangkut jerami. Belum lagi harus menghindari sepeda motor yang terparkir ‘sembarangan’, hingga aktivitas warga menimbang padi hasil panen di pinggir jalan.

Lega! Setelah menempuh perjalanan ekstrem sejauh 15 kilometer selama 1 jam 30 menit, akhirnya gubernur perempuan pertama di Jatim itu tiba di kawasan hutan Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Kehadiran Khofifah, selain untuk mengunjungi masyarakat desa hutan juga meninjau pembudidaya tanaman porang yang dikelola Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Artomoro dan LMDH Trimulyo, binaan Dinas Kehutanan Jatim dan Perum Perhutani.

200-an orang anggota LMDH Artomoro dan LMDH Trimulyo serta masyarakat desa hutan BKPH Tritik KPH Nganjuk, menyambut luar biasa kehadiran Khofifah. Apalagi mantan Menteri Sosial itu tercatat sebagai gubernur Jatim pertama yang mengunjungi tempat tersebut.

Saking suka citanya, Ketua LMDH Artomoro, Rianto menyebut kunjungan Khofifah sebagai sejarah bagi masyarakat desa hutan di wilayah KPH Nganjuk. “Ini sejarah dan kebanggan bagi kami yang dirawuhi (dikunjungi) Ibu Gubernur,” kata Rianto.

“Perjalanan ke sini dari kota 1,5 jam dengan kondisi yang jalannya seperti itu (rusak). Kami senang Ibu Gubernur menyapa kami langsung, biasanya kami dipanggil ke Surabaya sekarang malah gubernur yang datangi kami,” sambungnya. 

Hal senada disampaikan Kepala Desa Bendoasri, Dudung Kuswanto. Selain Khofifah, sebenarnya ada pejabat tinggi lain yang pernah datang, yakni Dahlan Iskan waktu menjabat Menteri BUMN. “Tapi kalau untuk gubernur, ya baru Bu Khofifah ini yang datang ke sini,” katanya.

Waktu itu, kata Dudung, kehadiran Dahlan juga melakukan pertemuan dengan petani porang. “Tapi follow up dari kegiatan itu, untuk bagaimana kelanjutan porang dan masa depannya belum clear sampai sekarang,” katanya.

Tak hanya Dahlan, Dudung juga menyebut 10 kepemimpinan Soekarwo tak ada kepedulian dengan budidaya porang. “Kalau untuk program lain ada, tapi khusus porang, belum! Pakde Karwo juga belum pernah ke sini, gubernur ya baru Bu Khofifah ini,” jelasnya.

Apakah Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga pernah datang ke sini? “Belum, belum. Waktu itu kami sempat mengundang untuk menghadiri festival tahunan (semacam hajatan desa) tapi enggak datang. Enggak ada jawaban mengapa tidak datang,” ucapnya.

Produk Unggulan Jatim

Khofifah meninjau budidaya tanaman porang di kawasan hutan Nganjuk. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Khofifah meninjau budidaya tanaman porang di kawasan hutan Nganjuk. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

Porang merupakan produk unggulan Jatim yang hampir seratus persen hasilnya diekspor. Tanaman jenis umbi-umbian ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung di Jepang. Lalu kosmetik, penjernih air, bahan pembuatan lem hingga jelly. 

Sayangnya, tanaman yang dikelola LMDH Artomoro dan LMDH Trimulyo ternyata masih banyak ditemukan masalah, terutama hama. Karena itu Pemprov Jatim siap memfasilitasi.

“Pertama, porang ini komoditas yang banyak orang tidak ketahui, tapi ini sebenarnya adalah keunggulan Jatim dan hampir seratus persen di ekspor,” kata Khofifah.

“Maka saya harap kataknya, biji yang nanti bisa ditanam lagi,  jangan sampai dilepas ke luar. Sehingga kita akan fokus porang ini sebagai produk unggulan Jatim,” tegasnya.

Khofifah bahkan segera menyiapkan regulasi, terkait pelarangan pengiriman ekspor biji atau kataknya yang digunakan untuk pembudidayaan tanaman porang.

Selama berbincang dengan para petani porang, Khofifah banyak dicurhati tentang masalah penyakit yang kini menyerang porang, sebab dampaknya bisa menurunkan 75 persen produksi.

Jika semula per hektar bisa menghasilkan sebanyak 15 ton, gara-gara hama yang tidak diketahui petani itu, produksi panen maksimal hanya tersisa lima ton per hektar. 

Khofifah juga menugaskan kepala Dinas Kehutanan untuk bertemu dengan tim dari Universitas Brawijaya agar mengaktifkan studi porang. Termasuk mengirim tim kalau ada yang mau melakukan penelitian untuk S1,  S2 bahkan S3 kajian khusus porang.

“Kita memang sudah dalam komitmen akan bertemu tim dari Universitas Brawijaya, sehingga kita punya center of excellent untuk porang dan mengatasi masalah  petani,” katanya.

Memang, sampai saat ini petani belum bisa melakukan apapun terhadap hama  di tanaman porang, lantaran belum ada yang mengkaji hama  tersebut dan obat yang tepat.

Selain itu, guna fasilitasi para petani porang pasca panen, Khofifah siap mengirimkan bantuan berupa slicer atau perajang dan juga oven untuk pengering, agar meningkatkan nilai ekonomis porang saat dijual ke pengepul atau konsumen.

“Selama ini petani kerap mengalami kesulitan mengeringkan porang. Padahal harga jualnya saat kondisi kering bisa mencapai lima kali lipat,” tandasnya.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Pemprov Jatim