Khofifah Ajak Parpol Pengusung Seser 19,8% Pemilih Bimbang

SILARURAHIM KHOFIFAH-GOLKAR: Cagub Khofifah disambut Zainuddin Amali dalam bersilaturahim dengan pengurus DPD Partai Golkar Jatim, Selasa (29/5). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SILATURAHIM KHOFIFAH-GOLKAR: Cagub Khofifah disambut Zainuddin Amali dalam silaturahim dengan pengurus DPD Partai Golkar Jatim, Selasa (29/5). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Seluruh lembaga survei nasional kredibel — termasuk Poltracking, Populi Center, CSIS (Centre for Strategic and International Studies) dan Alvara Research Center — sejak awal Mei lalu mengunggulkan pasangan Khofifah-Emil Dardak bakal memenangi Pilgub Jatim 2018.

Meski demikian, undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan alias masih bimbang) masih tinggi, 19,8 persen atau sekitar 6 juta dari total 30.155.719 Daftar Pemilih Tetap (DPT).

“Sekitar 6 juta ini potential voters yang belum menentukan posisi pilihannya, namun ada juga yang sudah menentukan pilihan tapi masih mungkin berubah,” kata Cagub Khofifah Indar Parawansa saat bersilaturahim dengan pengurus DPD Partai Golkar Jatim, Selasa (29/5).

• Baca: Golkar Ajak Muslimat NU ‘Habis-habisan’ Menangkan Khofifah

Kehadiran Khofifah disambut langsung Plt Ketua DPD Partai Golkar Jatim, Zainudin Amali dan para pengurus serta sejumlah anggota DPR RI dan DPRD Jatim dari Fraksi Golkar.

Sedangkan Khofifah ditemani KH M Roziqi (ketua tim pemenangan Khofifah-Emil), KH Zahrul Azhar Asad alias Gus Hans dan Dwi Astuti (keduanya jubir) serta Arie Kusuma (ketua Sekber relawan).

Khofifah menambahkan, lantaran undecided voters masih tinggi, dia mengajak seluruh kader Parpol pengusung untuk “menyisir” dan “menyeser” para pemilih bimbang tersebut.

• Baca: Ketum Golkar: Khofifah Gubernur, Jokowi Dua Periode

“Kalau menyisir itu yang agak besar-besar, dan menyeser yang kecil-kecil kita ambil semua,” tandasnya, sembari menambahkan apalagi anggota DPR RI, DPRD provinsi maupun DPRD kabupaten/kota mau reses.

“Ini menjadi momen yang sangat penting, untuk bisa terus mengkomunikasikan dengan potential voters yang belum menentukan pilihan atau yang masih kemungkinan pindah pilihan,” paparnya.

Jika dihitung mulai hari ini sampai dengan hari efektif kampanye 23 Juni 2013, papar Khofifah, maka paslon tinggal punya sisa waktu 25 hari. Itupun belum termasuk Hari Raya Idul Fitri.

• Baca: ‘Balas Jasa’, Golkar Minta Idrus Marham Menangkan Khofifah

“Kalau dibilang pendek ya pendek, tapi waktu yang pendek pun bagi kita semua insyaallah cukup kalau setiap event disinergikan dengan aktivitas bapak/ibu di Dapil masing-masing yang berjalan maksimal,” katanya.

“Kita nunut pada 27 Juni bisa berseiring untuk memenangkan paslon nomor satu. Termasuk memanfaatkan mudik satu dua hari nanti, menjadi bagian penting kalau silaturahim yang kita lakukan menjadi penguatan untuk paslon nomor satu.”

SAMBUTAN HANGAT: Anggota DPR RI dan DPRD Jatim dari Fraksi Golkar menyambut hangat kehadiran Cagub Khofifah, Selasa (29/5). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TURUN SAMBUT KHOFIFAH: Anggota DPR RI dan DPRD Jatim dari Fraksi Golkar menghadiri silaturahim Cagub Khofifah dengan Partai Golkar Jatim, Selasa (29/5). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Menurut Khofifah, banyak forum strategis yang bisa disinergikan. Dia mencontohkan acara Ormas yang dipimpinnya, Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Tulungagung dengan sponsorship tunggal, yakni Partai Golkar.

“Saya melihat ada strong partnership yang menjadi bagian strategis, bahwa 27 Juni 2018 (coblosan Pilgub Jatim) akan  menjadi tahapan yang berseiring dengan 17 April 2019 (coblosan Pemilu 2019),” ucapnya.

• Baca: Golkar: Menangkan Khofifah atau Pencalegan Terganjal

Dua hal penting itu, tambah Khofifah, bagaimana menjadi rajutan strong partnership seluruh elemen, karena bukan hanya Parpol tapi juga Ormasnya.

“Hasta Karya-nya Golkar, misalnya, ini akan menjadi bagian yang berseiring untuk bisa terus melakukan penguatan di potentitial voters yang mungkin belum menentukan pilihan, floating dan seterusnya,” jelas mantan Menteri Sosial tersebut.