Gus Hans, Mbah Moen dan Kisah ‘Keran’ di Muktamar NU

KERAN KEBUNTUHAN NU: Gus Hans (kanan) bersama Mbah Moen di kediaman Aksa Mahmud di sela Muktamar NU 2000. | Foto: Dok Gus Hans
KERAN KEBUNTUHAN NU: Gus Hans (kanan) bersama Mbah Moen di kediaman Aksa Mahmud. | Foto: Dok Gus Hans

SURABAYA, Barometerjatim.com – KH Maimun Zubair — akrab disapa Mbah Moen — begitu dihormati, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Kepergiannya pun meninggalkan duka mendalam, termasuk dirasakan tokoh muda NU, KH Zahrul As’ad Umar alias Gus Hans.

Dalam kenangan sekaligus kesaksian Gus Hans, pengorbanan Mbah Moen untuk NU begitu besar. Bahkan pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang, Rembang, Jateng itu bersedia menjadi ‘keran’ kebuntuhan agar tidak terjadi perpecahan di kalangan Nahdliyin saat Muktamar ke-32 NU di Makassar, Sulawesi Selatan, 22-27 Maret 2010.

Waktu itu, tutur Gus Hans, suasana pemilihan ketua tanfidziyah dan rais aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sangat keras. Gus Hans ingat betul wajah-wajah elite politik Nahdliyin yang sekarang ini sedang beken, berteriak-teriak menghujat (almarhum) KH Hasyim Muzadi.

“Dengan kata-kata yang tidak pantas. Saya sampek ngelus dodo (mengelus dada). Keterlibatan pihak istana pada saat itu cukup terasa dalam proses di balik layar,” kata Gus Hans, Selasa (6/8/2019).

Nah, di sela berkesempatan makan malam di rumah Aksa Mahmud, pengusaha pendiri Bosowa Corp yang juga politikus, Gus Hans memberanikan bertanya pada Mbah Moen.

“Kiai, nopo jenengan (apa anda) berkenan untuk maju menjadi rais aam jika dikehendaki oleh muktamirin (peserta muktamar) sebagai jalan keluar dari kebuntuan?” tanya cendikiawan NU yang namanya masuk bursa Pilwali Surabaya 2020 tersebut.

Saya ini, jawab Mbah Moen seperti ditirukan Gus Hans, “Siap menjadi keran yang diperlukan untuk membuka aliran air mampet, yang akan berpotensi mengakibatkan pecahnya pipa karena tekanan air yang kuat.”

Luar biasa! Gus Hans sama sekali tidak melihat raut ambisi dan menginginkan jabatan rais aam dari wajah sejuk Mbah Moen. “Yang beliau pikirkan adalah keutuhan NU. Allahummaghfirlahum Mbah, panjenangan estu piantun sae (anda benar-benar orang baik),” katanya.

Mbah Moen meninggal dunia di Makkah pada usai 90 di Tanah Suci Makkah. Jenazah kiai yang juga ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu akan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la, setelah dishalatkan di Masjidil Haram.

» Baca Berita Terkait Gus Hans, Mbah Moen