Kamis, 11 Agustus 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Gus Hans: Jangan Beri Harapan Irasional soal Herd Immunity!

Berita Terkait

KRITISI SOAL HERD IMMUNITY: Gus Hans, herd immunity masih jauh, jangan beri masyarakat harapan irasional. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KRITISI SOAL HERD IMMUNITY: Gus Hans, herd immunity masih jauh, jangan beri harapan irasional. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Zahrul Azhar Asumta M.Kes meminta pemerintah tak memberi harapan irasional kepada masyarakat terkait capaian herd immunity alias kekebalan kelompok.

“Para penangung jawab Covid-19 di pusat atau di daerah, tidak perlu memberikan harapan yang tidak rasional kepada masyarakat,” katanya kepada Barometerjatim.com, Senin (9/8/2021).

“Fokus saja pada ketercapaian target vaksin. Silakan berisik untuk kegiatan promotif dan preventif, tapi perbanyak kerja dalam senyap dalam hal vaksin dan kurasi,” tandas lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang akrab disapa Gus Hans itu.

Ya, belakangan, istilah herd immunity menjadi perbincangan lantaran menjadi target untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19.

Di Jatim, Gubernur Khofifah Indar Parawansa bahkan mengklaim dua daerah di wilayah yang dipimpinnya, Kota Mojokerto dan Kota Surabaya, sudah masuk herd immunity lantaran capaian vaksinasinya mencapai 70 persen.

Herd immunity masih jauh. Fokus saja pada perbanyak jumlah nakes dan faskes, dan yang tidak kalah penting apresiasi para nakes yang setiap hari bertaruh nyawa dengan insentif yang cukup,” ucap Gus Hans.

Memang, lanjut Gus Hans, di awal-awal pandemi Covid-19 pemerintah terkesan malu-malu menyampaikan herd immunity karena konsep itu masih menyeramkan dan mudah diserang dengan isu ‘pembiaran’ negara terhadap nyawa rakyatnya mengingat belum ada kepastian vaksin.

Herd immunity, terang Gus Hans, bisa terjadi jika ada dua hal. Pertama, adanya vaksin. Kedua, persentase keterpaparan dari total jumlah penduduk.

“Untuk terjadinya herd immunity tanpa adanya vaksin, maka 60-80 persen dari total jumlah penduduk harus terinfeksi virus Covid-19. Itu artinya risiko kematian sangat tinggi,” katanya.

Kalau penduduk Indonesia saat ini 268 juta, maka untuk mencapai herd immunity alamiah sekitar 160–215 juta penduduk harus terinfeksi. Sisanya yang tidak terinfeksi akan terlindungi.

Dari penduduk yang terinfeksi tersebut, kemungkinan yang akan meninggal dengan Case Fatality Rate (CFR) 5,7 persen yakni 9,1 juta hingga 12,2 juta penduduk.

Alhamdulilah sekarang sudah tersedia beberapa pilihan vaksin, maka opsi herd immunity alamiah yang menyeramkan tersebut semoga tidak terjadi,” ujar pria yang juga pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang tersebut.

Namun permasalahannya, tandas Gus Hans, yakni pada efikasi vaksin. Berbagai sumber mengatakan, efikasi vaksin yang ada sekarang ini tidak optimal karena hanya sekitar 65 persen.

Lantas, apakah dengan efikasi yang tidak optimal tersebut pemerintah masih mematok vaksinasi 70 persen untuk mencapai herd immunity?

Menurut Gus Hans, mestinya makin rendah efikasi pada vaksin, maka makin ditingggikan jumlah persentase yang divaksin untuk menurunkan probabilitas keterpaparan.

“Pemerintah harus realistis atas efikasi vaksin yang tidak optimal ini, dan mempertimbangkan peningkatan jumlah minimum yang divaksin bukan lagi hanya 70 persen tapi bisa ditingkatkan menjadi 90 persen,” katanya.

“Itu untuk mengurangi probabilitas keterpaparan, karena pada kenyataannya ada yang sudah divaksin dua kali masih saja terpapar,” tuntas Gus Hans.

» Baca Berita Terkait Herd Immunity

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -