Gus Hans: Corona Terlalu Besar untuk Dihadapi Risma Sendirian

JANGAN SENDIRIAN: Gus Hans, wabah Corona di Surabaya terlalu besar diselesaikan Risma sendirian. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JANGAN SENDIRIAN: Gus Hans, wabah Corona di Surabaya terlalu besar dihadapi Risma sendirian. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawasa memberi perhatian khusus terhadap penanganan virus Corona (Covid-19) di Surabaya. Maklum, jumlah pasien positif sudah mencapai 945 kasus atau 49,34 persen dari total kasus positif di Jatim.

Langkah ekstra pun disiapkan Khofifah dan Forkopimda Jatim, yakni bakal menurunkan Tim Pengampu dan Tim Asistensi termasuk menerapkan Kampung Tangguh Malang di sejumlah RW di kota yang dipimpin Tri Rismaharini alias Risma tersebut.

Inikah pertanda Risma kurang cepat tanggap dalam menangani Corona di Surabaya? Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Zahrul Azhar Asumta M.Kes memandang apa yang dilakukan Khofifah adalah bentuk keseriusan dari pihak provinsi untuk menyelesaikan masalah Corona secara bersama-sama.

“Pihak siapa pun tidak akan mampu menghadapi ini sendirian, perlu kerja sama semua pihak dan lapisan, semua lapisan birokrasi pasti ada plus minusnya,” katanya pria yang akrab disapa Gus Hans tersebut, Sabtu (15/5/2020).

Pemprov tak mungkin langsung melakukan hal yang terlalu teknis karena itu domainnya Pemkot, dan pihak kota/kabupaten pun tidak akan mampu berjalan sendiri tanpa support dari provinsi,” sambungnya.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut juga melihat Risma sudah maksimal, sesuai dengan kemampuannya dalam menghadapi Covid-19.

“Tapi masalah ini terlalu besar untuk dihadapi sendiri. Karena itu pelibatan perangkat yang paling bawah (RT/RW) akan menjadi sangat penting dalam penerapan protokol hingga lapis bawah,” ucapnya.

Bagaimana dengan perpanjangan Penetapan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya memutus penyebaran Covid-19?

Menurut Gus Hans, PSBB tidak akan efektif selama masih berjalan top down. Kesadaran harus terbangun bersama-sama pada semua lapisan.

“Bisa jadi masyarakat sudah mental block (menolak) terhadap program ini, karena yang dibayangkan terlebih dahulu adalah permasalahan di depan mata: Kelaparan!” tandas Gus Hans.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona