Selasa, 25 Januari 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Face Off Jl HOS Cokroaminoto, Sugiri: Kami Tak Tiru Jogja!

Berita Terkait

EKOSISTEM LEBIH HIDUP: Giri Sancoko, face off Jalan HOS Cokroaminoto bikin ekosistem lebih hidup. | Foto: Barometerjatim.com/IST
EKOSISTEM LEBIH HIDUP: Giri Sancoko, face off Jalan HOS Cokroaminoto bikin ekosistem lebih hidup. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
- Advertisement -

PONOROGO, Barometerjatim.com – Belum genap tujuh bulan — dilantik Jumat, 26 Februari 2021 — menjabat Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko langsung meroket sebagai salah satu kepala daerah yang berpikiran out of the box.

Sejumlah terobosan wow dilakukan, termasuk menyulap Jalan HOS Cokroaminoto menjadi lebih eksotis dengan dana Rp 4,6 miliar non APBD. Sekilas, perubahannya mirip Malioboro. Namun Sugiri menolak disebut meniru jalan di Yogyakarta tersebut.

“Kami tidak meniru Jogja, tapi setidaknya menajemennya bagaimana membuat ekosistem bisa hidup. PKL hidup, kemudian pengamennya juga mempunyai martabat,” katanya kepada Barometerjatim.com, Sabtu (18/9/2021).

“Pengamen itu tidak sekadar meminta-minta, tetapi harus menyuguhkan karya, menyanyi dengan lantunan yang enak. Artinya dia harus tampil kaffah dan mengalahkan dirinya sendiri. Itu pengamen,” tandasnya.

Tak hanya membuat Jalan HOS Cokroaminoto lebih eksotis, Sugiri juga akan membuat Monumen Reog di bekas pertambangan Gunung Kapur Sampung. Kawasan tersebut, sekaligus akan dibangun Museum Peradaban Ponorogo.

Mengapa poinnya peradaban? Menurut Sugiri, menilik ke belakang Ponorogo merupakan kota budaya yang sudah memulai peradaban lebih baik dan lebih dulu.

“Ketika saya masih SD, sudah ada sekitar tujuh kampus yang tumbuh di Ponorogo. Artinya, ketika daerah lain belum ada kampus, Ponorogo sudah duluan beradab,” ujarnya.

Begitu pula soal pendidikan di pesantren, Ponorogo bahkan memiliki pesantren tertua di Tanah Air, yakni Pesantren Tegalsari atau sering disebut juga Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari.

Pesantren yang terletak di Desa Tegalsari Kecamatan Jetis tersebut didirikan Kyai Ageng Hasan Besari pada 610 Masehi, abad ke-18 sampai abad ke-19.

“Bahkan induk NU (Nahdlatul Ulama), kurikulum pesantren, banyak yang menginduk dari Tegalsari waktu itu. Dari Tegalsari kemudian lahirlah pesantren-pesantren besar yang kemudian tumbuh di Indonesia,” papar Sugiri.

Bisa dibilang, kata Sugiri, pesantren manapun tokoh hebat dulu pernah berguru ke Tegalsari, termasuk Pangeran Diponegoro dan Ronggowarsito. Bahkan Gus Dur disebutnya salah satu cucu kesekian dari Kyai Hasan Besari.

“Artinya memang pesantren tua, di sini kota tua yang beradab. Bahkan HOS Cokroaminoto lahir dari Ponorogo, memang orang Ponorogo,” tandas bupati yang mantan anggota DPRD Jawa Timur itu.

“Makanya saya berpikir, kalau kota tidak disesuaikan dengan martabat kota lama yang adiluhung itu, maka kita ketinggalan zaman. Dipikir kita tidak mengerti leluhur,” sambungnya.

Langsung Lari Kencang

NYAMAN: Face off Jalan HOS Cokroaminoto, terdapat street furniture bangku taman untuk memberi kenyamanan warga. | Foto: IST
NYAMAN: Face off Jalan HOS Cokroaminoto, terdapat street furniture bangku taman untuk memberi kenyamanan warga. | Foto: IST

Nah, kata Sugiri, sekarang tugasnya adalah bagaimana kota dan citra yang beradab masa lalu, diproyeksikan ke masa kini dan kemudian untuk masa depan anak cucu. Salah satunya, yakni menata kota yang baik.

“Saya dilantik duit belum ada. Duit dari mana wong baru dilantik. Akhirnya saya menabuh gendang gotong royong membangun jalan, membangun peradaban. Dilantik langsung lari kencang,” katanya.

“Ini Non APBD. Dari CSR, bantuan dari kawan-kawan, NU, Muhammadiyah, pesantren, masyarakat, bank-bank, organisasi, jadi Jalan HOS Cokroaminoto yang sekarang. Ini miliknya masyarakat, saya hanya menjadi dirigen dari ritme gotong royong yang sesungguhnya sudah ada di benak dan akar kita.”

Bagi Sugiri, pembangunan jalan dan lainnya penting untuk membangun peradaban. Karena itu dia menulis dalam prasasti kecil, bahwa tugas hidup itu ada dua. Pertama, harus meneladani hal yang baik dari leluhur. Kedua, harus mewariskan yang terbaik kepada generasi penerus dan kehidupan.

“Dua itu dicatat, saya pikir kalau manusia tidak lagi takut dosa, tapi akan malu ketika berbuat tidak baik,” tuntasnya.

LEBIH EKSOTIS: Jalan HOS Cokroaminoto, lebih eksotis dan ekosistem lebih hidup setelah di-face off. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
LEBIH EKSOTIS: Jalan HOS Cokroaminoto, lebih eksotis dan ekosistem lebih hidup setelah di-face off. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Ponorogo

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -