Doakan Syuhada, Ketua Gerindra Jatim Tahlil Bareng NU Surabaya

DOAKAN SYUHADA: Anwar Sadad (tengah) hadiri di acara Haul Syuhada yang digelar PCNU Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
DOAKAN SYUHADA: Anwar Sadad (tengah) hadiri di acara Haul Syuhada yang digelar PCNU Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad memilih memperingati Hari Pahlawan dengan menghadiri acara Haul Syuhada di kantor Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, Kamis (11/11/2021) malam.

Selain Sadad, acara juga dihadiri seluruh jajaran pengurus. Mulai dari Dr KH Muhibbin Zuhri (ketua tanfidziyah), KH Mas Sulaiman Nur (rais syuriyah), Prof Dr KH Imam Ghazali Said (wakil rais syuriyah), serta KH Muchid Murtadho dan KH Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans (mustasyirin).

“Banyak cara untuk memperingati Hari Pahlawan. Bisa tabur bunga, bisa yang lain. Saya memilih bergabung bersama NU mengadakan tahlil untuk para syuhada di sini, di tempat yang bersejarah ini,” kata Sadad.

Mengapa memilih tahlil bareng di kantor PCNU Surabaya? Menurut Sadad yang juga wakil ketua DPRD Jatim, karena peristiwa 10 November tidak lepas dari lahirnya fatwa jihad yang dikeluarkan Hadratussyekh KH Hasyim Asyari.

“Yang kemudian diputuskan sebagai resolusi jihad di tempat ini, dan Mbah Hasyim juga hadir di sini,” ucap mustasyar PCNU Surabaya tersebut.

Terlebih kalau menggunakan pendekatan sejarah, lanjut Sadad, tidak ada kronik perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia yang lepas dari NU. Setidaknya, hal itu ditunjukkan dari dua ujian bangsa ini setelah merdeka pada 17 Agustus 1945.

“Peristiwa perang Surabaya 10 november itu ujian yang kedua sebenarnya,” kata politikus keluarga Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Pasuruan yang akrab disapa Gus Sadad tersebut.

Ujia pertama, yakni satu hari setelah proklamasi kemerdekaan RI, ketika kelompok Indonesia Timur yang dipimpin Johannes Latuharhary menyatakan keberatan dengan sila pertama Pancasila.

“Hanya karena kebesaran hati dari Hadratussyekh akhirnya sila pertama itu diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, karena Pancasila dianggap tidak bertentangan dengan syariat Islam,” katanya.

Ujian kedua, lanjut Sadad, yakni pada Oktober dan November 1945. Ketika Indonesia sudah merdeka datanglah tentara Inggris yang mengultimatum arek-arek Surabaya supaya menyerahkan senjata.

Dan jawaban dari arek-arek Surabaya akhirnya menjadi satu peristiwa yang epic, ikonik, yang dicatat sejarah sebagai perang dahsyat dan karena itu Surabaya sampai hari ini ditahbiskan sebagai Kota Pahlawan.

“Jadi ada ujian penting kemerdekan kita ini dan semuanya hanya karena kiprah, motivasi, semangat, spirit, yang disampaikan tokoh-tokoh NU, terutama Hadratussyekh KH Hasyim Asyari sehingga Indonesia tegak berdiri,” katanya.

» Baca Berita Terkait Gerindra