Dari Gresik, Emil Beber Arah Industri Masa Depan Jatim

POLOWIJO GRESIK: Cawagub Jatim, Emil Dardak melakukan kunjungan ke PT Polowijo Gosari Group, Gresik, Rabu (4/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
POLOWIJO GRESIK: Cawagub Jatim, Emil Dardak melakukan kunjungan ke PT Polowijo Gosari Group, Gresik, Rabu (4/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

GRESIK, Barometerjatim.com – Semakin hari, semakin banyak saja ide-ide brilian yang dilontarkan Cawagub Jatim nomor urut satu, Emil Elestianto Dardak dalam menata Jawa Timur pasca kepemimpinan Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Terbaru, dalam kunjungannya ke PT Polowijo Gosari Group, Gresik, Rabu (4/4), doktor ahli pengembangan wilayah dan infrastruktur itu memaparkan arah industri masa depan Jatim, terutama di daerah pesisir utara agar mengutamakan nilai tambah (added value) dan re-ekspor.

Menurut Emil, Poliwijo merupakan perusahaan yang berkembang luar biasa dan mampu menjadi katalis pembangunan wilayah. “Di sini saya mendapatkan gambaran yang luar biasa, tentang kekuatan terbesar dari sebuah bangunan besar,” kata Emil yang disambut langsung founder PT Polowijo Gosari Group, A Djauhar Arifin beserta putra-putranya.

• Baca: Madura Wilayah Kaya, Janji Rp 1 Triliun Bukan Luar Biasa

Kekuatan terbesar dari sebuah bangunan besar yang dimaksud, yakni entrepreneur dari masyarakatnya dan Polowijo bisa berkembang menjadi grup luar biasa di capital market.

“Serta potensi ke depan yang mana sudah menembus batas-batas perusahaan, bahkan menjadi katalis pembangunan wilayah,” tambahnya.

Karena itu, doktor termuda lulusan universitas di Jepang tersebut menegaskan, jika perekonomian Jatim ingin benar-benar maju maka tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah semata namun harus melibatkan sektor swasta.

• Baca: Backdrop Acara Emil Viral, Panitia Tak Teliti dan Minta Maaf

“Dengan kekuatan PDRB yang ada, jika dihitung dari total anggaran kabupaten/kota di Jatim kurang lebih berkisar di angka Rp 200 triliun atau kurang lebih 10 persen dari PDRB,seharusnya bisa lebih lagi bagaimana kemudian katalisnya ini benar-benar sektor swasta,” tuturnya.

Industri ke depan, tambahnya, juga harus bertumpu pada nilai tambah dan re-ekspor. Dia mencontohkan dolomit yang diproduksi PT Polowijo Gosari Group merupakan inovasi yang mampu menjadi pupuk organik, bahkan komponen pesawat terbang yang mampu mendorong industri memiliki multiplier effect ke sektor lain.

“Inovasi dan nilai tambah ini penting,  seperti dolomit mendorong industrialisasi multiplier effect yang luar biasa, karena mendorong pupuk berkualitas tinggi kemudian mendorong sektor pertanian,” ungkap Emil.

Arah Industri Re-ekspor

REEKSPOR: Cawagub Jatim, Emil Dardak, dorong arah industri Jatim ke depan adalah reekspor. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
REEKSPOR: Cawagub Jatim, Emil Dardak, dorong arah industri Jatim ke depan adalah reekspor. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Tidak hanya itu, papar Emil, pemerintah ke depan harus menjadi katalis inovasi dan orkestrator industri di Jatim. Orkestrator ini berfungsi menyinergikan berbagai potensi industri yang ada di Jatim, salah satu contoh upaya tersebut adalah Belanova (belanja inovasi daerah).

“Belanova adalah memanfaatkan peraturan pemerintah tentang inovasi, dimana APBD ini bisa kita manfaatkan sebagai katalis inovasi,” katanya.

• Baca: Perkuat SDM Industri, Emil: Jurusan SMK Perlu Dibenahi

Suami Arumi Bachsin itu juga memaparkan permasalahan Jatim tentang tingginya impor bahan baku industri. Ke depan, Emil ingin mendorong arah industri Jatim adalah re-ekspor, karena pasar market Asean masih sangat besar dengan jumlah penduduk 600 juta.

“Apa yang harus didorong Jatim sebisa mungkin re-ekspor. Kalaupun kita banyak mengimpor bahan baku, namun kita juga re-ekspor ke luar, misalnya ke negara-negara Asean. Dengan market 600 juta reekspor menjadi penting,” pungkasnya.