Selasa, 06 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Catatan Gus Hans Sepulang dari Makkah: Gus Men dan Pelaksanaan Haji Paripurna Pasca Corona

Berita Terkait

NYARIS SEMPURNA: Gus Hans dan Gus Yaqut, pelaksanaan haji dengan standar nyaris sempurna. | Foto: Gus Hans/DOK
NYARIS SEMPURNA: Gus Hans dan Gus Yaqut, pelaksanaan haji dengan standar nyaris sempurna. | Foto: Gus Hans/DOK
- Advertisement -

HARI INI tuntas sudah pemulangan seluruh rombongan jamaah haji. Mereka telah kembali ke tanah air. Sekalipun demikian, masih tersisa beberapa orang dalam perawatan di beberapa rumah sakit. Mereka tetap di bawah pantauan para petugas haji yang tak kenal lelah melayani para tamu Allah ini.

Saya sangat beruntung diberi kesempatan untuk bisa mendedikasikan diri melayani para tamu Allah sesuai kapasitas yang saya miliki. Dunia media adalah dunia saya. Di sinilah wilayah pengabdian dan dedikasi saya.

Lima tahun sebelumnya saya telah berhaji, tepatnya 2017. Saat itu saya ambil program Honeymoon yang sangat minim berinteraksi dengan jamah lain kecuali saat Arafah dan Mina. Kemana pun saya pergi, saya disiapkan mobil pribadi, di mana di dalamnya hanya ada saya, istri, dan sopir.

Sesekali saya menyempatkan diri berkunjung ke para sahabat yang juga berhaji dengan menggunakan jalur reguler, sehingga cukup tahu bagaimana fasilitas yang diterima saat itu.

Ada sesuatu yang saya tidak tahu terkait dengan fasilitas saat wukuf di Arafah. Yang saya tahu, para jamaah reguler sekarang disediakan tenda full AC dengan fasilitas satu kasur per seorang jamaah dan tidak berhimpitan.

Ini membuat saya kepo, apakah yang diterima para jamaah haji reguler di tahun 2017 juga sama dengan fasilitas saat ini. Saya kirim foto kondisi di Arafah sekarang kepada saudara yang menjadi jamaah regular saat itu.

Dia bertanya, “Ini tenda haji plus ya? Kok ada kasurnya?” dan bla bla bla.. Intinya, sama sekali berbeda. Sebelumnya, tidak ada kasur dan tidur berhimpitan seperti jemuran ikan.

Ketika saya menjalankan tugas untuk bertemu dengan para jamaah, ada beberapa yang sudah berhaji dan juga ada yang sudah “belanja informasi” tentang haji kepada orang-orang yang sudah berhaji. Hampir semua menyatakan kegembiraan dan bersyukur karena mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik.

Mereka kaget karena informasi yang mereka peroleh, kalau haji harus nginap di hotel dengan kualitas kos-kosan, bawa alat masak sendirI, tidak mendapat sarapan, serta berbagai informasi negatif lainnya.

Saya memang tidak melakukan riset yang mendalam terhadap pelayanan dan kinerja para petugas dan bagaimana tingkat kepuasan para jamaahnya. Akan tetapi, jiwa jurnalis saya seakan tidak membiarkan berdiam diri untuk mendapatkan info apa adanya dari para jamaah. Saya beberapa kali bertemu dengan para jamaah dengan tanpa atribut petugas sama sekali. Saya tanya apa yang mereka rasakan selama menjalankan prosesi sakral ini.

Dari belasan jamaah yang saya temui, hampir semua menampakkan ekspresi kepuasan yang tak dibuat-buat tentang pelayanan yang mereka terima. Mereka merasa at home saat di Masjidil Haram karena banyak para petugas yang tersebar di berbagai titik; merasa bangga dan percaya diri sebagai bangsa yang besar ketika melihat hampir separuh dari total luasan terminal bus hanya dikhususkan untuk jamaah Indonesia; serta puas dengan fasilitas hotel yang jauh di atas ekspektasi mereka sebelumnya.

Para jamah mungkin tidak tahu bahwa persiapan haji ini hanya dilakukan dalam waktu 45 hari efektif. Edan kan? Mepetnya persiapan ini karena menunggu kepastian dari Pemerintah Arab Saudi tentang ada atau tiadanya pelaksanaan haji tahun ini.

Bahkan seragam dan atribut petugas haji pun masih tertulis 2020, karena di tahun itu pelaksanaan haji ditiadakan dan tidak ada waktu untuk pengadaan seragam dengan waktu yang mepet.

Keputusan berani untuk mengeksekusi hajat besar dalam waktu yang singkat ini bukanlah hal yang mudah. Keputusan ini sangat berisiko. Akan tetapi pada akhirnya semua bisa dilalui dengan baik. Bahkan, jauh lebih baik dari sebelumnya.

Jika indikator keberhasilan dapat dilihat secara kuantitatif, maka yang paling bisa dilihat adalah dari jumlah kematian yang jauh lebih rendah dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

Tentu kita sama sekali tidak ingin  menggunakan “nyawa” anak bangsa sebagai alat ukur keberhasilan dari sebuah kegiatan. Akan tetapi angka ini memang jauh lebih pasti dan dapat dilihat secara mudah ketika kita melihat grafik statistik.

Keputusan Jitu Menteri Agama

Keberhasilan pelaksanaan haji tahun ini tidak akan terlepas dari model kepemimpinan pucuk pimpinan dari Kementerian Agama sebagai leading sector. Keputusan taktis Menteri Agama atau biasa dipanggil Gus Men dalam melibatkan orang-orang muda dan orang lapangan sebagai petugas haji sangat jitu .

Menurut informasi yang saya dapatkan dari para pimpinan KBIH yang tentu hampir setiap tahun mendampingi para jamaah pergi ke tanah suci, ada perubahan signifikan terhadap perilaku dan kerja keras serta nyata dari para petugas dari tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, kebanyakan petugas adalah para aktivis lapangan yang tidak biasa duduk manis di belakang meja. Mereka tidak bisa diam ketika ada yang tidak beres di depan mata. Situasi psikologis ini sangat memengaruhi pelayanan petugas kepada jamaah, di mana ini bisa dirasakan langsung oleh para jamaah.

Saya menduga informasi positif tentang petugas ini juga terdengar ke telinga Gus Men. Terbukti saat para petugas kembali ke tanah air, Gus Men beserta jajarannya langsung mengkhususkan waktu untuk menyambut  para petugas, tanpa seremoni yang menjemukan layaknya para pejabat yang mencari panggung.

Gus Men tahu apa yang harus diberikan kepada para petugas yang berjibaku tanpa lelah selama dua bulan. Gus Men dengan sabar menyalami seluruh petugas tanpa kecuali. Gus Men tahu sentuhan tangan langsung inilah yang bisa meruntuhkan rasa lelah. Sentuhan yang tak ternilai harganya.

Presepsi dan respons positif dari pelaksanaan haji tahun ini dalam benak jamaah haji saya yakin juga akan tersampaikan dan tersebar kepada handai taulan yang berziarah haji.

Ada plus minus dari ini semua, tetapi yang pasti beban Kementerian Agama sebagai pelaksana ibadah haji tahun depan akan semakin berat dengan standar “nyaris sempurna” tahun ini. Saya yakin banyak jamaah haji akan menjadikan pelaksanaan jamaah haji tahun ini sebagai “role model” dalam pelaksanaan-pelaksanaan haji berikutnya.

Padahal, dengan kembalinya kuota seratus persen serta untuk memberi kesempatan lebih kepada para calon jamaah yang berusia lebih dari 65 tahun tentu perlu penanganan dan treatment khusus.

Saya yakin ini pekerjaan rumah yang tidak mudah, butuh terobosan yang mendasar. Misalnya, lamanya para jamaah haji tinggal di Arab Saudi tidak harus sama, tapi dapat dibedakan berdasarkan usia dan hasil uji kesehatan jamaah. Bisa jadi yang berusia di atas 65 tahun dan atau yang hasil kesehatannya tidak cukup baik lama tinggalnya di Saudi cukup maksimal 25 hari saja.

Tetapi saya yakin pihak Kementerian Agama sudah menyadari hal ini dan mencari cara terbaik untuk tetap menjaga standar layanan, sebagaimana yang sudah berhasil dikerjakan tahun ini.

Akhir kata, saya ucapkan salut dan bravo  untuk Gus Men bersama jajaran pejabat dan petugas dari Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan RI yang telah menyelesaikan pelaksananya haji di pasca-Corona ini. Semoga ini menjadi legacy yang dapat dikenang di tahun-tahun berikutnya.

*KH Zahrul Azhar Asumta SIP, M.Kes (Gus Hans) adalah Wakil Rektor Unipdu Jombang; Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke redaksi.barometerjatim@gmail.com. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya.

» Baca berita Haji 2022. Baca juga Catatan Terukur Gus Hans.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -