Sabtu, 03 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Catatan Gus Hans dari Makkah: Dukun Vs Pesulap, Kapitalisasi Agama Berkedok Kearifan Lokal

Berita Terkait

SIMPEL: Gus Hans, definsi Gus itu sebutan untuk putra seorang kiai, simpel. | Foto: Gus Hans/DOK
SIMPEL: Gus Hans, definsi Gus itu sebutan untuk putra seorang kiai, simpel. | Foto: Gus Hans/DOK
- Advertisement -

AKHIR-akhir ini dunia maya Indonesia diramaikan dengan “perseteruan” antara pesulap merah dengan seorang yang oleh pengikut dan pengagumnya dipanggil “Gus”. Tokoh pertama memang seorang pesulap, sedang tokoh kedua pesulap yang menyelubungi dirinya dengan aura supranatural.

Berita ini seakan tidak merelakan ada jeda trending topic setelah para model Citayam Fashion Week kembali menjadi anak-anak Citayam seperti sedia kala. Hampir setiap hari akun Facebook saya muncul postingan tentang perseteruan dua pesulap ini.

Jika si Pesulap Merah membela diri bahwa tindakannya sekadar ingin membongkar praktik perdukunan palsu si “Gus Pesulap” yang ulahnya penuh dengan tipu muslihat, para pendukung si “Gus Pesulap” tidak kalah garangnya dalam membela tokoh panutannya. Komen para netizen menambah riuh “ruang gladiator” dunia maya.

Membicarakan praktik perdukunan antara Indonesia dengan Arab Saudi, negara yang mengklaim dirinya paling nyunnah dan anti-bid’ah ini, seperti bumi dan langit.

Jika di Indonesia perdukunan dianggap sebagai hal lumrah, di Arab Saudi perdukunan adalah bagian dari praktik sihir yang layak dihukum. Jangankan perdukunan, berdoa sambil memegang Maqam Ibrahim saja diusir dan dicap syirik oleh laskar Masjidil Haram.

Di Arab Saudi, ada hukum yang mengatur tentang sihir dengan ketat. Sihir diklasifikasi sebagai pelanggaran berat. Pelakunya terancam hukuman maksimum, yaitu pancung.

Di Arab Saudi juga ada polisi agama yang disebut Mutawa. Selain itu, Arab Saudi juga memiliki Magical Unit yang fokus memberantas praktik-praktik perdukunan di negara gurun ini.

Sekalipun demikian, praktik “kapitalisasi agama” mudah ditemukan, sekalipun ada plus minusnya. Misalnya, penerapan tasrih (izin berbayar) bagi jamaah haji lokal adalah salah satunya.

Sementara itu, Indonesia terkenal dengan negara dengan budaya dan keyakinan yang sangat beragam. Keragaman ini menjadi sebuah energi yang mampu membawa Indonesia menjadi negara besar yang memilki semboyan  “Bhinneka Tungal Ika”.

Demi mengakomodasi beragam keyakinan dan kebudayaan itu, negara berusaha memberi ruang secara leluasa setiap warganya untuk mempraktikkan keyakinan keagamaan dan kebudayaannya.

Dalam satu tahun, Indonesia memiliki beberapa hari libur, dimana jumlah hari libur terbanyak adalah hari libur keagamaan yang sampai mencapai 13 hari.

Definisi Gus Itu Simpel

Saya tidak tertarik membahas tentang “status elite” yang disematkan pada sosok si “Gus” yang sedang viral saat ini. Saat ini, siapa saja bisa mengaku Gus untuk mendapatkan privilege yang bisa dikapitalisasi.

Padahal, definsi Gus itu simpel. Gus adalah sebutan untuk putra seorang kiai. Mereka yang menyandang Gus tidak harus alim dalam bidang agama.

Sebutan Gus untuk seseorang yang bukan putra kiai adalah Gus jadi-jadian, Gus naturalisasi, baik ciptaan media maupun panggilan seenaknya dari para pengikut-pengagumnya. Ada juga orang yang mendadak Gus saat menjelang Pemilu.

Jika sebutan Gus diberikan kepada seseorang karena dia putra kiai, lalu apa yang bisa dibanggakan? Justru yang ada adalah beban moral menjaga nama besar orang tuanya sementara keemampuannya terkadang tidak dapat menjawab ekspektasi masyarakat.

Dalam kasus yang sedang viral ini, saya tidak dalam posisi menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah. Sejauh kita mengikuti beritanya, realitas di lapangan memperlihatkan bahwa masyarakat menuntut penutupan padepokan tersebut. Selalu ada kelompok pro-kontra menghadapi kasus-kasus seperti ini.

Sepengetahuan saya, kebanyakan pasien seorang dukun biasanya datang dari jauh, bukan penduduk sekitar. Bahkan, tidak banyak warga sekitar yang tahu tentang “kesaktian” tetangganya yang dianggap “orang pintar” oleh orang-orang luar.

Sikap permisif dan tepo sliro masyarakat membuat praktik seperti ini tumbuh subur di tengah-tengah kita. Terkadang, tingginya tingkat pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan rasionalitas.

Tidak sedikit orang terdidik yang menggunakan pendidikannya, justru untuk melakukan pembenaran terhadap praktik-praktik perdukunan yang ia yakini dan percayai.

Sebetulnya, praktik perdukunan ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada abad ke-17 atau sekitar 400 tahun yang lalu, di Inggris sempat dihebohkan dengan pengadilan penyihir terkenal yang terjadi di sekitar Pendle.

“Sebutan Gus untuk seseorang yang bukan putra kiai adalah Gus jadi-jadian, Gus naturalisasi, baik ciptaan media maupun panggilan seenaknya dari para pengikut-pengagumnya.”

Ini merupakan kisah yang menarik tentang dua keluarga matriarkal, yaitu Demdike dan Chattox, yang saling menghancurkan dengan tuduhan sihir. Sejumlah sejarawan saat ini percaya bahwa keluarga ini mungkin menyebut diri mereka sebagai tukang sihir.

“Bisnis permainan kepercayaan” ini memang lebih menggiurkan karena tidak perlu ada alokasi anggaran uji kompetensi, uji klinis dan penelitian. Penentuan tarifnya pun tidak ada HET (Harga Eceran Tertinggi) layaknya obat pabrikan.

Harga biasanya “seikhlasnya”, tapi tanpa penentuan batas harga tertinggi. Penghasilan tinggi ini yang dibutuhkan hanyalah kemampuan komunikasi dan teaterikal dalam meyakinkan pasien. Kemampuan yang tidak kalah penting untuk dimiliki adalah tatag melawan hati nurani.

Munculnya sosok pesulap muda berambut merah ini seakan memorak-porandakan dunia “tahu sama tahu” di antara komunitas supranatural. Beberapa bereaksi negatif terhadap tindakan si Rambut Merah, tapi ada juga yang bisa menerima.

Bagi orang awam seperti saya, keberanian si pesulap muda ini sangat membantu untuk mengedukasi masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya, apa yang ia lalukan dapat mengurangi tumbuh suburnya praktik-praktik kapitalisasi berkedok kearifan lokal yang menyeret agama dalam kubangan keprimitifan.

Sisi Gelap Peradaban

Sejarah Islam mengajarkan kepada kita bahwa kejayaan peradaan dibangan di atas keseimbangan iman dan rasio. Praktik perdukunan, apalagi jika disertai dengan penipuan, adalah sisi gelap sebuah peradaban.

Agama Islam mengajari kita untuk menjaga kesehatan secara rasional: Menjaga kebersihan, menjaga perut jangan terlalu kekenyangan, berolah raga serta melatih kesehatan hati dengan selalu bersyukur dan bertawakal.

Sejarah peradaban Islam dipenuhi dengan tokoh-tokoh yang alim dalam bidang kedokteran, misalnya Ibnu Sina, al-Razi, dan lain-lain. Mereka bukanlah dukun pandai merangkai kata dan memainkan trik-trik sulap, tapi mengobati orang sakit dengan standar medis yang canggih di zamannya.

Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhamad bukanlah sesuatu yang “wow”, dramatik, dan di luar nalar sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.

Mukjizat terbesarnya justru adalah al-Qur’an, di mana wahyu pertama adalah perintah untuk membaca (iqra’). Ini bermakna bahwa umat Muhammad harus cerdas dalam membaca sunatullah dengan logika dan nalar yang kritis.

Mari kita sertakan dalam doa-doa kita agar umat Islam menjadi umat yang cerdas dalam membaca apa yang ada di sekitar dan pandai mengambil hikmah dari setiap peristiwa.

*KH Zahrul Azhar Asumta SIP, M.Kes (Gus Hans) adalah Wakil Rektor Unipdu Jombang; Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke redaksi.barometerjatim@gmail.com. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya.

» Baca berita Haji 2022. Baca juga Catatan Terukur Gus Hans.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -