BKNU ke Pemerintah: Madura Punya Modal Jadi KEK Garam!

KEK GARAM: Nur Syahroni (kiri) dan Mahmud Mustain, Madura layak jadi KEK garam. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KEK GARAM: Nur Syahroni (kiri) dan Mahmud Mustain, Madura layak jadi KEK garam. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Badan Kemaritiman Nahdlatul Ulama (BKNU) Jatim, meminta pemerintah untuk lebih memperhatian nasib petambak garam di Madura.

Caranya? “Misalnya dengan menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) garam, yang selama ini belum ada,” kata Sekretaris BKNU Jatim, Nur Syahroni di Surabaya, Kamis (5/9/2019).

“Padahal dari zaman dulu kalau (menyebut) Madura ya Pulau Garam. Dan itu tuntutan (KEK garam) tidak mengada-ada, wajar-wajar saja,” sambungnya.

BKNU begitu memperhatikan petambak garam Madura, lanjut Syahroni, karena sebagian besar dari mereka adalah Nahdliyin alias warga Nahdlatul Ulama (NU).

“Sehingga kami sangat berkepentingan. Selain itu, dengan memberdayakan petambak garam, diharapkan secara nasional nanti mencapai ketahanan nasional di bidang pangan,” jelasnya.

Ketua BKNU Jatim, Mahmud Mustain menambahkan, keinginan agar Madura dijadikan KEK garam tidak asal karena sudah ada sejumlah bukti pendukung.

Di antaranya support dari Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terkait pusat sains unggulan di Pamekasan. Tinggal membuat kawasan baru yang lebih dibesarkan.

“Jadi sudah ada modal. Kita juga ada partner di UTM (Universitas Trunojoyo Madura) soal studi garam, itu sudah sampai kursus dan sertifikasi yang bisa dipercaya,” jelasnya.

“Saya kira itu sudah kuat bagaimana KEK garam di Madura bisa diwujudkan. Kita ingat, dari dulu Madura itu ya potensi garam dan kenyataannya sekarang ya begitu, tapi mengapa terabaikan. Ini suara rakyat Madura,” paparnya.

Konsumsi dan Industri

Lantas bagaimana soal kualitas garam? “Hasil penelitian kawan-kawan di UTM itu sudah melebihi, sudah 97 persen bahkan hampir 98 NaCL-nya (kandungan natrium klorida). Cuma saya tidak tahu kenapa kok tidak terserap,” ujar Mahmud.

Apakah karena NaCL tidak sampai 99 persen? Syahroni menjelaskan, garam itu ada dua jenis, yakni untuk konsumsi dan industri. Kalau untuk pangan NaCL 97 persen cukup, tidak perlu 99 persen.

“Tapi kalau garam untuk industri kualitasnya memang harus paling super, 99 persen. Di Madura sebenarnya bisa mencapai itu, hanya skalanya masih kecil,” ucapnya.

“Tapi kalau ada kebijakan dari pemerintah untuk mengembangkan bisa, kami bahkan sudah bisa membuat garam untuk kosmetik. Tapi ya itu tadi (saat ini) skalanya masih kecil,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Jokowi, Garam