Batal Geruduk Grahadi, PMII: Sama Sekali Tak Ada Tekanan!

BATAL GERUDUK GRAHADI: PMII Surabaya demo Dinas Pendidikan Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BATAL GERUDUK GRAHADI: PMII Surabaya demo Dinas Pendidikan Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sejumlah pamflet tersebar di grup WA sejak Senin (10/2/2020). Isinya PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya menyerukan aksi “PMII Geruduk Grahadi”, Selasa (11/2/2020) pukul 09.00 WIB.

Ada tiga tujuan aksi yang tertulis dalam pamflet, yakni membeber rapor merah 100 hari kabinet Jokowi, rapor merah kinerja gubernur Jatim, dan menolak Omnibus Law!

Namun tujuan aksi ‘berubah arah’. Alih-alih menggeruduk Grahadi seperti yang tercantum dalam pamflet, massa PMII malah mendemo Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim terkait dugaan kampanye terselubung salah satu kandidat di Pilwali Surabaya 2020.

Terkait pembatalan menggeruduk Grahadi, Ketua PC PMII Surabaya, Nurul Haqqi beralasan, pamflet itu sebenarnya hanya pancingan untuk melakukan kajian, sebelum memutuskan turun aksi dengan fokus satu permasalahan.

“Kalau pamflet itu benar-benar hanya untuk memancing teman-teman, karena PMII Surabaya itu terdiri dari beberapa kampus. Pancingan untuk teman-teman melakukan kajian, kemudian malam hari fokus pada satu permasalahan,” paparnya.

“Artinya kita harus mengundang itu untuk melakukan dialog. Apapun yang menjadi press release, itu juga menjadi kesepakataan teman-teman yang melakuan kajian selama tiga hari,” sambungnya.

Nurul menandaskan, kalau PMII menuntut banyak permasalahan, yang terjadi akhirnya malah tidak jelas dan penyelesaian permasalahan tidak tuntas. “Tapi jika ini tuntas, maka permasalahan lain yang kita kaji akan kita teruskan,” ujarnya.

Jadi murni kajian ya, bukan karena ada tekanan dari senior PMII atau pihak tertentu? “Tidak ada, tidak ada sama sekali. Jadi itu murni pertimbangan agar yang kita kawal itu benar-benar fokus,” jawabnya.

Sementara soal memilih menggelar aksi di Dindik Jatim, menurut Nurul, karena pihaknya mengantongi bukti wilayah pendidikan dibuat kampanye untuk Pilwali Surabaya 2020.

“Kita sudah mengkaji, juga sudah punya data bahwa di dalam undangannya (sosialisasi SNMPTN/SBMPTN) itu jelas mengundang dokter Gamal (Albinsaid) sebagai motivator,” katanya.

Nah, setelah dikritisi PMII, kata Nurul, pihak panitia penyelenggara langsung membuat surat yang direvisi. Tapi acara sudah terjadi, revisi hanya untuk penyeimbang seolah-olah acara belum terjadi.

“Kita sudah menemukan bukti, bahwa benar-benar dalam kegiatan sosialisasi SNMPTN/SBMPTN itu dokter Gamal hadir sebagai motivator, sehingga menurut saya pendidikan tak lagi netral. Apalagi menggunakan kop Dindik Jatim,” katanya.

Karena itu, PMII menuntut Kepala Dindik Jatim, Wahid Wahyudi agar menindaklanjutinya. Kalau memang kesalahahan tersebut dari kepala sekolah SMAN 4, harus ditindaklanjuti sesuai dengan UU netralitas ASN.

“Jika itu kesalahan kepala Dinas Pendidikan jatim, itu dibuktikan dengan ketidakmampuannya memberikan klarifikasi terhadap kami, kami menuntut agar kepal Dinas Pendidikan Jatim itu mundur,” tegasnya.

SERUAN: Pamflet PMII Surabaya yang menyerukan Geruduk Grahadi beredar di Grup WA. | Foto: IST
SERUAN AKSI: Pamflet PMII Surabaya yang menyerukan Geruduk Grahadi beredar di Grup WA. | Foto: IST

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, PMII