3 Alasan Investor Asing Ini Pilih Tanam Modal di Sumenep

BRIKET SUMENEP: Avazbek Ishbaev (kiri), investasinya di Sumenep capai 1,2 juta dolar AS. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
BRIKET SUMENEP: Avazbek Ishbaev (kiri), investasinya di Sumenep capai 1,2 juta dolar AS. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Sumenep makin seksi jadi ladang investasi, termasuk bagi perusahaan penanaman modal asing.

POTENSI besar di Kabupaten Sumenep mulai dimasuki investor asing. Salah satunya PT Panda Coco Charcoal, yang memproduksi briket dan bahan baku batok kelapa di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto.

“Investasi yang sudah kami tanamkan dalam usaha ini sejak berdiri (2017) sampai saat ini, sudah mencapai 1,2 juta dolar AS,” terang Direktur Utama PT Panda Coco Charcoal, Avazbek Ishbaev, akhir pekan lalu.

Mengapa perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) asal Uzbekistan tersebut memilih berinvestasi di Sumenep? Ini tiga alasan utama yang dibeber Ishbaev.

1. Area Terbesar di Jawa

Sumenep memiliki pohon kelapa terbanyak dan area kelapa terbesar di Jawa. Merujuk data Kementerian Pertanian (Kementan), total luas lahan area kelapa mencapai 51 ribu hektare.

Sedangkan jumlah kelapa yang dihasilkan setiap tahun sebanyak 797 juta dengan total produksi 45 ribu ton per tahun.

“Tentu ini menjadi kekuatan yang bagus bagi pengusaha yang akan mengelola kelapa, tanpa harus ragu kekurangan bahan baku ke depannya,” kata Ishbaev.

2. Tenaga Kerja ‘Murah’

Industri pengolahan kelapa memerlukan tenaga kerja tak sedikit. Di pabrik briket milik PT Panda Coco Charcoal, misalnya, ada 13 tahapan. Tenaga kerja banyak yang dibutuhkan mulai dari tanam, panen, hingga produksi.

Sedangkan UMR Sumenep 2,1 kali lebih kecil dari UMR Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan dan Mojokerto (Ring I Jatim). Hal itu bisa menjadi kekuatan atau keunggulan Sumenep untuk bersaing antarkabupaten dan provinsi dalam kegiatan pengolahan kelapa.

3. Dukungan Pelabuhan

BAHAN BAKU: Batok kelapa, bahan baku produksi briket di Sumenep. | Foto: IG Panda Coco Charcoal
BAHAN BAKU: Batok kelapa, bahan baku produksi briket di Sumenep. | Foto: IG Panda Coco Charcoal

Pelabuhan Kalianget merupakan pintu perdagangan nasional, serta dekat dengan pelabuhan internasional Tanjung Perak Surabaya.

Hal itu membuat proses pengiriman hasil produksi kelapa di Sumenep bisa mengurangi biaya yang dikeluarkan produsen.

“Faktor ini bisa dijadikan kekuatan dalam kegiatan produksi, dan pengiriman hasil pengolahan kelapa,” tandas Ishbaev.

Di sisi lain, tingginya hasil buah kelapa di Sumenep, juga memberikan peluang bagi perusahaan pemerintah maupun swasta dalam mengelola hasil kepala untuk meningkatkan pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat.

“Dengan pengelolaan serabut kelapa di daerah Lomban dan pabrik kami sebagai pengelola batok kelapa, bisa memberikan peluang bagi investor untuk mendirikan pabrik minyak goreng kelapa dan daging kelapa,” papar Ishbaev.

Jika hal tersebut terlaksana, maka akan lebih menggerakkan ekonomi masyarakat dari sektor penyerapan tenaga kerja dan peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumenep dari sektor pajak.

Melihat Tahapan Produksi

INVESTASI ASING: Briket Sumenep yang dikelola dari pabrik di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto. | Foto: IG Panda Coco Charcoal
INVESTASI ASING: Briket Sumenep yang dikelola dari pabrik di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto. | Foto: IG Panda Coco Charcoal

Terkait tahapan produksi briket di perusahaannya, Ishbaev menuturkan, proses dimulai dari pembersihan batok kelapa, lalu dimasukkan ke oven untuk menjadi arang. Berikutnya, arang dari oven didinginkan selama dua hari, kemudian dicuci dan dikeringkan kembali untuk menurunkan kadar air.

“Setelah kering, barulah arang batok kelapa  digiling dan dihaluskan untuk ukuran yang sudah ditentukan,” tutur Ishbaev.

Ketika sudah menjadi tepung, maka masuk ke tahap pengadonan, yakni pencampuran bahan-bahan tepung dengan ukuran yang sudah ditentukan. Selanjutnya dilakukan pencetakan sebanyak dua kali, dan dikeringkan menggunakan oven sampai proses pengemasan produk.

» Baca Berita Terkait Sumenep, Investasi