Waduk Tertua ‘Warisan’ Belanda, Ternyata Ada di Lamongan

PENINGGALAN BELANDA: Waduk Prijetan (Waddek Pridjetan) di Lamongan. Salah satu waduk tertua peninggalan Belanda. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
PENINGGALAN BELANDA: Waduk Prijetan (Waddek Pridjetan) di Lamongan. Salah satu waduk tertua peninggalan Belanda. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Dari 224 bendungan yang ada di Indonesia, empat di antaranya berusia di atas 100 tahun. Salah satu yang tertua yakni Waduk Prijetan (Waddek Pridjetan) yang berada di Desa Tenggerejo, Kecamatan Kedungpring, Lamongan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) M Arsyadi, saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda, Stephanus Abraham Blok di Waduk Prijetan, Rabu (4/7).

Waduk Prijetan dibangun Pemerintahan Kerajaan Belanda mulai 1910 sampai 1916 dan diresmikan pada 1917. Salah satu insinyur yang turut serta dalam pembangunan waduk tersebut yakni kakek buyut Abraham Blok.

• Baca: Seru Abis! Ngabuburit di Babat Barrage Lamongan

Histori itulah rupanya yang menjadi salah satu alasan Abraham Blok mengunjungi waduk seluas 231 hektare tersebut.

“Kakek buyut saya dulu bekerja sebagai insinyur dalam pembangunan waduk ini. Ini adalah salah satu contoh hubungan erat masyarakat Belanda dan Indonesia, serta antara pemerintah Belanda dan Indonesia,“ tuturnya.

• Baca: Kisah Pilu Seorang Warga Lamongan 30 Tahun Lumpuh

Abraham Blok menambahkan, “Ini juga menunjukkan, bahwa masa lalu dan masa sekarang bisa bersatu untuk masa depan yang lebih cerah.”

Selain itu, Abraham Blok menyampaikan Pemerintah Kerajaan Belanda juga menyediakan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di Belanda, khususnya terkait sumber daya air.

Mengairi 4.513 Ha Sawah

PENINGGALAN KAKEK BUYUT: Menlu Kerajaan Belanda, Stephanus Abraham Blok saat mengunjungi Waduk Pridjetan, Rabu (4/7). | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
PENINGGALAN KAKEK BUYUT: Menlu Kerajaan Belanda, Stephanus Abraham Blok saat mengunjungi Waduk Pridjetan, Rabu (4/7). | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

Sementara itu Bupati Lamongan, Fadeli menyebutkan, kapasitas awal Waduk Prijetan mencapai 12 juta meter kubik. Namun akibat sedimentasi, kapasitas saat ini menyisakan 9,7 juta meter kubik.

Selama ini, waduk tersebut mengairi 4.513 hektare sawah di 33 desa yang berada di tiga kecamatan, yakni Kedungpring, Sugio dan Modo.

Sedangkan untuk mendukung fungsi irigasi, Waduk Pridjetaan didukung saluran primer yang mencapai 5.176 meter dan saluran sekunder sepanjang 21.594 meter.

• Baca: Anak Bupati Fadeli Dilantik Jadi Ketua DPRD Lamongan

Fadeli menambahkan, di 2017 ada anggaran normalisasi jaringan irigasi sebesar Rp 22 miliar. Pada 2019 direncanakan ada studi penanganan sedimentasi waduk, yang akan dilanjutkan pengerukan sedimen dan konservasi daerah aliran sungai dengan anggaran Rp 112 miliar.

“Suatu saat, kami juga ingin mengunjungi Belanda untuk belajar pengelolaan sumber daya air. Semoga kunjungan Bapak Menlu di Lamongan ini meninggalkan kesan yang baik dan bermanfaat,“ katanya.

Kunjungan di tengah kawasan hutan jati itu juga dihadiri Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Rob Swartbol bersama Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Charizal A Manu.