Undang Jokowi, PWNU Jatim Tepis Istighotsah Kubro Politis

BUKAN POLITIS: Reza Ahmad Zahid, syarat acara akbar memang harus dihadiri presiden. Sementara Kiai Ma'ruf diundang sebagai sesepuh NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
BUKAN POLITIS: Reza Ahmad Zahid, syarat acara akbar memang harus dihadiri presiden. Sementara Kiai Ma’ruf diundang sebagai sesepuh NU. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan menghadiri istighotsah kubro yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim di GOR Delta Sidoarjo, Minggu, 21 Oktober 2018.

Kehadiran Jokowi membuat istighotsah rawan dicurigai politis dalam konteks kampanye, karena selain menjabat presiden, Jokowi tengah berkontestasi di Pilpres 2019. Lebih-lebih dia akan hadir bersama Cawapres pasangannya, KH Maruf Amin.

Namun Ketua Panitia Hari Santri Nasional (HSN) 2018 PWNU Jatim, Gus Reza Ahmad Zahid menepis kecurigaan tersebut karena istighotsah kubro ini menjadi agenda tahunan PWNU Jatim di setiap peringatan HSN.

• Baca: Darurat Bencana, PWNU Gelar Istighotsah Kubro di Hari Santri

“Kenapa Presiden Jokowi hadir, karena ini acara akbar. Sedangkan syarat untuk menjadi acara akbar ya RI 1 (presiden) hadir di tengah-tengah kita,” katanya.

“Kemudian Pak Jokowi hadir, karena ini juga momentum Hari Santri. Kita tahu Pak Jokowi adalah presiden yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.”

Selain itu, tandas Reza, pihak penyelenggara sudah berkoordinasi dan konsultasi dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jatim agar acara ini tetap steril dari nuansa politis.

• Baca: Konfercab PCNU Lamongan, Kiai Marzuki Cium Merah Putih

“Kami mempresentasikan rundown acaranya, maksud dan tujuan acara ini. Alhamdulillah sudah mendapatkan satu pencerahan dari Bawaslu. Sudah serujuk, sepakat dengan Bawaslu dan acara ini bisa diselenggarakan,” jelasnya.

Proteksi lainnya, panitia melarang masyarakat yang hadir membawa bendera maupun atribut partai politik (Parpol). “Kami hanya membolehkan membawa dua bendera, merah putih dan NU,” tegasnya.

Sesepuh NU, Bukan Cawapres

Sedangkan terkait kehadiran Kiai Ma’ruf yang juga Cawapres, menurut Reza, mantan rais aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu memang selalu aktif hadir di acara istighotsah maupun pengajian di Jatim.

“Terlepas beliau saat ini menjadi Cawapres atau tidak, beliau selalu aktif di Jatim untuk mengikuti acara-acara seperti ini,” katanya.

Positioning Kiai Ma’ruf di sini sebagai seorang akdemisi, sebagai sesepuh NU, sebagai mustasyar NU, bukan sebagai Cawapres. Itu yang kami posisikan beliau dalam acara ini.”

• Baca: Di Pelantikan PWNU, Gus Ipul Sebut Ada yang ‘Khianati’ Kiai

Sehingga, kata Reza, Kiai Ma’ruf diharapkan dalam acara nanti menyampaikan taushiyah maupun nasihat untuk Nahdliyin, termasuk bagaimana menyikapi musibah bertubi-tubi yang melanda negeri ini.

“Termasuk pula bagaimana menyikapi berita-berita hoax yang meresahkan masyarakat dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia. Kami akan minta saran dan nasihat dari beliau,” tuntasnya.