Tanpa Juara Liputan Mendalam, Anugerah Adinegoro Hambar!

Diskusi Anugerah Jurnalistik Adinegoro HPN 2019 di Auditorium UK Petra Surabaya. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Anugerah Jurnalistik Adinegoro — supremasi tertinggi lomba penulisan yang digelar PWI Pusat — bisa jadi tahun ini terasa hambar! Sebab, tidak ada juara untuk kategori in depth reporting (liputan mendalam) media cetak.

Keputusan dewan juri tersebut menjadi perbincangan hangat dalam Diskusi Anugerah Jurnalistik Adinegoro Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Auditorium UK Petra Surabaya, Kamis (7/2/2019).

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo (Unitomo) yang turut menjadi peserta diskusi, Prof Sam Abede Pareno mempertanyakan mengapa tidak ada juara untuk kategori tersebut. Padahal di 2019 ini merupakan tahun penuh opini, sehingga sangat penting karya in dept reporting dari jurnalis.

“Biasanya kalau sampai tidak ada pemenang, itu yang genit jurinya. Tadi dikatakan ada yang nilainya 75, kenapa tidak itu saja yang ditentukan juara. Tahun ini tahun penuh opini, tapi tidak ada pemenang untuk in depth reporting,” katanya.

Tanpa juara kategori in depth reporting, Sam Abede menyebut tahun ini tidak ada Anugerah Jurnalistik Adinegoro sesungguhnya. “Kalau tidak ada in depth reporting, ini kemunduran bagi dunia jurnalis Indonesia,” tegasnya.

Marah Sakti Siregar, salah seorang juri kategori in depth reporting mengungkap, memang dari sekian banyak pengirim naskah dan masuk nominasi tidak ada yang mendapat nilai sampai 80 dari dewan juri.

“Sebenarnya ada dua terbaik yang secara internal kami hargai sebagai pemenang, tapi bukan pemenang utama. Bukan tidak ada pemenang, tapi pemenang utamanya tidak ada,” dalihnya.

Karya Monumental

Sementara juara Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013 kategori Investigative Reporting lewat tulisan berjudul Hari-hari Runtuhnya Gang Dolly, Ahmad Ainurrofiq menyebut rasanya hambar kalau Anugerah Adinegoro tidak ada pemenang untuk kategori bergengsi tersebut.

“Hambar saja rasanya. Apalagi, kalau enggak salah, grade-nya kan sudah diturunkan dari investigative reporting menjadi in depth reporting sejak 2014. Tapi ya itu urusan dewan jurilah,” katanya saat dihubungi Barometerjatim.com, Kamis (8/2/2019).

Bagi wartawan, menurut Ahmad, Anugerah Adinegoro tak sebatas penghargaan tapi monumental dari karya jurnalistik. “Ya saya kira monumental itu, karena penghargaan tertinggi yang digelar lembaga resmi wartawan. Hadiahnya juga lumayan bagi kami yang biasa liputan,” katanya sambil tersenyum.

Namun soal mengapa tahun ini tidak ada juara kategori in depth reporting, Ahmad tidak mau berandai-andai. “Wah, saya tidak tahu, itu urusan dewan jurilah,” ucap jurnalis yang juga juara Piala Prapanca Kategori Tulis 2014 yang digelar PWI Jatim tersebut.•

» Baca Berita Terkait PWI